Suami Yang Dibenci

Suami Yang Dibenci
Berkunjung


"Syeina?" seru Jo dan Dev bersamaan


"Ada yang ingin ku katakan."


Mereka berdua hanya bergeming menantikan ucapan Syeina selanjutnya.


"Om Dev, maukah om jadi pacarku?"


Deg


Jo dan Dev diam terpaku untuk beberapa saat.


"Aku.. hanya salah dengar kan? Syeina tadi bilang apa?" tanya Dev dengan ekspresi terkejut


"Om Dev, maukah om jadi pacarku?" Syeina mengulang pertanyaannya kembali


"Pffttt.."


Mereka pun tak dapat menahan tawa. Dev dan Jo saling tertawa renyah akan ucapan Syeina yang saat ini terlihat kesal karena merasa di tertawakan.


"Apanya yang lucu om! daddy!" protes Syeina sambil berkacak pinggang


Dev masih tertawa cekikikan begitupula Jo.


"Syeina, kenapa tiba-tiba kamu ingin pacaran dengan om?" tanya Dev dengan sedikit menundukkan tubuhnya


"Habis aku kesal di sekolah tidak ada yang menjadikanku putri raja." jawab Syeina dengan nada marah


"Lalu apa hubungannya dengan om?"


"Di sekolah, kakak sering bermain permainan putri raja dan ada yang jadi pangeran. Aku bosan terus di jadikan pengawal. Aku ingin menjadi putri raja tapi tidak ada yang mau om."


"Oh begitu, terus kenapa Syeina minta om jadi pacar?" tanya Dev lagi


"Karena kakak juga pernah bermain nikah-nikahan, saat aku yang minta tidak ada anak laki-laki yang mau bersamaku om. Huwaaa!!"


Dev beralih memandang Jo yang sedang berusaha menahan tawa.


"Ya sudah, kalau begitu om akan bermain bersama Syeina." ucapan Dev seketika membuat Syeina tersenyum riang


"Sungguh? om mau?"


Dev mengangguk, kemudian membawa Syeina ke ruang tamu diikuti oleh Jo yang kemudian duduk di samping Maria. Sementara Sarah yang sedang menggendong Mike tampak bingung dengan apa yang mereka lakukan.


"Semua yang ada diruangan ini menjadi saksi, kalau aku dan Putri Syeina akan menikah."


Sontak semua yang ada disana terkejut dengan ucapan Dev. Maria, Sarah, dan Rachel, kecuali Jo. Dev yang semula berdiri, kemudian berlutut ala seorang pria yang akan mengutarakan perasaannya kepada seorang wanita.


"Putri Syeina, gadis yang paling cantik di negeri ini. Maukah kau menjadi permaisuriku?" Dev berlutut dengan aktingnya yang total


"Tentu saja aku mau." jawab Syeina to the point


Membuat Rachel ingin tertawa, dia tahu adiknya tidak bisa berakting menjadi seorang putri. Dari cara bicara adiknya yang apa adanya dan suka blak-blakan, tidak ada yang setuju jika dia berperan sebagai putri raja karena dirasa tidak cocok.


"Aku mencintaimu Putri Syeina."


"Aku juga mencintaimu Pangeran Dev."


Drama di akhiri dengan kecupan lembut di tangan Syeina. Suara tepuk tangan terdengar dari Jo, Maria, dan Rachel. Sedangkan Sarah hanya tersenyum geli melihat tingkah konyol mereka.


"Oh Syeina, putriku.. dia sudah dewasa dan akan menikah, hiks.." Jo berpura-pura menangis seolah-olah merelakan putrinya yang telah dipinang


"Oh suamiku..." Maria memegang lengan Jo sambil mengusap punggungnya


"Sayang, Syeina putri kita.. akan pergi dari rumah dan meninggalkan kita..hikss.." Jo melanjutkan sandiwaranya


"Daddy!! please deh!!" teriak Syeina


"Maria, lihatlah suamimu." Dev tertawa lebar


***


"Kenapa buru-buru sekali, ini masih jam setengah delapan." kata Dev


"Iya, kenapa buru-buru sekali. Padahal kami ingin mengajak kalian makan malam." sahut Sarah


"Terima kasih Dev, Sarah. Mungkin lain kali saja. Kami mau mampir ke rumah ayah dan ibu Bianca." kata Maria


"Owh, kalau begitu sampaikan salam kami kepada om Smith dan tante Bianca ya." pinta Dev


"Iya, nanti akan kami sampaikan." jawab Jo kemudian melangkah masuk kedalam mobil


"Da da Om!! Da da Tante!! Da da Mike!!" seru si kembar


"Da da!!!" Dev dan Sarah membalas dengan melambaikan tangan kepada mereka.


***


Rumah Bianca


Setiba disana, mereka disambut dengan hangat oleh ayah dan ibu mertua Maria.


"Grandpa!! Grandma!!" seru si kembar kepada kakek dan neneknya


"Jo, Maria." ucap ayah dan ibu tiri Jo


"Selamat malam ayah, selamat malam ibu." sapa Jo dan Maria bersamaan


Disana, mereka menghabiskan waktu berbincang-bincang dan makan malam bersama. Juga mendengarkan cerita si kembar yang terkadang membuat mereka tertawa.


"Maria, bagaimana kandunganmu?" tanya Bianca, ibu tiri Jo.


"Baik-baik saja ibu." jawab Maria dengan senyum ramah


"Syukurlah. Kau harus jaga pola makan dan jangan sampai stres." tutur Bianca


"Iya ibu, aku akan selalu mengingat nasehat ibu." balas Maria


"Ayah memang tidak salah memilih menantu. Maria anak yang baik, dan bisa menjadi istri yang pengertian untukmu." ucap ayah Jo


"Ayah terlalu memuji." balas Maria dengan pipi merona


"Dulu Jo hampir saja tidak mau, tapi untungnya kalian menikah. Dan Tuhan memberkati kita semua dengan dua putri menggemaskan ini." kata ayah Jo


"Semua itu butuh proses ayah. Kami butuh waktu untuk saling memahami. Dan untuk membangun keluarga yang bahagia seperti sekarang, kami sudah melewati jalan yang berliku-liku dan cobaan yang bertubi-tubi." Jo menyahut dengan senyum teduh kepada Maria yang juga tersenyum kepadanya


Mereka pun kembali menikmati makan malam, hingga perhatian mereka beralih kepada Syeina yang juga ingin bercerita.


"Hari ini aku senang sekali. Om Dev melamarku."


Sontak semua terkejut dan tatapan mereka tertuju ke arahnya.


"Aku bermain jadi putri raja dan om Dev yang jadi pangeran. Benar-benar sosweet, iya kan Mom, Dad?" tanya Syeina penuh harap


Jo dan Maria hanya mengulum senyum karena berusaha menahan tawa.


"Wah, cucu Grandpa jadi tuan putri. Bagaimana kalau nanti Syeina bermain bersama Grandpa? Grandpa yang akan jadi pangeran." tanya ayah Jo


"Tidak mau." tandas Syeina dengan cepat


"Loh, kenapa?"


"Grandpa tidak cocok jadi pangeran."


"Lalu cocoknya jadi apa?"


"Grandpa cocoknya jadi raja dan punya banyak istri.


Bersambung