Suami Yang Dibenci

Suami Yang Dibenci
Curang


Pagi ini Jo bangun dengan perasaan yang berbeda, perasaan jauh lebih bahagia dari pagi-pagi sebelumnya. Senyuman lembut tak pernah luntur sedetik pun dari bibirnya. Sekalipun matahari sudah merangkak naik, menyinari bumi di pagi hari Minggu yang tenang ini Jo masih belum berniat bangun dari atas ranjang. Dirinya masih betah memandangi sesosok wanita yang bergelung didalam satu selimut dan masih terlelap. Jo menyangga kepalanya dengan sebelah tangan dan berbaring menyamping. Memandangi wajah cantik itu lekat-lekat. Dikecupnya hidung mungil itu, lalu kening, kedua pipi hingga bibir. Sekalipun hanya kecupan singkat, itu cukup untuk membuat istrinya terusik dalam tidurnya.


"Nngghhh.." Maria melenguh lirih. Sepasang mata madu itu perlahan terbuka, sedikit menyipit saat menerima cahaya yang masuk lewat celah-celah jendela kamar yang bertirai putih tipis. Bibir Maria membentuk senyuman ketika melihat wajah suaminya dalam jarak yang dekat dengannya.


"Good morning.." bisik Jo dengan senyuman lembut. "How do you feel?"


Untuk beberapa detik, Maria terdiam dan mengerjapkan mata. Namun seulas senyum perlahan muncul di bibirnya. "Never been felt better than this." jawab Maria dengan suara khas orang bangun tidur. Jo mengecup ujung hidung Maria, membuatnya tertawa pelan. Maria menumpu berat badannya pada sikunya berniat bangkit.


"Jam berapa ini?" tanyanya dengan ekspresi sedikit tegang. Jo mendengus pelan, lalu mengecup pipi Maria.


"Ini hari minggu sayang. Berhenti memikirkan pekerjaan."


"Oh iya, aku lupa."


Jo kembali mengecup pipi Maria, kali ini dengan gemas. Ini benar-benar pagi yang sempurna. "Kamu mau ke kamar mandi atau melanjutkan tidur?"


"Tentu saja mandi. Anak-anak pasti sudah menunggu kita di meja makan." jelas Maria kemudian beranjak ke kamar mandi terlebih dahulu.


***


"Good morning Mom... Good morning Dad..." seru si kembar serempak di meja makan


"Good morning Syeina.. Good morning Rachel.." sahut Maria dan Jo bersamaan


"Wah.. anak-anak mommy sudah pada mandi dan wangi." ucap Maria yang sudah duduk di samping kedua putrinya


"Iya dong Mom, hari ini kita ke rumah Mike lagi ya?" Syeina bertanya, otomatis membuat Maria beralih memandang Jo tanda meminta persetujuan. Jo pun mengangguk dengan tersenyum.


"Iya sayang. Nanti kita kesana ya." jawab Maria


"Horeee!!!" seru si kembar


***


Jo tengah menyesap kopi sambil bermain ipad di kursi teras untuk merilekskan pikirannya. Hari minggu adalah hari santai untuk melepas penat setelah lelah dalam pekerjaan. Maria muncul dari ambang pintu berjalan mendekat lalu duduk di hadapannya.


"Apa kamu lelah sayang?" pertanyaan Maria langsung mengalihkan perhatian Jo dari layar ipad kepadanya


"Ya, lelah sih. Terkadang juga sedikit stres." Jo menjawab kemudian menyesap kopi


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan? Pergi ke taman bermain, atau kemana begitu. Tidak perlu jauh-jauh yang penting kita bersama-sama."


Jo meletakkan cangkir kopinya sebelum menjawab pertanyaan Maria.


"Boleh. Tapi bukannya nanti anak-anak ingin ke rumah Dev?"


"Kami pergi kesana nanti siang, aku juga sudah menelfon Sarah. Kita bisa pergi nanti sore atau nanti malam."


"Ya sudah, kita pergi nanti malam."


Mendengar jawaban dari suaminya, Maria pun tersenyum senang. "Terima kasih sayang."


***


Siang ini Maria bersama kedua putrinya berkunjung ke rumah Dev. Nampak Sarah bersama Dev sedang duduk di kursi teras, seolah mereka memang menunggu kedatangan Maria bersama kedua putrinya.


"Hallo om Dev.. Hallo tante Sarah.." seru Syeina dan Rachel serempak


"Dev, Sarah. Anak-anak dari kemarin minta diajak kesini." kata Maria


"Kebetulan aku juga ingin bermain bersama mereka Maria. Bagaimana kabar Jo?" tanya Dev


"Syukurlah, dia baik-baik saja. Belakangan ini dia sibuk dengan urusan proyek kerjasamanya." jawab Maria


"Katakan padanya, jangan terlalu memforsir diri. Sekali-kali liburan bersama keluarga." saran Dev


"Iya, aku juga sudah beritahu dia. Nanti malam dia mengajak kami jalan-jalan." balas Maria


"Ya sudah. Kalau begitu aku main dulu bersama anak-anak ya?" tanya Dev seraya menatap Maria dan Sarah bergantian


"Iya sayang." jawab Sarah sedangkan Maria hanya tersenyum


Disaat Dev bersama si kembar dan putra kecilnya, Sarah mengobrol dengan Maria di kursi teras. Kemudian seorang pelayan datang menyuguhkan teh untuk Maria.


"Aku lihat, sedari tadi kau terus tersenyum. Kau terlihat sangat bahagia hari ini. Apa ada sesuatu Maria?" tanya Sarah penuh selidik


"Kau memang peka Sarah." jawab Maria dengan malu-malu


"Ayo, ceritakan padaku." pinta Sarah antusias


"Semalam kami merayakan hari jadi pernikahan kami." ucap Maria


"Kalian baru merayakannya?" Sarah terkejut


"Iya, memang kenapa?" tanya Maria


"Tidak. Tidak apa-apa. Hanya saja aku tidak menyangka. Padahal kalian sudah menikah selama enam tahun."


"Karena Jo super sibuk, apalagi kami jarang ada waktu berdua sejak ada si kembar."


"Iya sih."


"Ada kabar baik lagi Sarah."


"Hmm?"


"Aku hamil."


Kedua mata Sarah membulat diiringi dengan senyum mengembang di wajahnya.


"Wah... selamat ya Maria."


Sarah turut bahagia atas kebahagiaan Maria. Di sisi lain, Dev sedang menghabiskan waktu bermain bersama Syeina di lantai dua. Sedangkan Rachel, bermain sendirian dengan bermacam-macam mainan yang tersedia disana.


"Om Dev, sudah K.O kenapa bangkit lagi?" protes Syeina


"Om adalah prajurit abadi. Peluru Syeina tidak akan mampu membunuh om." Dev tertawa


"Aaaaa dasar curang!"


Bersambung