Suami Yang Dibenci

Suami Yang Dibenci
Maaf


Keesokan pagi


Maria membuka matanya, berharap semalam adalah mimpi buruk. Tapi tidak, dia merasakan pelukan posesif itu begitu kuat di perutnya. Dia melepas tangan sang suami, lalu mencoba menginjakkan kaki di lantai untuk memungut handuknya, airmatanya kembali jatuh, seiring rasa sakit yang kembali muncul.


Dia meraih handuk dan memakainya dengan pandangan nanar. Dia berjalan, duduk di dekat jendela dan menatap kosong. Isakannya kembali terdengar sangat pilu. Dia merasa telah hancur dan tak berarti. Semua perlakuan suaminya semalam terekam jelas dalam memorinya, membuatnya terus mengalirkan airmata yang menganak sungai.


"Dev." Maria beberapa kali menyebut nama kekasihnya di sela isakannya.


Jo terbangun mendengar tangisan istrinya. Dia berjalan mendekat, lalu memeluknya dengan erat. Tangisan istrinya semakin terdengar keras. Bahkan dia tidak mau mengangkat wajahnya, hanya memeluk lututnya.


"Maafkan aku Maria, aku pikir kamu sudah pernah melakukannya. Andai saja aku tahu, kalau kamu masih.." Jo menjeda ucapannya "aku tidak akan melakukan itu padamu." ucapnya dengan penuh penyesalan.


Maria terus menangis bahkan bukan lagi isakan, tapi suara pilu yang membuat Jo semakin merasa bersalah. Hingga tak hentinya dia mengucap maaf.


Perlahan Maria mengangkat wajahnya, menatap suaminya yang kini tersenyum dengan tulus. Tidak lagi buas seperti beberapa saat yang lalu.


"Maria, aku tidak rela kamu bersama laki-laki lain. Aku sangat mencintaimu."


"Kamu mencintaiku? Kamu bilang kamu mencintaiku? Jika memang kamu mencintaiku kamu tidak akan pernah merendahkanku seperti ini. Kita memang sudah menikah, tapi bagiku pernikahan kita ini palsu. Kita menikah bukan karena cinta. Dan sebelum bersamamu aku sudah punya kekasih."


Jo merasa seperti tertusuk panah pada bagian jantungnya. Dia menyadari telah melakukan kesalahan fatal atas apa yang dia lakukan, justru membuat wanita yang sangat dia cintai membencinya, dan tidak akan pernah bisa melupakan kesalahannya seumur hidup.


"Maria, aku sangat menyesal. Ribuan kata maaf pun tidak ada gunanya. Tapi apa kamu tidak bisa memberiku kesempatan? Apa kamu tidak bisa mencoba untuk menerimaku?" Jo mulai menitikkan airmata.


"Dalam hatiku hanya ada Dev, aku sangat menyayanginya. Meskipun kami sudah pacaran selama tiga tahun lebih, Dev tidak pernah menyentuhku sampai sejauh ini, dia sangat menghargai keputusanku. Tapi setelah ini aku juga akan kehilangannya. Jadi kamu tidak perlu khawatir, kamu berhasil membuatku berpisah darinya. Terima kasih, terima kasih untuk semuanya." Maria tertawa kecil di sela isakannya.


Sekali lagi, jantung Jo seperti tertusuk panah untuk kedua kalinya. Ucapan istrinya sungguh menyayat hatinya.


"Ceraikan aku."


Jo tak percaya dengan apa yang dia dengar. Pasti istrinya bercanda, dia tak mungkin bersungguh-sungguh.


"Maria, aku tahu kamu marah. Tapi jangan pernah mengatakan kalimat mengerikan itu." Jo kembali merangkul istrinya yang terisak "aku tidak ingin berpisah darimu, kamu adalah hidupku Maria." desahnya lembut


"Aku tidak bisa hidup bersamamu Jo. Aku salah. Aku terlalu cepat mengambil keputusan menikah denganmu." Maria menahan tangisnya


"Aku tahu aku salah, aku telah mengambil semuanya semalam secara paksa. Tapi kita suami istri bukan? Kumohon jangan ambil keputusan terlalu cepat." Jo menekan keningnya ke kepala Maria dengan isakan penuh penyesalan.


