Suami Yang Dibenci

Suami Yang Dibenci
Malam Yang Panjang ++


MATURE CONTENT !!!


Yang merasa masih dibawah usia 18 tahun, sebaiknya SKIP part ini.


Dan bagi yang tidak sanggup/tidak suka MATURE CONTENT boleh langsung SKIP saja.


"Kau perlu bantuan Jo?" tanya Jessica tersenyum sinis di dekat tempat tidurnya


Jo berjalan mendekatinya dengan sorot hazelnya yang tajam. Tanpa aba-aba menindih tubuh Jessica di atas ranjang.


"Akhirnya kau menyerah juga."


Jo menyeringai.


"Aku sangat menginginkanmu Jess, bibirmu yang sexy, sentuhanmu yang menggoda. Ayo, kita lakukan sekarang." Jo mendesah lirih "Tapi itu hanya terjadi dalam mimpimu." bisiknya


Membuat Jessica murka, di dorongnya tubuh Jo dengan kasar ke sampingnya.


"Br*ngsek!! dengan keadaanmu yang sekarang kau tetap saja menolakku!!"


Jo terkekeh. Meskipun gairahnya sebesar gunung. Dia sama sekali tidak tertarik untuk menyentuh gadis di hadapannya ini. Yang ada hanya merasa jijik.


"Kau pikir aku akan tergoda dengan tubuhmu? Ck!! Istriku lebih menggairahkan sekalipun kau memberi obat perangsang, ini bukan apa-apa bagiku." kekeh Jo dengan angkuh


"Caramu ini begitu klasik dan murahan seperti drama-drama sialan diluar sana. Dengan caramu ini aku justru semakin membencimu!!!"


Amarah Jessica meluap. Dia berpikir, hari ini dia akan merasakan surga dunia bersama pria yang sangat membuatnya terobsesi. Namun sekali lagi, keinginan itu terabaikan setelah Jo beranjak pergi meninggalkan apartemennya.


"Arghhhh shit!! obat laknat!!! Maria, aku butuh dirimu."


Jo dengan terburu-buru memesan taksi sejak didalam kamar mandi, dia menaiki taksi dengan memakai jasnya untuk menutupi tubuhnya yang basah. Jo meminta supir taksi untuk melaju sangat cepat. Saat ini dia sudah menahan hasratnya yang menggebu, tak henti-hentinya dia membuka mulut menghela udara sebanyak-banyaknya menahan hawa panas di tubuhnya.


Yang ada dipikirannya saat ini hanya ingin cepat pulang ke rumah. Paras Maria sedari tadi terus terbayang dalam ingatannya. Setelah turun dari taksi, Jo segera berlari masuk kedalam rumah, menapaki anak tangga dengan tergesa-gesa. Maria yang menyadari kepulangan suaminya segera menyusul, tak lupa untuk menyuruh dua orang pelayan menjaga kedua putrinya.


"Tolong jangan biarkan anak-anak masuk ke kamar kami."


"Baik Nyonya."


***


"Aahhhh aku tidak tahan lagi." Jo melepas jas dan kemejanya yang basah ke lantai


Suara pintu yang terbuka, membuat Jo beralih menatap istrinya yang saat ini terpaku melihat auranya yang berbeda. Tatapan Jo terlihat penuh nafsu, memendam hasrat yang harus segera di puaskan.


"Sayang, ada apa denganmu?" Maria melihat kondisi Jo yang berantakan dengan rambut dan tubuhnya yang basah karena terguyur air shower di apartemen Jessica


"Nanti aku jelaskan. Sekarang tolong aku Maria, aku sangat menginginkanmu saat ini."


"Jo, ugh." Jo menghempaskan tubuh Maria diatas ranjang


Jo melepas celananya, jelas sedari tadi miliknya sudah mengeras sempurna dan tak tahan ingin memasuki istrinya. Maria yang melihat mata suaminya seakan frustasi, dia pun mengesampingkan berbagai pertanyaan di benaknya, melepas pakaiannya, mengambil alih permainan, dibaringkannya tubuh Jo ke ranjang.


"Sayang, serahkan saja padaku. Kamu istirahat dulu saja okey." pinta Maria


Raut wajah dan tubuh suaminya yang terlihat kelelahan membuat Maria merasa iba. Lalu di kulumnya benda keras tak bertulang itu.


"Aaahhhh sayang ngghhhh."


Jilatan lidah yang menggoda dan permainan mulut Maria membuat Jo tak karuan.


"Aku sudah tidak tahan, cepatlah Maria!" gerutu Jo


Maria menghentikan kegiatannya kemudian duduk diatas Jo, tangannya menuntun kejantanan Jo agar masuk tepat pada tempatnya.


"Ouhhhh." lenguhan keduanya hampir bersamaan saat koneksi itu terhubung. Maria mulai menggerakkan pinggulnya, menari-nari diatas perut Jo.


"Ahhh sayang." Maria meracau


Dan Jo hanya menikmati pelayanan yang diberikan istrinya. Tangannya meremas-remas pydra Maria. Gerakan pinggul Maria memberikan sensasi luar biasa terhadap miliknya, rasanya seperti dikoyak, diremas kuat, dan dihisap.


"Lebih cepat sayang, kamu sungguhhh nikmaat ahhhh."


Dan Maria menuruti perintah suaminya. Dia mempercepat goyangan pinggulnya. Kamar mereka dipenuhi teriakan nafsu, decitan ranjang yang tak mau kalah dengan desahan mereka berdua.


"Akhhh sayang aku tidak tahannn." Jo langsung menurunkan tubuh Maria dan kini berada dibawah kendalinya.


"Engh ahhh ahhh." berkali-kali Maria mendesah panjang ketika Jo semakin menusukkan kejantanannya dan dia menggeram tertahan merasakan kuatnya (v) Maria mencengkram erat miliknya.


Kejantanan Jo semakin mengoyak (v) Maria, menghujamnya dengan bertubi-tubi membuat peluh di seluruh tubuh mereka semakin membanjiri. Tangan Maria melemas ketika merasakan tangan Jo menggenggam tangannya dan menautkan jari-jari tangannya. Maria menatap teduh mata bergairah milik Jo dalam-dalam ketika mata mereka saling bertemu. Maria sungguh lelah, ini sudah yang ketiga kalinya mereka mencapai pelepasan, namun gairah Jo masih belum juga terpuaskan. Jo terus menghujam berkali-kali tapi belum juga mencapai puncaknya.


"Jo!! ahh!! ahh!!" wajah Maria seakan memohon, dia merasa sudah tidak sanggup. Jo sebenarnya juga tersiksa dengan keadaan ini.


"Ma maaf kan a aku, Maria." ucapnya tersendat-sendat di sela menghentakkan kejantanannya


Akhirnya setelah cukup lama Jo mencapai org*sme dan sudah ke empat kali cairan miliknya mengalir ke dalam rahim Maria. Nafasnya memburu menatap istrinya sayu, kemudian mencabut miliknya dengan hati-hati, seketika tubuhnya ambruk terbaring lemas disamping Maria. Mereka pun tertidur setelah lelah dengan kegiatan panas mereka.


Bersambung