
Setelah kepergian Maria, sang ibu menjadi panik. Dia berusaha mencari putrinya di sekitar tempat tinggalnya namun nihil. Akhirnya dia menghubungi sang suami, pencarian pun di lakukan namun tiada hasil.
"Ini semua salahku. Kalau saja aku bisa meredam amarahku, anak kita pasti tidak akan pergi." sesal ibu Maria di sela tangisannya
"Sudahlah sayang, semuanya sudah terjadi." ucap ayah Maria berusaha menenangkan
"Lalu, sekarang kita harus bagaimana?" tanya ibu Maria
"Kita harus memberitahu menantu kita."
Mendengar jawaban sang suami, ibu Maria menunduk. Dia merasa bersalah sekaligus merasa malu atas apa yang baru saja ia perbuat yang membuat putrinya pergi entah kemana.
"Sudahlah sayang, saat itu kau marah. Menantu kita pasti akan mengerti." tutur ayah Maria
Sementara Jo yang saat ini sedang meeting di perusahaan, tiba-tiba mendengar ponselnya berdering. Di lihatnya yang menghubungi adalah Ayah Mertua.
Ayah, kenapa ayah menelfonku? batin Jo dalam hati
"Maaf, saya terima telfon dulu sebentar." kata Jo pada para staf
Jo segera keluar ruangan menjawab panggilan dari ayah mertuanya.
"Hallo, ayah."
"Nak, maaf ayah mengganggumu."
"Tidak apa-apa ayah. Mengapa ayah menelfonku?"
Ibu Maria yang merasa cemas, dia merebut ponsel itu dari tangan suaminya.
"Nak, ibu minta maaf. Ini salah ibu. Gara-gara ibu, Maria pergi."
Sontak Jo melotot.
"Apa maksud ibu?"
"Tadi pagi dia berencana untuk pergi meninggalkanmu dan tinggal bersama kami. Ibu sangat marah, sampai-sampai ibu menamparnya."
Mendengar ucapan dari sang ibu mertua, membuat Jo tercengang. Bagaimana mungkin, dia bisa begitu tega menampar putrinya sendiri. Hanya karena putrinya ingin berpisah darinya.
"Ibu, tenanglah. Jangan terus menyalahkan diri ibu. Aku akan mencarinya."
"Iya nak, tolong cari dia."
Jo pun mematikan telfonnya. Dia kembali masuk ke ruangan dan menunda meeting.
"Maaf, meeting hari ini kita tunda dulu. Karena ada masalah mendesak."
Para staf pun beranjak keluar ruangan. Ramon tahu, pasti ini menyangkut rumah tangga bosnya. Dia mengerti saat ini Jo sangat panik, tapi dia berusaha untuk tetap tenang.
Mereka lalu bergegas pergi mencari Maria. Ramon menyetir dengan kecepatan sedang. Dan Jo duduk di sebelahnya tampak frustasi.
"Kita akan mencarinya kemana?" tanya Ramon
"Tentu saja kau tidak mungkin melakukannya." balas Ramon
"Apa mungkin.." Jo menerka-nerka
Ramon melihat ke arah Jo yang mulai mengeluarkan ponsel lalu menghubungi seseorang.
***
"Siapa ini yang menelfonku?" gumam Dev di tempat tidur
Seketika dia terkejut melihat nama sang penelfon.
"Hallo."
"Kau ada dimana?"
"Memang kenapa?"
"Aku ingin bertemu denganmu. Ada yang ingin ku tanyakan."
Dev pun memberitahu alamat tempat tinggalnya pada Jo. Ramon dengan cepat melajukan mobilnya menuju kesana.
Sesampai disana, Jo turun dari mobil. Sedangkan Ramon tetap menunggu didalam. Dev yang menyadari kehadiran Jo, segera dia membuka pintu lalu keluar menemuinya.
"Ada perlu apa?" tanya Dev tanpa basa basi
"Aku mencari Maria." jawab Jo dingin
Dev terkekeh.
"Kenapa kau mencarinya disini? Bukannya dia istrimu? Kenapa kau bertanya padaku?"
"Maria baru pergi dari rumah, dan sekarang aku tidak tahu dia ada dimana."
"Apa! Dia pergi?" Dev terkejut
"Makanya aku datang kesini. Aku pikir dia bersamamu. Kalau begitu aku pergi."
"Tunggu!" Dev menghentikan langkah Jo, dia pun memutar langkahnya kembali menghadap Dev.
"Apa tidak ada yang mau kau jelaskan padaku. Setelah apa yang terjadi. Sekarang kau mau pergi begitu saja?" Dev menatap Jo tajam
"Aku minta maaf, hanya itu yang bisa ku katakan."
Jo diam sesaat.
"Awalnya aku mengira hubunganku dengannya tidak akan bertahan lama. Tapi perlahan aku sadar. Aku mencintai istriku, Maria. Dan aku tidak akan menyerah begitu saja."
Bersambung