
Flashback On
Setelah satu minggu di apartemen Marco. Maria memutuskan untuk mengemasi pakaiannya dan pergi untuk mencari kontrakan.
Marco : "Apa kamu benar-benar ingin pergi dari sini?" Marco berusaha membujuk Maria untuk mempertimbangkan kembali keputusannya yang akan keluar dari apartemen miliknya.
Maria : "Tentu saja. Aku tidak akan terus-terusan merepotkanmu."
Marco : "Coba pertimbangkan lagi." Marco kembali menekan keputusan Maria
Maria : "Marco, aku harus pergi. Aku tidak mungkin terus tinggal bersamamu."
Marco : "Ok, tapi sebelumnya aku ingin bertanya. Apa yang membuatmu pergi dari rumah?"
Maria : "Kamu akan sangat terkejut jika aku menceritakannya."
Marco : "Tidak apa-apa. Ayo, cerita saja. Aku benar-benar penasaran."
Maria : "Aku tidak bisa menceritakannya sekarang."
Marco : "Ok, aku tidak akan memaksamu."
Maria : "Terima kasih untuk semuanya, kalau tidak ada kamu, aku tidak tahu bagaimana aku menjalani hidupku."
Marco tersenyum sendu sembari mengusap kepala Maria. "Maria, kita sudah berteman sejak kecil. Kalau ada perlu apa-apa, kamu tinggal hubungi aku. Saat itu, aku pasti akan menolongmu."
Maria menatap Marco dalam, kemudian memeluknya dan terisak.
"Sudah, jangan menangis. Kalau kamu seperti ini, aku tidak akan tega membiarkanmu sendirian." tutur Marco sembari membelai lembut kepala Maria
Maria sangat menikmati pelukan hangat teman kecilnya, sudah lama dia tidak merasakan belaian kasih sayang dan perhatian seperti ini.
Flashback end
-
-
Night Club
Suara musik begitu memekik ketika beradu dengan suara riuh para pengunjung kelab. Tempat yang penuh dengan bau alkohol tersebut tidak akan pernah sepi, selalu saja ada pengunjungnya. Disana terlihat, Jo sedang bersama teman terdekatnya yang paling ia percaya.
Alvin
Alvin : "Hei, apa kau akan berdiam saja seperti ini? Ini sangat membosankan." tanya Alvin jengah, ini bukan suasana yang cocok untuk dirinya.
Jo : "Aku tidak tahu harus mulai darimana, ceritanya panjang kak." kata Jo lalu meneguk segelas alkohol dari tangannya.
Alvin : "Kau tidak biasanya seperti ini. Sebenarnya kau ada masalah apa?" tanya Alvin yang mulai merasa cemas.
Tanpa melepas genggamannya pada gelas, Jo mengutarakan beban dalam hatinya. "Kak, aku kehilangan istriku."
Sontak Alvin melotot.
Jo : "Aku sudah menikah." lanjut Jo lesu
Alvin : "Kau - sudah - menikah?"
Jo : "Iya, aku di jodohkan oleh ayahku. Karena aku punya gangguan tidur. Secara kebetulan aku menikah dengan adik kelasku."
Alvin : "Tolong, jelaskan pelan-pelan. Dari tadi jantungku serasa mau melompat mendengar penjelasanmu."
Jo : "Aku sudah menikah sejak tiga bulan yang lalu, tapi dia tidak mencintaiku. Karena dia sudah punya pacar, kau tahu siapa pacarnya?"
Alvin : "Mana aku tahu."
Jo : "Dev."
Lagi, Alvin melotot. Dia tahu jika di antara kedua sahabatnya itu sudah seperti saudara, dikarenakan hubungan mereka waktu masih sekolah begitu dekat.
Jo : "Dan aku, sudah melakukan sesuatu yang membuatnya teramat membenciku. Aku sudah.." ucapan Jo terhenti
Alvin : "Lalu?"
Jo : "Dia pergi meninggalkanku, dan sampai sekarang aku tidak tahu dia ada dimana."
Alvin hanya terdiam, dia tidak tahu harus berkomentar apa.
Jo : "Apalagi, aku melakukan itu padanya tepat di hari ulang tahunnya."
Alvin : "Memang kapan hari ulang tahun istrimu?
Jo : "Tanggal 04 Juni."
Alvin : "Wah.. itu hadiah teristimewa."
Bersambung