
...Nancy...
...
...
...Jeny...
...
...
Jo berjalan pergi meninggalkan acara itu. Semua yang ada disana saling berbisik dan bertanya-tanya tentang momen yang baru terjadi.
"Cowok tadi ganteng banget."
"Apa cowok tadi salah satu mahasiswa di kampus kita. Kayaknya aku nggak pernah lihat deh."
"Kalian dengar, cowok tadi bilang, Maria tidak bisa menerimanya? Jadi ceritanya cowok itu sudah nembak Maria tapi ditolak. Ugh sayang banget. Kalau aku jadi dia, pasti sudah ku terima dengan senang hati."
"Lagian cewek mana sih yang mau menolak cowok seganteng itu, kalau ada sih, cewek itu bodoh."
Cibiran demi cibiran dilontarkan dari sekian banyak gadis disana, sengaja untuk menyindir Maria. Dan Maria yang awalnya membeku di tempat, dia melangkah pergi keluar dari ruangan itu, mengedarkan pandangannya ke sekitar namun seseorang yang dia cari sudah menghilang.
"Jo."
Dia bergumam sembari menatap sekeliling, tanpa ia sadari airmata mengalir deras di pipinya.
Kenapa ini, hatiku sakit sekali. Apa yang terjadi padaku.
Dari dalam ruangan, ketiga sahabatnya berjalan cepat menyusulnya diluar.
"Maria, siapa sih cowok tadi?" tanya Jeni
Kedua sahabat Maria bingung sambil menatap sekeliling, sementara Sasha menatap Maria yang kini berlinangan airmata.
"Maria." Sasha menepuk bahunya
Baru menyadari kehadiran sahabatnya, Maria mengerjapkan mata, lalu menyeka airmata yang membasahi pipinya.
Maria : "Aku, aku mau pulang."
Nancy : "Ayo ku antar."
Maria : "Tapi acaranya kan belum selesai."
Nancy : "Tidak apa-apa, nanti aku balik lagi setelah mengantarmu pulang."
Sasha : "Kalau begitu aku juga ikut."
Nancy : "Kau?"
Sasha : "Aku ingin menemani Maria. Saat ini kondisinya tidak baik."
Sasha bertatap mata dengan Nancy sejenak, Sasha tahu arti tatapan matanya, dia harus menceritakan semuanya, tentang apa yang terjadi. Mereka bertiga pun masuk ke mobil. Di kursi belakang, Sasha merangkul Maria yang masih menangis.
Sesampai di depan tempat tinggal Maria, Sasha ikut turun bersamanya.
"Kalau begitu aku balik ya. Bye."
Maria dan Sasha masuk ke dalam setelah Nancy melenggang pergi.
***
"Ini, minumlah." Sasha menyodorkan segelas air kepada Maria, kemudian mendudukkan dirinya di sisi ranjang.
"Terima kasih." Maria menghabiskan air itu dan menaruh gelasnya di atas nakas
"Sebenarnya, kau ada masalah apa?"
Maria menunduk, seiring airmata yang kembali tumpah.
"Sasha, jika aku cerita, kau tidak akan mengatakannya pada siapapun kan?"
"Iya, aku tidak akan cerita pada siapapun. Sekarang ceritakan padaku." pinta Sasha dengan antusias
"Cowok tadi... suamiku."
Sasha melotot, seolah-olah dia terkejut akan pernyataan Maria. Dia berusaha untuk bersikap netral seakan tidak tahu apa-apa.
"Ha!! Suami!!"
Maria mengangguk. Ia terdiam sejenak sebelum kembali mengucapkan kata-kata selanjutnya.
"Sasha, kalau kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan? Kau sudah punya kekasih, tapi di satu sisi kau harus membahagiakan kedua orang tuamu. Kau harus menikah dengan lelaki yang tidak kau cintai. Tapi di sisi lain, kau tidak bisa melupakan kekasihmu, siapa yang akan kau pertahankan?"
Sasha terkejut dengan pengakuan Maria, meskipun dia sudah mendengar penjelasan Jo, namun jika dia berpikir melalui sudut pandang Maria, dia pun bimbang harus bagaimana.
"Kami menikah atas dasar perjodohan. Suamiku juga tidak menginginkan pernikahan ini, tapi tiba-tiba semuanya berubah. Dia merenggut semuanya dariku. Aku sudah kehilangan semuanya." Maria menangis pilu
"Maria.." Sasha hanya menjadi pendengar selama sahabatnya mencurahkan seluruh isi hatinya, ia pun tidak tahu harus berkomentar apa.
"Lebih baik sekarang kau tidur saja, kedua matamu sudah bengkak karena sedari tadi kau terus menangis."
