Suami Yang Dibenci

Suami Yang Dibenci
Sebuah Harapan


"Tidurlah Maria." Jo menarik diri dari Maria


"Kamu mau kemana?'


"Aku mau keluar dulu sebentar cari minuman. Setelah itu aku kembali." Jo mengecup pucuk kepala Maria sebelum pergi meninggalkan ruang rawat


"Ramon, tolong jaga Maria. Aku mau pergi dulu sebentar." titah Jo pada Ramon yang menunggu di luar ruangan


"Kau mau pergi kemana?"


Jo terdiam sejenak, dari sorot matanya Ramon tahu pasti ada sesuatu. Jo berlalu begitu saja tanpa menjawab pertanyaannya barusan. Dia menuju area parkir, mengendarai mobil Ramon dengan cepat menuju ke suatu tempat.


***


Rumah Agnez


"Jo." Agnez membuka pintu setelah Jo menekan bel berkali-kali


Dari sorot matanya terlihat ada amarah yang menyala-nyala, namun Jo sebisa mungkin meredam amarahnya.


"Apa kemarin kau datang ke rumahku?"


Pertanyaan dari Jo refleks membuat Agnez tergagap.


"A aku, aku bisa jelaskan."


"Agnez, kau tahu apa yang sudah kau lakukan? Istriku hampir saja keguguran!"


"Hah?"


"Apa yang sudah kau katakan padanya?"


"Jo, aku.. aku tidak tahu kalau istrimu hamil."


"Agnez, kau adalah temanku yang berharga. Jadi aku sangat menghormatimu. Aku tahu istriku sudah melakukan kesalahan. Tapi aku tidak rela jika ada orang lain yang menyakitinya, termasuk dirimu."


Detak jantung Agnez tak karuan. Dia benar-benar merasa bersalah sekarang.


"Maafkan aku Jonathan. Sungguh aku menyesal."


"Jangan minta maaf padaku. Minta maaflah pada istriku. Sekarang dia terbaring di rumah sakit. Untungnya, Tuhan menyelamatkan buah hati kami."


Setelah mengatakan itu Jo berlalu meninggalkan Agnez yang diam membeku disana.


***


Rumah Sakit


"Kau sudah kembali?" tanya Ramon di ruang tunggu


Jo menghela nafas lelah "Sebaiknya kau pulang."


"Apa? Bagaimana kau bisa menyuruhku pulang?"


"Kembalilah besok pagi. Mungkin besok Maria sudah di izinkan pulang. Kau pulang saja dan istirahatlah."


"Oke, aku akan pulang. Aku ingin beritahu satu hal. Aku harap kau mengambil tindakan yang benar. Jangan sampai keputusanmu akan membuatmu menyesal di masa depan."


Ramon menepuk pundak Jo kemudian berlalu.


***


Keesokan Pagi


Maria terbangun dari tidurnya. Terlihat masih ada infus yang tertanam di tangan kanannya. Maniknya menangkap sang suami tengah tertidur pulas di sofa.


"Ternyata semalam aku tidak bermimpi ya. Ugh."


Jo terbangun dari tidurnya dan segera mendekati Maria yang kesakitan saat hendak duduk.


"Jo, aku ingin pulang."


"Iya, nanti kita pulang kalau keadaanmu sudah membaik."


Dari pintu yang dibuka, Ramon kembali datang dengan membawa pakaian ganti untuk Maria.


"Selamat pagi Nona Maria, anda sudah siuman?"


"Pagi juga Tuan Ramon."


"Bagaimana keadaan anda nona? Sudah merasa lebih baik?"


"Kepalaku masih terasa pusing."


"Pasti efek kehujanan semalam. Ini, aku beli makanan untukmu." Ramon menaruh makanan untuk Jo di meja sekaligus baju ganti untuknya selama di rumah sakit


"Sekali lagi terima kasih."


Ramon begitu perhatian kepada Jo seperti saudaranya sendiri, mengingat mereka sudah berteman sejak kuliah.


Selang beberapa menit, pintu kembali terbuka. Dan dari sana mereka melihat seorang wanita berambut pirang tengah melangkah memasuki ruangan.


Mendadak suasana jadi tegang. Sejenak gadis itu berpandangan dengan Jo, kemudian dua orang lelaki itu keluar ruangan meninggalkan Maria bersama Agnez disana.


"Kau pasti terkejut sekali dengan kedatanganku."


"Agnez, bagaimana kau bisa tahu aku ada di rumah sakit?"


"Suamimu yang memberitahuku. Aku datang untuk minta maaf. Maaf, atas sikapku kemarin dan ucapanku yang menyakiti perasaanmu."


"Kau tidak perlu minta maaf, semua yang kau katakan memang benar. Aku memang tidak pantas untuk Jo, kaulah yang lebih pantas menjadi pendampingnya."


Agnez tersenyum simpul.


"Kau salah paham Maria. Aku dan Jonathan tidak ada hubungan apa-apa. Kami berteman waktu SMP. Dia adalah teman baikku. Makanya aku sangat kesal karena kau sudah menyakitinya. Tapi jika aku tahu kau hamil, aku akan mengurungkan niatku kemarin. Aku sangat menyesal."


"Iya Agnez, Jo sudah menjelaskan semuanya padaku. Dan kandunganku baik-baik saja, jadi kau jangan menyalahkan dirimu lagi."


"Terima kasih Maria. Tapi aku ingin bertanya padamu."


Maria mengangkat sebelah alisnya.


"Seberapa banyak yang kau ketahui tentang Jonathan? Apa hanya sebatas membantunya tidur, itu saja? Oh maaf, pertanyaanku agak absurd."


"Iya, kami di jodohkan karena ayahnya meminta tolong agar aku membantunya tertidur. Karena selama ini dia mengalami insomnia."


"Insomnia? Apa kau yakin hanya itu alasannya?" Agnez tersenyum samar


"Aku kira kau sudah tahu Maria. Suamimu, dia mengalami trauma sejak berumur 13 tahun karena tragedi kecelakaan yang merenggut nyawa ibu kandungnya. Saat itu tepat di hari kelulusannya di sekolah dasar, dia ingin menghabiskan waktu jalan-jalan bersama ibunya, tapi sungguh nasib. Sejak saat itu, Jo menjadi penyendiri dan selalu di hantui rasa bersalah. Hanya aku yang menjadi tempatnya berbagi saat dia berumur 13 tahun. Aku bersyukur dia kembali ceria. Tapi setelah bertemu denganmu.." Agnez menjeda ucapannya sejenak


"Maria, tolong jaga dia. Kau sangat berarti baginya. Kehadiranmu ibarat lentera yang meneranginya dari kegelapan. Dari luar dia terlihat baik-baik saja, tapi sebenarnya dalam hatinya, dia sangat rapuh. Aku yakin, dia akan bahagia bersamamu."


Maria terpaku mendengar penuturan Agnez.


"Kalau begitu aku pergi. Semoga lekas sembuh."


Agnez keluar dari ruang rawat Maria, diluar netranya bertemu pandang dengan Jo yang masih menatapnya dingin.


"Jo, aku sudah mengatakan semuanya kepada istrimu. Sekali lagi aku minta maaf. Setelah ini aku tidak akan muncul lagi dalam kehidupan kalian."


Jo tak menjawab kata-kata Agnez, dia hanya memandang kepergiannya sampai menghilang dari pandangannya.


Bersambung


Jangan lupa tinggalkan like & komen ya😘