Suami Yang Dibenci

Suami Yang Dibenci
Mantan


Setelah di rawat 3 hari usai melahirkan, Maria kini sudah pulang dan menjalani aktifitasnya dirumah. Seluruh anggota keluarga sudah mengunjunginya ketika dirawat dirumah sakit, dan sekarang semua teman Jo dan Maria yang sudah berkeluarga datang berkunjung menyambut kehadiran malaikat kecil mereka. Tampak si kembar begitu kegirangan dengan kehadiran adik kecil mereka.


"Adik bayi laki-laki apa perempuan Daddy?" tanya Syeina memandangi adiknya yang digendong dalam pangkuan Jo


"Doamu terkabul sayang. Adik kalian laki-laki." jawab Jo kepada si kembar yang berdiri dihadapannya


"Yeeeyyy, aku punya adik laki-laki.. Horeee..." seru Syeina sambil menggenggam tangan Rachel sambil lompat-lompat kegirangan yang membuat semua orang ikut tersenyum bahagia


Jo terlihat bahagia memangku putranya disamping Maria. Tak lama kemudian semua orang pun berpamitan pulang, kecuali orang tua Jo dan Maria.


"Sekarang sudah waktunya makan siang." kata Ayah Maria


"Tak terasa hari sudah siang ya." sahut ayah Jo


"Kalau begitu ayo kita ke ruang makan." ujar ibu tiri Jo


"Ayo anak-anak, kalian harus makan siang dulu, nanti lagi lihat adik bayi." ajak ibu Maria kepada si kembar


"Iya opa, iya oma." seru si kembar kepada orang tua Maria, dan mereka pun di suapi oleh kakek dan neneknya.


"Aku senang sekali. Hari ini semua orang sangat bahagia menyambut kehadiran anak kita." ucap Jo disamping Maria yang sedang menyusui bayinya


"Iya, aku juga sangat senang. Tapi Marco dan Agnez kenapa mereka belum datang juga?" tanya Maria, mengingat hanya tinggal mereka berdua yang belum datang berkunjung.


"Mungkin mereka masih belum ada waktu sayang. Bisa saja nanti sore atau nanti malam mereka datang. Bukannya akhir-akhir ini mereka sering datang bersama. Aku jadi curiga diantara mereka ada sesuatu."


"Selama ini yang kutahu Marco itu tidak pernah serius dengan perempuan. Tapi entahlah, mungkin sekarang dia sudah berubah."


"Hmm. Semoga saja."


Percakapan mereka berakhir dengan kecupan yang mendarat di kening Maria. Jo mengantar istrinya ke kamar setelah bayi mereka terlelap.


***


Sore Harinya..


Tampak Marco sedang menggenggam ponselnya, entah berapa lama dia merenung sambil mondar-mandir. Jarinya sudah menggeser layar berkali-kali namun kemudian ia matikan kembali.


"Arrgghhh sial! Aku tinggal menelfonnya dan bicara, itu saja. Kenapa rasanya sulit sekali!"


Menghela nafas kasar, Marco pun mengambil kunci mobil dan bergegas menuju apartemen Agnez. Namun ada satu hal yang dia lupakan, dia belum tahu nomor lantai kamar Agnez. Akhirnya dia pun membanting setir menuju rumah Jo. Dan setiba disana, dia terkejut mendapati Agnez yang ternyata sudah datang terlebih dulu. Dia duduk disamping Maria yang menggendong bayinya. Juga ada si kembar yang duduk di samping ayah mereka.


"Marco." sapa Maria dengan senyum ceria


"Wah Maria.. bayimu laki-laki. Lucunya." ucap Marco yang berdiri dengan menunduk dihadapan Maria. "Siapa namanya?"