"Sasha, terima kasih kau sudah mau mendengarkanku. Sekarang perasaanku jadi lega."
Sasha membalas ucapan Maria dengan senyum tipis. Maria merebahkan dirinya, dengan posisi tidur ke samping kanan. Sementara Sasha yang melihatnya sudah tertidur pulas, dia melirik ke arah nakas.
Sasha bergumam lirih, ia memastikan Maria sudah tertidur pulas sebelum mendekat ke arah nakas untuk mengambil ponselnya.
Sasha mulai menyalakan ponsel Maria, satu detik kemudian kedua matanya terbelalak kaget.
"Hah.. siapa cowok ganteng ini?"
Sasha diam sejenak menatap foto seorang pria tampan yang terpampang sebagai wallpaper di ponsel Maria.
"Ngghh."
Sasha tersentak pelan, ia segera melanjutkan rencananya begitu mendengar Maria bergumam barusan.
"Pasti cowok ini pacarnya Maria. Aku harus cari nomor kak Jo, mana ya kontaknya, Jo.. Jo.. "
Sasha terus menggeser mencari kontak suami sahabatnya namun nihil.
"Aduh, mana sih. Apa segitu bencinya anak itu pada suaminya. Sampai-sampai dia tidak menyimpan kontaknya." Sasha mendengus kesal
"Eh, tunggu. Tadi sepertinya aku lihat ada yang aneh."
Sasha kembali menggeser ponsel Maria, dan matanya tertuju pada salah satu kontak mencurigakan dalam ponsel itu.
"Apa ini?"
Tertulis nama dalam kontak itu yang membuat Sasha bingung dan penasaran. Dia pun mencoba menghubungi kontak tersebut.
Calling...
Alien👽
Jo yang saat ini sedang bersandar di kepala ranjang, dia tersadar dari lamunannya setelah mendengar ponselnya berdering.
"Siapa ini?"
Sementara di seberang sana, Sasha terus berharap pemilik kontak misterius itu segera menjawab telfon darinya.
"Hallo."
"Maaf, ini siapa ya?"
"Harusnya aku yang tanya, kan kau yang menelfon duluan."
Suara bariton ini, tidak salah lagi.
batin Sasha dalam hati
"Apa ini kak Jo?"
"Hmm, bagaimana kau bisa tahu namaku?"
"Ini aku kak, Sasha."
"Hah, Sasha?"
"Iya kak, waktu itu aku lupa minta kontakmu. Jadi aku cari di ponsel Maria."
"Bagaimana bisa?"
"Saat ini aku di rumah Maria kak. Setelah kau pergi tadi, Maria terlihat sedih, dia terus menangis. Akhirnya kami pergi dari acara itu lebih awal."
"Aku tahu kenapa dia menangis. Dia sangat membenciku, dia pasti teringat kesalahan yang pernah ku lakukan. Sungguh aku tidak bermaksud membuatnya sedih."
"Apa yang kau lakukan sudah benar kak. Kalau kakak ingin mendapatkan hati Maria, kakak harus terus berusaha."
"Iya, dan aku berterima kasih padamu. Berkat bantuanmu, aku bisa dekat dengan Maria. Sejak kami menikah, baru hari ini aku mengobrol dengannya. Aku sangat bahagia, melihatnya bersikap manis padaku tadi."
Mendengar ucapan Jo, Sasha tersenyum. Dia merasa lega bisa membantu walaupun sedikit.
"Apa kakak tidak ingin melihat Maria?"
"...."
"Saat ini Maria sedang tidur kak. Aku alihkan ke videocall ya."
Sasha mengarahkan layar ponselnya pada wajah Maria. Jo menatap sendu melihat sang istri tercinta yang terlelap dengan wajah sembab. Jemarinya bergerak pada layar ponsel seakan ingin menyentuh wajah istrinya.
"Maria, maafkan aku. Untuk ke sekian kalinya aku membuatmu menangis." tenggorokan Jo tercekat seiring airmata yang jatuh dari pelupuk matanya
"Apa yang harus aku lakukan. Agar kamu bisa mencintaiku Maria. Aku selalu berharap, ada sebuah keajaiban yang akan mempersatukan kita suatu hari nanti."
Jo terdiam sejenak hingga akhirnya meminta Sasha untuk memutuskan videocall tersebut.
"Sasha, sudah cukup."
"Kakak tidak apa-apa."
"Iya, sekali lagi. Terima kasih."
Akhirnya Sasha memutuskan sambungannya kemudian berbaring di samping Maria.
"Dasar. Apa dunia ini adil? Kau beruntung sekali punya dua pria tampan yang mencintaimu, Maria."
Mohon dukungannya..
Jangan lupa tinggalkan like dan komen ya..
Terima kasih😍