Suami Yang Dibenci

Suami Yang Dibenci
Pengakuan


Dev



Maria terduduk lemas di lantai dengan botol obat di tangannya. Dia hendak meminum obat itu, baru hampir masuk ke mulutnya..


"Maria! kamu sudah gila ya!" Dev mengibaskan botol berisi obat cair penggugur kandungan itu dari tangan Maria. Botol itu jatuh dan isinya pun tumpah. Dev memeluk Maria yang menangis dan berusaha menenangkannya.


"Maafkan aku. Aku sudah membentakmu tadi. Kenapa kamu tega melakukan itu Maria. Anak dalam kandunganmu tidak bersalah."


"Dev, aku harus bagaimana? Jo menggugat cerai." Maria kembali terisak


"Apa? dia menggugat cerai?" Dev terkejut


"Iya, sekarang aku harus bagaimana? Hikss."


"Tenanglah." Dev meminta Maria duduk di sisi ranjang. "Sekarang tenangkan dirimu, aku mau pergi dulu."


"Kamu mau kemana?"


"Aku mau beli makanan untukmu. Aku akan segera kembali."


Maria mengangguk.


"Tetap disini dan jangan kemana-mana." Dev mengecup kening Maria sebelum pergi meninggalkannya


***


Sudah 15 menit Jo duduk di sisi depan mobil menunggu Dev di suatu tempat yang jauh dari keramaian. Setelah cukup lama akhirnya Dev datang. Jo yang semula duduk di depan mobil dia lantas berdiri berhadapan dengan Dev.


"Kenapa kau menyuruhku kesini?" tanya Jo


"Ada yang ingin ku bicarakan." jawab Dev


"Aku tahu apa yang mau kau bicarakan. Tenang saja, sebentar lagi kami akan berpisah. Kau senang kan?" tebak Jo dengan senyum sinis


"Kau, suami macam apa kau B*NGSAT!" Dev melayangkan pukulan kepada Jo hingga membuat sudut bibirnya terluka.


"Ternyata aku salah menilaimu. Mana bukti ucapanmu hah! Kau bilang kau tidak akan menyerah! Kau akan memperjuangkan istrimu, Maria. Tapi mana buktinya!" Satu pukulan Dev melayang lagi ke wajah Jo dan kali ini Jo tampak semakin murka.


"Apa maumu BR*NGSEK!" Jo mengayunkan pukulan balasan ke arah Dev sampai terhuyung ke belakang. Lalu keduanya saling pandang dengan sengit, dengan kemurkaan yang sama-sama menguasai.


"Kau ternyata tidak mengenalku dengan baik Jonathan. Aku bukan type orang yang suka memaksakan perasaan. Apa kau lupa, awal mula aku menjalin hubungan dengan Maria."


Jo masih terdiam mendengar kata-kata Dev selanjutnya.


"Aku hanya ingin tahu sebesar apa cintamu padanya. Apa kau benar-benar bisa ku percaya untuk menjaganya? Selama ini yang kulakukan dengan Maria, semata-mata agar aku tahu apakah masih ada sisa rasa untukku. Apakah ada celah untuk menerimamu. Jika ternyata dia sudah tidak ada perasaan untukku, aku ingin menyadarkannya secara perlahan agar dia mau bersamamu. Tapi ternyata semua diluar perkiraanku. Maria berusaha menyangkal perasaannya."


Jo berusaha mencerna ucapan Dev yang sulit dia pahami.


"Sungguh dalam hatiku sudah tidak ada keinginan untuk menyentuhnya. Aku akui kami sempat berciuman. Tapi sudah tidak ada rasa senang atau bahagia seperti saat bersamanya dulu. Dalam hati aku merutuki diriku sendiri. Aku merasa bersalah dan aku merasa berdosa, karena sudah menyentuh seseorang yang bukan milikku." Dev membayangkan dirinya saat berciuman dengan Maria dan tidur bersamanya di kontrakan malam itu.


"Maria hamil."


Deg


"Kami memang tinggal bersama. Tapi kami tidak pernah melakukan itu. Aku berani bersumpah."


Jo berusaha mencari kebohongan dimata Dev tapi dia tidak menemukannya disana.


"Aku bersumpah kalau itu anakmu. Sekali lagi, maafkan aku." Dev membuka pintu mobilnya "Oh iya, aku ingin katakan satu hal lagi. Maria hampir saja melenyapkan darah daging kalian." Setelah mengatakan itu Dev berlalu meninggalkan Jo yang masih diam terpaku, berusaha mencerna semua pengakuan darinya. Barulah dia mengingat tentang semuanya dimasa lalu.


Flashback


"Kak Dev." Maria datang ke perpustakaan menemui Dev dengan Jo disampingnya. Jo tidak ikut membaca, dia lebih suka mendengarkan musik dengan headphone.


"Apa aku boleh minta bantuan kakak untuk mengerjakan soal ini? Aku tidak bisa kak." Maria menunjukkan soal fisika yang tidak ia pahami


"Ini sih mudah." sahut Dev dengan enteng


"Wah, kakak memang jenius. Makanya kakak terpilih jadi ketua OSIS." puji Maria dengan tersenyum


"Aku pergi." Jo beranjak pergi meninggalkan mereka dengan muka kesal


"Sepertinya kak Jo tidak menyukaiku."


"Dia memang seperti itu. Tapi sebenarnya dia sangat baik."


***


"Dev, mau sampai kapan kau membiarkan anak itu terus mendekatimu? Setiap ada soal yang tidak dia mengerti dia selalu minta tolong padamu. Padahal kan banyak yang bisa dia mintai tolong. Kenapa harus kau? Kelihatan sekali dia itu cari perhatian darimu. Lebih baik kau segera tolak saja dia. Daripada nanti kau di cap PHP oleh anak satu sekolah."


Dev hanya tersenyum mendengar penuturan Jo. "Biarkan saja. Rasanya menyenangkan mendapat perhatian seperti ini. Dia juga sering memberiku makanan."


"Jadi nasi goreng ini?"


"Nasi goreng ini buatannya."


***


Jam istirahat


Jo dari lantai dua melihat Maria berkelahi dengan salah seorang siswi saling menjambak rambut di halaman kelas.


Dev benar-benar sudah gila. Sebenarnya apa sih yang membuatnya suka dengan anak itu? Cewek bar-bar, otaknya pas-pasan pula. Kalau aku jadi Dev, pasti sudah kutolak mentah-mentah.


Bersambung