
Keesokan harinya...
Jam dinding menunjukkan pukul 05 pagi. Maria terbangun begitu mendengar bunyi alarm. Segera dia beranjak ke kamar mandi. Setelah selesai dengan pakaian yang sudah lengkap, dia membangunkan Sasha yang masih tertidur pulas. Sasha pun terbangun dan beranjak menuju kamar mandi.
Di sisi lain, Jo masih terlelap. Dengan botol obat tidur yang selalu setia ada diatas nakas. Jo tengah bermimpi berada di suatu tempat, dia berjalan di tengah hamparan rumput yang hijau nan luas, langkahnya terhenti setelah melihat dua tangkai bunga mawar merah yang ada di depannya.
"Bunga ini cantik sekali."
Jo menyentuh kedua bunga itu dengan tersenyum, sesaat kemudian ia terbangun setelah mendengar bunyi jam beker. Dia pun duduk sambil mengucek mata. Dia masih mengingat mimpi itu, namun dia tidak terlalu memikirkannya.
***
"Maaf, cuma ada roti."
Maria saat ini sedang sarapan bersama Sasha di meja kecil yang terletak di ruang tamu.
"Tidak apa-apa, kan masih pagi."
"Tolong jangan beritahu Nancy dan Jeni tentang aku."
"Iya, jangan khawatir. Aku juga akan bilang kalau kau tidak mau cerita padaku. Tapi bagaimana perasaanmu sekarang?"
"Sudah lebih baik."
Setelah menyelesaikan sarapannya, Sasha bergegas untuk pulang. Dia naik driver online yang sudah ia pesan.
"Terima kasih ya, aku senang sekali kau mau menginap."
"Kau ini seperti dengan siapa, kita kan berteman sudah lama. Kalau begitu aku pulang ya, Bye."
***
Di ruang makan
Jo duduk di meja makan, sendirian. Dia tidak lantas memakan sarapannya, tapi memainkannya sambil melamun.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Aku menjalankan kewajibanku sebagai istri."
"Aish, menggelikan sekali."
Dia teringat kenangan bersama istrinya, ketika Maria mengambilkan sarapan untuknya.
"Jo.. sakit.. ah.."
Kedua matanya melotot, mendapati darah perawan mengalir dari milik istrinya. Kedua telinganya seolah menuli, dia tidak mempedulikan istrinya yang terus menangis dan merintih menahan rasa sakit yang dia terima. Jo melakukannya dengan kasar karena dia sangat marah dan cemburu.
"Maafkan aku."
Dia sadar telah menyakiti istrinya, dan penyesalan itu terjadi sampai sekarang.
***
J Company
Tok Tok
Dia membuka mata, setelah mendengar bunyi ketukan pintu.
"Masuk."
Seseorang yang berada diluar pun membuka pintu dan memasuki ruangan.
"Selamat pagi Bos."
"Pagi juga Sarah."
Dia adalah sekretaris di perusahaan J Company.
"Bos, anda tampak kelelahan. Saya buatkan anda kopi."
Sarah meletakkan secangkir kopi di atas meja kerja Dev.
"Duduklah."
Sarah terkejut, begitu Dev memintanya untuk duduk di kursi dan berhadapan dengannya. Sarah yang masih berdiri, dia pun segera mendudukkan dirinya berhadapan dengan Dev.
"Seperti biasa, kopi buatanmu sangat enak." ujar Dev sembari menyesap kopi buatan Sarah
"Terima kasih atas pujian anda." Sarah tersenyum bangga
Dave beralih menatap Sarah setelah meletakkan cangkir kopinya dengan tatakan putih polos ke atas meja.
"Sarah, aku ingin tanya."
"Silahkan, anda ingin tanya apa?"
"Apa kau pernah jatuh cinta?"
Deg
Seketika jantung Sarah seperti mau melompat keluar. Jantungnya berdetak cepat, untuk sesaat matanya tak berkedip menatap Dev yang menatapnya.
"Aku jatuh cinta pada seorang wanita, tapi dia sudah menjadi milik laki-laki lain. Kami saling mencintai, dan akhirnya kami berpisah karena laki-laki itu. Tapi aku juga tidak bisa melupakannya. Menurutmu apa yang harus aku lakukan?"
Hati Sarah hancur berkeping-keping, dia merasa marah, kecewa, dan sedih setelah mendengar pengakuan Dev. Selama ini dia telah menjaga hatinya untuk menunggu Bos nya ini akan membalas perasaannya suatu hari nanti. Namun sepertinya hal itu tidak akan pernah terjadi. Dev tidak pernah menyadari perhatian Sarah selama berada di sisinya.
"Maaf, saya tidak bisa memberi jawabannya. Tapi, satu hal yang saya tahu. Cinta tidak harus memiliki. Kalau kita mencintai seseorang, kita tidak harus mendapatkannya. Tapi dengan melihat orang yang kita cintai bahagia, itu sudah cukup."
Dev tercengang mendengar jawaban Sarah. Terkesan lembut dan sangat tulus saat mengatakannya.
"Jadi begitu ya, terima kasih Sarah."
Dan hal itulah yang ku rasakan padamu, Dev.
Bersambung