Suami Yang Dibenci

Suami Yang Dibenci
Terjebak


Jessica membawa Jo ke apartemen mewah miliknya. Dia membukakan pintu dan mengeluarkan Jo dari mobil. Setelah menutup pintu mobil, Jessica kembali merangkul Jo dan membawanya menuju lift. Dia menekan tombol dan pintu lift terbuka.


Disisi lain, supir pribadi Jo pulang terlebih dulu setelah Jessica memintanya untuk pergi. Dahi Maria mengernyit karena tidak mendapati suaminya ikut pulang. Melainkan sang sopir yang menyerahkan tas kerja milik Jo kepada Maria.


"Tuan dimana?" tanya Maria


"Tuan masih bersama klien." jawab sang sopir


"Kenapa kau malah pulang dan tidak menunggu tuan? dan kenapa tasnya ada padamu?"


"Tadi..."


Teriakan Rachel dan Syeina dari dalam rumah menginterupsi percakapan mereka. Maria pun memilih untuk masuk kedalam rumah menghampiri kedua putrinya.


***


Jessica membaringkan tubuh Jo di tempat tidur. Sesekali ia memperhatikan wajah Jo yang gelisah seolah menahan sesuatu.


Oh, tentu saja! Kau membutuhkan pelampiasan s*ksual. Dan kenyataan kau tidak bersama istrimu sekarang.


"Aahhh."


Jo menenggelamkan wajahnya diatas sprei lalu mendesis. Dia benar-benar merasa tersiksa dan tidak bisa mengontrol tubuhnya sendiri. Celananya sudah basah sejak berada di lift.


***


"Kenapa tidak diangkat sih?"


Maria sudah berkali-kali mencoba menghubungi Jo. Tapi suaminya itu tidak menjawab panggilannya.


***


"Jo, apa kau butuh bantuan?" tanya Jessica yang duduk di tepi ranjang


"Jangan sentuh aku!!" Jo menepis tangan Jessica ketika mau menyentuhnya


"Kenapa tiba-tiba aku seperti ini?" Jo bergumam dengan mendesis


"Jo, apa kau masih belum sadar? Aku sudah memasukkan sesuatu kedalam minuman yang kau minum di restoran tadi." Jessica tersenyum dengan tangannya mengusap pipi Jo, kemudian mendekatkan wajahnya berbisik ke telinganya "Sudah lama sekali sejak hari itu, aku rindu ingin tidur lagi denganmu."


Refleks Jo terbelalak dan mendorong pelan tubuh Jessica.


"Jadi kau!"


"Akhirnya kau ingat." Jessica mengangkat wajah Jo untuk menatapnya "Aku akan menghapus keangkuhan dalam dirimu."


Jo mengeratkan rahangnya dan kembali mendorong tubuh Jessica.


"Kau mau kemana?"


Tanya Jessica melihat Jo berlari ke kamar mandi. Cukup lama Jo di kamar mandi tanpa ada tanda-tanda akan keluar. Jessica semakin merasa kesal dan merasa Jo tak menginginkannya sama sekali.


Didalam kamar mandi, Jo melepaskan sabuk celana dan membuka resletingnya. Dengan cepat, tangannya bergerak masuk kedalam celananya. Menyentuh kejantanannya dengan telapak tangannya lalu bergerak untuk memuaskan gairah s*ksualnya.


Jessica meneguk air segelas. Ini sudah hampir lima belas menit. Tapi sepertinya Jo masih belum selesai. Secara samar, Jessica bisa mendengar suara rintihan dan desahan Jo dari kamarnya. Wajah Jo sudah basah dengan airmata. Entah sudah berapa kali dia mengeluarkan sp*rma, tapi gairahnya masih belum mereda. Tubuh Jo sudah terasa sakit. Begitu juga dengan area kejantanannya. Dia membutuhkan pertolongan. Saat ini, Jo sudah tidak bisa melakukannya seorang diri.


Tangan Jo terus bergerak lebih cepat dan lebih keras dari sebelumnya. Tapi itu belumlah cukup.


"Aahhhh Maria."


Jo hampir datang. Untuk ke sekian kalinya.


Ceklek


Jessica menelan ludahnya kasar, matanya berkabut akan hasrat yang tinggi dan membara. Sosok Jo tengah berdiri berantakan dan basah kuyup. Kemeja putih yang di kenakannya basah dan mencetak aura maskulin didalamnya.


"Perlu bantuanku Jo?"


Bersambung