"Axelio Jonathan." jawab Jo


"Pasti kalau sudah besar, dia mirip denganmu." ucap Marco sambil memandang ke arah Jo yang dibalas dengan senyuman olehnya


"Bolehkah aku menggendongnya?" tanya Marco


"Silahkan." Maria menyerahkan putranya dengan hati-hati dalam gendongan Marco, dan sebelumnya dia meminjamkan ponselnya kepada Syeina untuk memotret dirinya bersama Agnez. Setelah mendapatkan beberapa foto, Marco kembali menyerahkan Axel kepada Maria.


"Hasil fotonya luar biasa." Marco berujar sambil melihat beberapa fotonya dengan senyum-senyum.


"Kenapa cuma ada foto kita berdua?" tanya Agnez


"Jo, apa aku boleh mengajak anak-anak ke taman bermain?" tanya Marco tanpa mempedulikan pertanyaan Agnez


"Boleh, tapi kalian jangan nakal ya. Jangan merepotkan om Marco dan tante Agnez." tutur Jo


"Iya Daddy." seru si kembar lalu mencium pipi Jo hingga kemudian mereka pergi bersama Marco dan Agnez


***


Setiba di taman bermain, suasana sangat ramai dengan adanya anak-anak yang bermain dan dijaga oleh orang tua mereka. Sementara Agnez dan Marco tengah duduk menunggu si kembar yang sedang asyik bermain.


"Dari tadi kau diam saja. Apa kau marah?" tanya Marco memulai obrolan, karena sedari lama Agnez terus melamun.


"Tidak. Apa alasannya aku marah padamu?" jawab Agnez


"Mungkin saja kau marah karena malam itu."


"Kan tidak terjadi apa-apa diantara kita."


"Kau benar. Untung saja tidak terjadi sesuatu. Kalau sampai hal itu terjadi, kau harus bertanggung jawab." ucap Marco yang langsung membuat Agnez melotot padanya


"Apa maksudmu aku harus tanggung jawab?" tanya Agnez


"Tentu saja kau harus tanggung jawab. Karena kau sudah merenggut keperjakaanku." tandas Marco


"Dalam hal ini akulah korbannya. Harusnya bukan kau yang mengatakan itu." balas Agnez tidak terima


"Tapi kau kan yang memaksaku minum." sahut Marco


"Oh.. jadi sekarang kau menyalahkanku? Apa aku memintamu untuk minum berkali-kali? Tidak kan?" balas Agnez kemudian suasana hening beberapa saat


"Tapi, apa yang kau katakan tadi benar? Kau masih... perjaka?" tanya Agnez sedikit canggung


"Iya. Kenapa? Apa kau pikir aku sudah pernah melakukan itu?" Marco balik bertanya


"Kau kan dulunya playboy. Jadi aku pikir.." Agnez menggantung ucapannya


Marco tersenyum simpul.


"Meskipun aku playboy, tapi aku tidak sampai berbuat terlalu jauh. Apa kau penasaran, tentang apa saja yang pernah ku lakukan?" tanya Marco seraya mendekatkan wajahnya pada Agnez


"Memang apa saja yang pernah kau lakukan?" tanya Agnez sedikit canggung, pada saat itu pula, Marco menatapnya intens, kemudian tatapan matanya turun ke bibir. Membuat jantung Agnez berdegup kencang.


"Kau pernah menonton drama kan? Aku rasa kau tahu apa maksudku." jawab Marco kemudian mengalihkan wajahnya dari wajah Agnez yang diam membeku.


Tanpa dugaan Marco, Agnez mengambil ponsel dari saku jaketnya.


"Hei, kembalikan ponselku!" pinta Marco gugup


"Kemarin kau juga mengambil ponselku kan? Sekarang giliranku." Agnez dengan cepat menjauh dari Marco ketika dia hendak merebut ponselnya


"Oh My.. mantanmu banyak sekali." Agnez melihat foto-foto Marco tampak mesra bersama banyak gadis


"Sini kembalikan." Marco merebut ponselnya dari tangan Agnez


"Dasar buaya darat."


"Mereka semua adalah mantan selirku. Kalau kau bersedia jadi pacarku, dengan senang hati, aku akan menjadikanmu permaisuri. Bagaimana?"


Bersambung