
"Kamu sudah bangun sayang?" tanya Jo begitu melihat istrinya baru saja bangun dari tidurnya.
Maria mengerjap beberapa kali, ia sempat lupa kalau semalam mereka bercinta panas. Jo tetap garang meskipun istrinya hamil tua. Maria pun hanya bisa pasrah, dia tak kuasa menolak keinginan suaminya. Pada dasarnya mereka sama-sama ganas, sungguh pasangan yang serasi :v
Jo mendekat, mendaratkan ciuman di bibir manis istrinya tercinta. Kemudian membopongnya ke kamar mandi, meskipun dia sudah mandi selama istrinya masih tertidur nyenyak. Jo sangat perhatian dan memanjakan istrinya saat istrinya hamil. Masih terlihat bekas daerah kwanitaan Maria yang memerah dan lecet karena perbuatannya semalam. Jo bertanggung jawab dengan memandikan Maria yang pasti tidak mampu berjalan saat ini. Usai mandi, Jo kembali membopong Maria ke ranjang dan membantunya memakai pakaiannya.
"Jam berapa sekarang?" tanya Maria
"Hmm... jam 8 pagi, kamu mau aku bawakan sarapan kesini?"
Maria mengangguk cepat, perutnya sudah meminta haknya untuk segera di isi, begitu juga dengan anaknya di dalam sana, yang pasti sudah merajuk karna ibunya bangun terlalu siang dan lupa memberinya makan. Sedetik kemudian Jo sudah menghilang menuju dapur, ia meminta juru masak untuk membawakan makanan ke kamar .
"Kamu tidak kerja?" tanya Maria sesaat Jo kembali ke kamar
"Hari ini aku hanya ingin bersama istri dan anakku dan aku juga sudah memberi tahu dokter Ana untuk memeriksakan kandunganmu hari ini." jawab Jo sambil membelai perut istrinya dengan lembut
Maria menyantap sarapannya dengan lahap, dia terlihat seperti tidak di beri makan selama seminggu. Jo hanya menikmati pemandangan istrinya yang sedang sarapan, seakan sedang menikmati keindahan alam. Oh tidak, istrinya lebih indah dari apapun didunia ini. Faktor kehamilan membuat nafsu makannya jadi berlebihan, setelah selesai Maria terdiam melihat piring yang tadinya berisikan banyak makanan kini bersih tak tersisa.
"Jo, sa...kit." ucap Maria terbata-bata, Jo dengan sigap membopong tubuh istrinya saat cairan bening merembes diatas sprei yang menandakan air ketuban Maria pecah dan akan segera melahirkan.
"Sayang, sabarlah aku akan menyelamatkanmu dan juga anak kita, kumohon bertahanlah sebentar lagi." Jo bergegas membopong Maria masuk kedalam mobil dan mencoba menguatkan istrinya yang seperti sudah sangat kesakitan menahan kontraksi.
Setelah melewati beberapa rintangan akhirnya mereka sampai di rumah sakit, dengan panik Jo memanggil pihak rumah sakit untuk membawa istrinya.
"Sayang kamu harus kuat, kumohon demi anak kita." Jo menggenggam erat tangan Maria yang sekarang sedang terbaring di kasur dorong, langkahnya terhenti saat dokter menahannya masuk ke ruang bersalin.
"Biarkan suami sa-ya ma-suk." pinta Maria dengan terbata-bata
Jo turut menarik nafasnya dalam-dalam. Keringat membanjiri sekujur tubuhnya, dan jantungnya ikut berdegup sangat kencang. Demi Tuhan, dalam hati dia terus mengucap doa agar semua proses menegangkan ini segera selesai dan penderitaan istrinya segera berakhir.
"Sayang, ayo bersemangatlah." Jo berbisik di telinga Maria, menimpali ucapan tim medis yang membantu persalinan istrinya hari ini. Wajah lelah dan sayunya terlihat begitu menderita, membuat Jo semakin ingin mengakhiri ini dengan cepat. Namun benar-benar tidak ada yang bisa dia lakukan saat ini selain memegang erat tangan Maria dan mempercayakan semuanya kepada tim medis.
"Aaaaaaaaaaah.."
Bersamaan dengan teriakan kencang dari Maria, terdengar suara tangis bayi. Jo hanya bisa menatap takjub ketika salah seorang tim yang membantu persalinan mengambil bayi mungil itu dari bawah tubuh Maria. Jo mengalihkan pandangannya pada istrinya, Maria terlihat menitikkan air mata, memejamkan matanya sambil menarik nafasnya. Meskipun demikian, Jo bisa melihat senyuman kecil di bibir wanita yang sangat dicintainya. Ada rasa lega didalam hati saat mendengar suara merdu bayi yang baru saja ia lahirkan.
"Selamat Nyonya. Anda melahirkan bayi laki-laki yang sangat sehat dan tampan." ucap dokter wanita memangku bayi mungil nan lucu yang berlumuran darah itu. Kemudian ia memotong tali pusarnya dan membersihkannya dengan bantuan suster. Mendengar hal itu, Maria membuka matanya, tersenyum ketika mengetahui Jo tengah menatapnya dengan tersenyum penuh haru dan menggenggam tangannya makin erat.
"Kamu hebat sekali sayang. Terima kasih, karena telah melahirkannya dengan normal dan selamat."
"Terima kasih juga karena selalu menemaniku menjalani saat-saat yang sangat berat." Maria menjawab lemah.
Jo tersenyum lagi, mengusap rambut istrinya. Ini adalah kedua kali baginya menemani Maria dalam persalinan karena istrinya itu yang meminta keberadaannya. Beruntung, Jo meluangkan waktunya dan tidak pergi ke kantor dari kemarin demi menemani persalinan istrinya.
"Dokter, bolehkah aku menggendong anakku?" Jo memandangi bayi mungil yang sekarang ada dipangkuan dokter, mata Jo berkaca-kaca saat pertama kali menggendong putranya.
"Sayang, lihat bayi kita." Jo mendekati Maria sambil mendekatkan bayinya
"Dia sangat tampan sayang." pujian Maria lantas membuat Jo tersenyum haru dan bahagia
"Selamat datang jagoan Daddy."
Bersambung