
Siang ini, Maria menjemput anak-anak bersama suaminya. Berhubung Jo ada dirumah, dia juga ikut menjemput kedua putrinya bersama istrinya. Saat mobil mereka tiba, sontak semua tatapan wanita yang ada disana langsung tertuju ke arah Jo. Seakan mereka tersihir akan pesona dan ketampanan yang dimilikinya. Terlihat dari sana, si kembar berlari ke arah Jo dan Maria.
"Daddy!!!" mereka langsung memeluk Jo yang sudah menyamakan posisinya pada mereka berdua
"Tumben Daddy ikut." ucap Syeina
"Iya sayang. Daddy tidak ke kantor hari ini." jawab Jo
"Kenapa?" tanya Syeina
Lagi-lagi pertanyaan Syeina yang bertubi-tubi membuat Jo pusing harus memberikan alasan apa.
"Karena Daddy ingin ikut menjemput Syeina dan kakak." sahut Maria
"Owh begitu." Syeina pun percaya, sedangkan Rachel hanya diam saja dan tidak banyak bertanya seperti adiknya.
***
"Dad, apa kita mau ke taman bermain lagi?" tanya Rachel yang duduk dikursi belakang
"Tidak sayang. Kalian baru pulang dan harus segera istirahat. Tapi Daddy akan mengajak kalian ke restoran untuk makan siang." Jo menjawab sambil menyetir
"Asyik.." seru si kembar dengan riang
Mereka sangat bahagia dengan kebersamaan mereka. Tak henti-hentinya Maria mengucap syukur dalam hatinya, telah diberikan kasih sayang dan kehangatan keluarga seperti ini. Suami yang pengertian, dua anak perempuan yang lucu, dan sebentar lagi akan hadir malaikat kecil yang akan semakin melengkapi kebahagiaan mereka.
***
Memasuki usia kehamilan ke 8 bulan, perut Maria semakin membesar. Bayi makin sering bergerak. Organ-organ dalamnya sudah bekerja dan berfungsi sempurna. Jo selalu rutin mengantar Maria untuk check up ke dokter kandungan dua minggu sekali.
"Anak Daddy cepat lahir ya, Daddy sudah tidak sabar ingin gendong." Jo berucap sambil mengusap perut buncit Maria dan sesekali menciumnya
"Iya Daddy, aku juga tidak sabar ingin digendong Daddy." Maria terkekeh dengan kata-katanya, sementara Jo hanya tersenyum.
Saat ini mereka ada di ruang tamu, Jo duduk di sofa sedangkan Maria berdiri didepannya. Jo sangat senang memandangi istrinya dengan perutnya yang buncit sambil mengusap lembut perutnya dan memeluknya. Hingga suara bel pintu menginterupsi kebersamaan mereka.
"Siapa ya?" Jo berdiri kemudian menuju ke arah pintu yang terbuka
"Hallo Young Husband." sapa tamu itu diluar pintu
"Marco." Jo terkejut
Kemudian Marco pun dipersilahkan masuk.
"Sepi sekali. Dimana anak-anak?" tanya Marco
"Mereka sedang bermain di lantai dua." jawab Jo sambil menunjuk ke lantai atas
"Apa aku boleh kesana?" tanya Marco
"Silahkan. Aku akan mengantarmu kesana." perhatian Jo beralih kepada Maria. "Sebentar ya sayang." kemudian dibalas dengan anggukan dan senyuman oleh Maria
***
"Hallo anak-anak..." sapa Marco pada si kembar
"Om Marco!!" seru si kembar menyambut kedatangannya
Jo pun kembali bersama Maria setelah mengantar Marco menemui kedua putrinya yang berada di balkon kamar Rachel.
"Kalian sedang main apa?" tanya Marco
"Aku sedang bermain perang-perangan bersama Rex dan Buzz." Syeina menunjuk ke semua mainan robot-robotannya, Rex adalah boneka dinosaurus dan Buzz adalah robot astronot.
"Anak-anak ini kelihatannya selalu bersama tapi tidak pernah cocok dan kompak." batin Marco dalam hati
"Bagaimana kalau kita mainkan permainan yang lain?" seru Marco yang membuat si kembar tertarik
"Main apa om?" tanya Rachel antusias
"Hmmmm.. aha." Marco menemukan sebuah ide setelah berpikir sejenak
"Bagaimana kalau kita bermain kerajaan? Rachel jadi tuan putri, dan om yang jadi pangerannya."
"Mau-mau!" sahut Rachel dengan penuh semangat
Akhirnya mereka pun memainkan drama dengan baik yang membuat Syeina merasa kesal melihatnya.
"Putri Rachel yang cantik jelita, bersediakah kau menjadi belahan jiwaku? Permaisuriku?"
"Iya, aku bersedia Pangeran." jawab Rachel dengan anggun
"Aku mencintaimu Putri Rachel."
"Aku juga mencintaimu Pangeran Marco."
Drama itu di akhiri dengan kecupan ditangan Rachel oleh Marco dengan mata terpejam dan akting yang sangat natural. Sedangkan Syeina terlihat kesal sambil melipat tangannya di hadapan mereka.
"Wah.. akting Rachel luar biasa." puji Marco
"Akting om juga sangat bagus, benar-benar keren." puji Rachel
"Huft! Bagus apanya? Aktingku jauh lebih oke dibandingkan kakak." cibir Syeina dengan sombongnya
"Benarkah? Syeina juga bisa bermain jadi putri raja?" tanya Marco
"Kata siapa tidak bisa. Kau meragukan kemampuanku om?" balas Syeina dengan bersedekap
"Baik, mari kita buktikan." tantang Marco
Mereka pun mulai memainkan drama. Syeina tampak angkuh berdiri dihadapan Marco yang berlutut padanya.
"Wahai Putri Syeina yang cantik. Maukah kau menjadi permaisuriku?"
"Tidak semudah itu Pangeran." jawab Syeina yang membuat mata Marco membulat
"Tapi kenapa Tuan Putri?" tanya Marco sedikit gugup
"Kalau kau ingin menikah denganku, kau harus memenuhi satu syarat." ucap Syeina dengan lantang
"Emm, syarat? Katakan Tuan Putri."
"Berikan aku seratus ekor kuda dan seratus orang prajurit, juga panglima yang tangguh dan gagah berani. Dengan begitu, aku bersedia menjadi permaisurimu."
Marco tercengang.
"Kita mau menikah apa mau berperang?"
Di tengah asyiknya mereka bermain, Jo dan Maria sedang bersenda gurau di ruang tamu. Mereka mengobrol dengan mesra dan saling bercanda. Lalu, bunyi bel pintu kembali menginterupsi kebersamaan mereka. Saat Jo melihat siapa yang datang, seketika raut wajahnya berubah. Dia terkejut bukan main mendapati seorang wanita yang kini berdiri dihadapannya.
Bersambung