
"Sejak mimpi buruk tengah malam, Jo memutuskan untuk tidak kembali melanjutkan tidurnya. Dia merasa lelah meminum obat penenang. Terlihat jam dinding menunjukkan pukul 02 pagi. Ternyata sudah cukup lama dia melamun. Sampai tak terasa dia merenung selama 2 jam lebih.
Menghembuskan nafas lelah, Jo memilih untuk pergi ke ruang kerjanya. Dia berusaha mencari kesibukan untuk mengalihkan pikirannya dari istrinya. Pagi itu dia menghabiskan waktu, mengetik laptop untuk melewati jam panjang hingga fajar.
Tepat pukul 05 pagi, Jo menutup laptop kemudian beranjak dari meja kerjanya. Masuk kedalam kamar mandi, mengguyur tubuhnya dibawah air shower yang dingin.
***
Dev membuka matanya perlahan, bibirnya tersenyum mendapati kekasihnya yang masih tertidur lelap. Tangannya menyibak rambut Maria ke belakang telinganya. Sentuhan lembutnya membuat Maria terbangun, dia sedikit tersentak mendapati Dev yang tidur di sampingnya.
"Good morning baby."
Dev mengecup pucuk kepala Maria yang tampak kebingungan.
"Apa kamu lupa, semalam kita tidur bersama."
"Oh iya, aku baru ingat." Lagi-lagi pipi Maria merona, sementara Dev tersenyum melihatnya yang malu-malu.
"Rasanya seperti mimpi, aku tidur berdua denganmu Maria."
"...."
"Seandainya kita ini sepasang suami istri, pasti aku sangat bahagia." ujar Dev seraya mengecup punggung tangan Maria
Sementara Maria masih terdiam memandangnya, lalu segera mendudukkan dirinya.
"Dev, tiba-tiba aku berpikir, apakah yang kita lakukan ini benar? Statusku masih sah istrinya Jo. Bagaimana jika dia tahu hubungan kita, aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksinya nanti."
"Aku sudah memikirkannya matang-matang. Aku akan memberitahunya di waktu yang tepat. Sekarang cepatlah mandi, bukannya nanti kamu kuliah?" Dev mengalihkan pembicaraan, berusaha menghilangkan kekhawatiran Maria. Maria pun menurut, lalu beranjak ke kamar mandi.
Sementara di tempat lain, Jo sudah rapi memakai sweater warna ungu dengan krah tinggi. Pagi ini udaranya masih dingin. Jo memutuskan untuk pergi ke rumah mertuanya naik mobil sendirian.
***
Maria sudah selesai mandi dengan tubuhnya yang masih terbalut jubah handuk. Saat dia kembali kedalam kamar, Dev sejenak tak berkedip memandang Maria. Ditambah dengan rambutnya yang basah, membuat pikirannya terbang kemana-mana.
"Dev, kenapa melihatku seperti itu?"
"Kamu, cantik sekali Maria."
Pujian itu membuat Maria malu-malu, sesaat kemudian Dev tersadar.
"Maria, aku harus pakai handuk yang mana?"
"Sudah aku siapkan di kamar mandi." jawab Maria sedikit canggung
"Ok." Maria segera menutup pintu setelah Dev keluar dari kamarnya. Dia menyandarkan tubuhnya di pintu sambil menghela nafas kuat. Sedari tadi jantungnya berdetak kencang karena Dev memandangnya tak biasa.
***
Setelah cukup lama dalam perjalanan, Jo akhirnya sampai di kediaman mertuanya. Dia turun dari mobil, berjalan masuk ke arah pintu menekan bel. Tak lama kemudian ibu Maria membuka pintu.
"Nak, masuklah."
Ibu Maria menyambut kedatangan Jo lalu mempersilahkannya duduk di ruang tamu.
"Tumben pagi-pagi sudah datang kesini."
"Iya ibu, aku bosan di rumah."
"Nak? Apa kau tidak tidur semalam?" Ibu Maria memperhatikan wajah Jo yang terlihat lelah
"Aku.."
"Apa kau tidak minum obat?"
Refleks Jo terkejut, ibu mertuanya ini seakan sangat tahu tentang dirinya. Dia pun mengangguk.
"Nak." Ibu Maria menatap wajahnya sendu, mengusap pipi menantunya dan mulai berkaca-kaca.
"Ibu, bolehkah aku tidur di kamar Maria?"
Ibu Maria mengangguk, terlihat jelas air mata sudah mau jatuh di pipi wanita paruh baya tersebut.
