
"Aku mau langsung pulang. Aku sudah tidak mood untuk minum lagi."
"Oke, mari aku antar."
Mereka pun menuju ke area parkir, Marco membukakan pintu mobilnya untuk Agnez sebelum dia masuk kedalam. Selama dalam perjalanan suasana hening. Tak ada kata yang terucap. Tak lama kemudian mereka pun sampai di depan apartemen. Agnez turun dari mobil dan berdiri menunggu sampai Marco berlalu. Namun sesaat kemudian dia buru-buru memesan taksi untuk mengejar mobil Marco.
"Cepat ikuti mobil itu."
Agnes meminta sopir taksi untuk melaju lebih cepat mengikuti mobil Marco sampai di apartemen. Setiba disana, Agnez kembali meminta sopir taksi untuk kembali membawanya pulang.
***
Keesokan malam, Marco kembali datang ke rumah Jo menemui si kembar. Pada saat itu pula Agnez juga datang kesana. Seperti sebuah kebetulan, untuk ketiga kalinya dia bertemu dengan Marco secara tidak sengaja. Agnez merasa kagum dengan sosok Marco yang begitu akrab dengan anak kecil, sikapnya tulus dan penyayang. Si kembar juga terlihat begitu nyaman ada didekatnya.
"Hari ini om akan jadi guru les kalian. Rachel, nilaimu bagus-bagus. Anak pintar." puji Marco sambil melihat nilai di buku Rachel
"Syeina, wah nilai matematikamu je..." Marco tak melanjutkan ucapannya. "Luar biasa. Kamu anak yang pintar, masih kecil sudah bisa membantu orang tua dengan menambah kebutuhan dapur." Marco terkekeh
"Apa maksudmu dengan kebutuhan dapur?" tanya Jo yang tidak mengerti ucapan Marco
"Putrimu dapat telur dalam pelajaran matematika." jawab Marco, otomatis semua tertawa, Rachel, Agnez, dan Maria, sementara Jo merasa frustasi.
"Sekarang om akan mengajari kalian main tebak gambar. Rachel, coba tebak kaki gajah ada berapa?" Marco menunjuk gambar gajah yang ada dalam buku
"Empat." jawab Rachel
"Wah salah." ucap Marco yang membuat Jo kembali heran
"Sekarang coba Syeina yang tebak. Kaki gajah ada berapa?" tanya Marco
"Ada delapan." celetuk Syeina yang membuat Jo terkejut
"Wah Syeina pintar. Tos." Marco dan Syeina saling tos dengan riang
"Hei, kau jangan ajari anakku yang tidak-tidak." Jo khawatir jika putrinya akan menganggapnya serius di mata pelajaran
Mereka saat ini ada di ruang santai, Jo, Maria, dan Agnez memperhatikan si kembar yang sedang asyik bersama Marco setelah belajar.
"Sekarang, ayo kita bermain. Enaknya main apa ya?" Marco bertanya-tanya
"Main kerajaan." seru Rachel
"Oke. Sekarang Rachel yang jadi tuan putri." pinta Marco
"Tidak-tidak, aku tidak setuju!" tolak Syeina
"Loh, kenapa?" tanya Marco
"Kakak tidak cocok jadi tuan putri. Aku yang lebih pantas jadi tuan putri." Syeina memuji diri sendiri
"Om tidak mau. Kemarin Syeina menolak om mentah-mentah, om maunya Rachel saja."
"Kau jadi kepala pasukan saja."
"Tidak mau. Masa gadis anggun sepertiku jadi kepala pasukan perang." celoteh Syeina yang mengundang tawa Jo, Maria, dan Agnez.
"Sudahlah, terima saja nasibmu." ucap Marco sambil tertawa cekikikan dengan menerima serangan pukulan dari Syeina
***
Menit demi menit terlewati, akhirnya si kembar pun tidur karena sudah waktunya jam tidur mereka.
"Maria, please lah bantu aku." Marco bicara empat mata dengan Maria di ruang tengah
"Kau jangan macam-macam Marco."
"Aku sudah tobat Maria. Sekarang aku ingin mencari kepastian. Kumohon percayalah padaku."
"Tidak." tegas Maria
Marco pun berlalu dengan muka cemberut. Dia masuk ke mobil dan melenggang pergi dari rumah Jo. Tanpa ia sadari, Agnez membuntutinya dari belakang.
Setiba di apartemen...
"Marco!!"
Agnez berlari menaiki tangga berusaha menyusul Marco dengan jaket hitam yang sudah terlebih dahulu masuk kedalam lobby gedung.
"Uugh." tertatih karena lelah berlari, Agnez tetap saja meniti tangga pintu masuk dengan terus memanggil pria pemilik rambut hitam itu.
Kakinya bergema menapaki lantai marmer gedung apartemen. Dia menggeram kesal saat tahu pria yang dikejarnya masuk kedalam lift. Barulah dia sadar, ada sebuah benda kecil bertali yang menutupi telinga pria yang dia kejar-kejar.
"Pantas saja."
Jemarinya menekan satu tombol panel yang ada diantara kedua pintu lift. Beruntung pintu lift yang lain segera terbuka. Agnez tersenyum lebar saat lift yang hanya berisi dirinya itu berhenti dilantai 30. Kakinya berjalan keluar namun kembali berlari kecil saat melihat pria yang hanya berada beberapa meter didepannya.
"Marco!!"
Pria itu tetap berjalan lurus. Agnez mengacak rambutnya frustasi. Dia merasa seperti orang bodoh saja. Didepannya, Marco sedikit menunduk untuk memasukkan password pintu apartemen yang hanya ditempatinya. Suara ting menandakan kode yang dia masukkan benar. Lagu rock masih mengalun melalui headset yang dipakainya. Dia baru saja melepas benda kecil yang menyumbat telinganya.
"Marco!!"
Dengan cepat dia menoleh saat mendengar suara dibelakangnya.
"Kau? Apa yang kau lakukan disini?" Marco terbelalak akan kehadiran Agnez
"Bolehkah aku main disini?"
Bersambung