Suami Yang Dibenci

Suami Yang Dibenci
Sebuah Nama


6 bulan kehamilan...


Di usia kehamilan Maria ke enam bulan, tampak perutnya sudah semakin membuncit. Jo semakin memberikan perhatian dan kasih sayangnya kepada sang istri tercinta. Hari ini, tepat di hari minggu. Jo mengantar Maria ke dokter kandungan untuk tes USG.


Janin sudah bergerak aktif dan dapat merespons suara dan sentuhan. Adanya suara kencang seperti teriakan atau bunyi musik mampu memicu janin untuk melakukan tendangan kecil. Posisi janin usia 6 bulan dengan kepala berada dibawah memberi efek gerakan menendang yang sangat terasa. 


Terkadang Maria mengalami kram pada kaki di usia kehamilannya yang sekarang. Terkadang janinnya merespons ketika Maria melakukan olahraga ringan. Meskipun sistem organ belum berfungsi sepenuhnya, tetapi janin mampu mendengarkan suara-suara dari luar, bahkan mampu merasakan apa yang dirasakan oleh sang ibu. Jika sang ibu merasa stres, cemas, sedih, atau bahagia, janin pun akan merasakan hal yang sama. Hal ini dikarenakan hormon adrenalin yang diproduksi sang ibu mampu menembus plasenta, sehingga turut mempengaruhi kondisi bayi. Maria terus menjaga kebugaran tubuhnya dengan olahraga dan pola makan yang bergizi.


"Wah.. aku bisa merasakan pergerakan bayi kita sayang. Apa mereka bahagia disentuh ayahnya?" Jo bergumam sambil mengusap perut buncit Maria dan mendekatkan wajahnya di perutnya.


"Aku sudah tidak sabar ingin melihat mereka." imbuhnya


"Sama, aku juga sudah tidak sabar. Pasti mereka sangat menggemaskan." balas Maria


"Sayang, aku jadi ingin nih." kini Jo mendekatkan wajahnya pada Maria


"Semalam aku sudah memberimu jatah kan, kenapa kamu sudah minta lagi?" tolak Maria dengan lesu


"Kamu sangat seksi kalau sedang hamil."


Pujian dari Jo spontan membuat wajah Maria merona.


"Ayolah sayang, ini kan hari minggu." Jo menggoda sambil mengusapkan wajahnya di leher Maria. Dia tahu titik sensitif istrinya. Maria sangat sensitif akan deru nafas suaminya di lehernya.


"Jangan menggodaku."


Maria berusaha menolak karena sungguh, dia masih lelah karena aktifitas mereka semalam. Maria cukup kewalahan memenuhi hasrat suaminya. Terutama saat hamil, hasratnya semakin menjadi. Tanpa menunggu lagi, Jo menggendong Maria dan membawanya ke lantai atas.


"Jo, aku mohon. Jangan lakukan itu sekarang, aku sangat lelah."


"Kamu hanya tinggal diam saja dan menikmatinya." Jo tersenyum dengan tetap melangkahkan kakinya pada anak tangga


"Jo!! To..long ber..henti!! Ahh!! Ahh!!"


Dibawah sana Maria sudah sangat perih, namun Jo tidak menghiraukannya. Dia mengejar kenikmatannya. Sudah kedua kalinya mereka mencapai puncak kenikmatan. Bagi Jo, istrinya benar-benar semakin menggoda dengan perut buncitnya. Kegiatan mereka berakhir dengan kecupan di bibir. Sekarang Jo sudah tidak peduli dan tidak mengenal waktu melakukannya disaat ada kesempatan berdua bersama istrinya.


***


8 bulan berikutnya...


Hari-hari yang mereka lewati begitu membahagiakan. Jo sangat memanjakan istrinya, juga berusaha memenuhi semua keinginan istrinya. Dia membangun sebuah taman di halaman rumahnya yang luas. Sesuai permintaan Maria, dia ingin ada beberapa koleksi bunga di halaman, dan juga ayunan yang terkadang Maria habiskan waktu untuk bersantai dengan Jo yang mendorong ayunan itu.


"Terima kasih sayang, kamu sudah menuruti permintaanku." ucap Maria dengan memandang bunga-bunga dan kolam air mancur yang ada di halaman rumahnya


"Ini hanya permintaan kecil istriku. Apa yang ku berikan tidak sebanding dengan semua kebahagiaan yang kamu berikan dalam hidupku." Jo tersenyum lembut


Setelah mendorong kursi ayunan itu, dia lantas mendudukkan dirinya disamping istrinya.


"Tidak tahu kenapa aku seperti teringat sesuatu melihat bunga mawar itu." ujarnya sambil memandang ke arah bunga mawar merah yang tidak cukup jauh di depannya


"Memangnya ada apa dengan bunga mawar itu?" Maria mengikuti sorot mata Jo ke arah bunga mawar merah tersebut


"Bunga mawar itu mengingatkan aku akan sesuatu. Tapi aku lupa." sekarang pandangannya beralih kepada Maria


"Sayang, aku sudah punya nama untuk anak-anak kita." Jo berujar sambil mengusap perut Maria.


"Siapa?"


Bersambung