Jo kemudian mendekat ke arah lemari, membuka pintu lemari itu, dan di lihatnya satu baju yang masih tergantung disana. Dia lantas mengambil baju itu kemudian membaringkan tubuhnya di ranjang. Melampiaskan kerinduannya yang teramat dalam dengan memeluk baju peninggalan istrinya. Airmata pun mengalir sesaat setelah ia memejamkan mata.
***
Jonathan POV
Di dunia ini ada satu hal yang sangat aku sesali. Untuk ketiga kalinya aku kehilangan wanita yang sangat aku cintai. Nenek yang selalu ada untukku. Disaat kedua orang tuaku sibuk dengan urusan mereka masing-masing, nenek yang selalu mendengarkan keluh kesahku.
Ibu pun akhirnya pergi meninggalkanku, pergi untuk selama-lamanya. Seandainya saat itu aku juga ikut pergi bersamanya, pasti aku tidak akan merasakan penderitaan ini. Aku tidak akan pernah mengenal cinta. Dan aku tidak akan pernah bertemu dengan gadis itu.
Satu per satu orang yang ku sayangi pergi meninggalkanku. Tidak ada yang menginginkanku di dunia ini. Jadi apa gunanya aku hidup?
Jonathan POV end
***
Bias cahaya matahari menyeruak masuk ke sebuah kamar bernuansa merah muda dimana pemilik iris hazel itu masih terpejam. Rupanya sudah cukup lama dia tertidur, kedua matanya terbuka setelah sinar matahari menyilaukan wajahnya.
Perlahan dia bangun sambil mengucek mata, dengan baju istrinya yang masih ada di genggaman tangannya. Jo melihat ke arah jam dinding, terlihat sudah pukul 07 lebih 50 menit. Segera dia beranjak menuju ke dapur, karena sejak dia bangun tercium aroma lezat, sudah dapat di simpulkan saat ini ibu mertuanya sedang memasak.
"Ibu." Jo menghampiri ibu Maria di dapur
"Nak, kenapa kau ke dapur?"
"Aku ingin membantu ibu."
"Ibu sedang membuat bubur untukmu, karena ibu lihat wajahmu pucat. Lebih baik sekarang kau istirahat saja di kamar."
"Tidak apa-apa ibu. Aku bantu ibu ya?"
Ibu Maria menghela nafas pasrah "Ya sudah."
"Apa yang bisa aku bantu?"
"Kau iris saja ayam dan seledrinya."
Jo dengan antusias memperhatikan ibu Maria mengolah bubur, entah mengapa dia sangat gembira melihat ibu mertuanya memasak.
Setelah cukup lama berkutat, akhirnya bubur pun siap, terakhir menaburkan irisan ayam, seledri, dan bawang goreng di atasnya. Jo dan ibu Maria sudah duduk di meja makan, hanya ada mereka berdua di rumah.
"Ibu, ayah dimana?"
"Ayah sudah berangkat sejak tadi. Karena hari ini dia ingin merekrut karyawan."
"Aku jadi merasa tidak enak. Harusnya aku menemui ayah dulu tadi pagi."
"Tidak apa-apa, ayah tahu kau kelelahan."
"Lalu bagaimana restoran ayah? Tidak ada masalah kan bu?"
"Syukurlah, usaha ayah lancar. Meskipun bukan restoran mewah tapi ayah punya banyak pelanggan."
"Kalau ibu tidak keberatan, aku bisa mendirikan restoran cabang untuk ayah. Tidak hanya satu, bahkan beberapa cabang."
"Tidak perlu nak, satu restoran saja sudah cukup. Tapi kami bersyukur jika suatu saat bisa mendirikan cabang." balas ibu Maria sambil mengulas senyum
"Tapi ibu tidak perlu menyuapiku, aku bisa makan sendiri ibu." Jo menolak ketika sesendok bubur itu sudah ada didepan mulutnya
"Tidak apa-apa nak, kau sudah ibu anggap seperti anak ibu sendiri. Begitu juga ayah, ayah sudah menganggapmu seperti putranya sendiri."
Ucapan ibu Maria membuat kedua mata Jo berkaca-kaca, hatinya tersentuh mendengar penuturan tulus ibu mertuanya. Dia pun menerima sesuap bubur itu seiring airmata yang lolos setelahnya.
"Terima kasih, terima kasih karena ibu mau menyayangiku."
"Ibu juga berterima kasih karena kau mau menjadi menantu ibu."
Tuhan, betapa beruntungnya aku. Setidaknya, aku masih punya ibu mertua yang sangat menyayangiku.
Bersambung