"Aku tidak bisa hidup dengan pria kasar sepertimu." Maria tak peduli apapun yang dikatakan suaminya. Dia meluapkan segala isi hatinya saat ini.


"Maria please... aku cemburu, aku terlalu takut kehilanganmu." Jo merengkuh kedua pipi Maria dan memaksanya memandang wajahnya. "Demi Tuhan jangan katakan apapun lagi. Aku rela melakukan konferensi pers dan meminta maaf padamu di hadapan dunia sekalipun." mohonnya dengan terus mengelus wajah istrinya. Mencium hidung lalu menyatukan keningnya.


Maria mendorong tubuh Jo pelan tapi dengan tenaga penuh.


"Aku tidak bisa hidup denganmu. Kita berpisah." katanya pasti


Dia berdiri membiarkan Jo merasakan sesak di dadanya. Jo berusaha meraih tangan Maria tapi ditepis olehnya.


***


Setelah rapi Maria mengambil tasnya tak lupa ia membawa ponsel. Jo yakin apa rencana istrinya kali ini. Segera dia membersihkan diri, kemudian memakai kemeja dan celana jeans warna hitam. Dia meraih ponsel dan menghubungi sekretarisnya yang kebetulan sedang dalam perjalanan ke rumahnya.


"Hallo, hari ini aku tidak ke kantor."


"Kenapa? Apa ada masalah?"


"Hanya masalah kecil dengan istriku."


"Hmm, baiklah. Apapun masalah yang kau hadapi semoga terselesaikan dengan baik."


"Terima kasih."


Sambungan diputus.


Sementara di seberang sana, Ramon sedang menebak-nebak apa yang terjadi pada bosnya.


"Anak itu pasti sudah berbuat aneh-aneh."


***


Maria berjalan menuruni anak tangga, dengan langkah buru-buru Jo menarik tangannya.


"Tunggu! Kamu mau kemana?"


"Lepaskan!" Maria menepis tangannya


"Maria, tolong maafkan aku. Aku rela melakukan apapun agar kamu mau memaafkanku. Atau kamu tampar aku berkali-kali tidak masalah. Asalkan kamu tetap mau bersamaku."


"Ayo jalan."


Jo terdiam melihat kendaraan yang membawa istrinya pergi sampai menghilang dari pandangannya.


"Maria." dia menghela nafas kasar dan hampir putus asa


***


Setiba di rumah


"Maria." ujar ibu Maria sembari mengedarkan pandangannya ke sekitar halaman


"Dimana suamimu?"


"Aku datang sendirian ibu. Bisakah kita masuk? Ada yang ingin ku bicarakan." jawab Maria to the point


"Oh iya, masuklah." mereka pun duduk di ruang tamu


"Maria."


Lamunan Maria pecah mendengar panggilan dari ibunya yang melihatnya terdiam.


"Katanya ada yang mau kau bicarakan. Apa ini ada hubungannya dengan rumah tanggamu?"


"Tepat sekali ibu. Aku.. aku sudah memutuskan. Kalau kami.. akan bercerai."


Deg


Ibu Maria tertegun mendengar ucapan putrinya. Dia berpikir selama ini putrinya bahagia, tapi hari ini dia mendengar kalimat mengejutkan dari putri kesayangannya.


"Cerai?"


Maria mengangguk.


"Tapi kenapa Maria?" tanya sang ibu khawatir sambil menggenggam tangan putrinya


"Dari awal aku menikah dengannya karena terpaksa. Aku tidak mau mengecewakan ibu. Dan aku berpikir, pernikahan kami mungkin hanya sebentar setelah itu hidupku akan kembali seperti sedia kala. Tapi aku sudah tidak sanggup lagi ibu. Aku ingin segera berpisah darinya."


"Maria, dengarkan ibu. Banyak orang di luar sana yang di jodohkan tapi lama-lama juga saling mencintai. Cinta akan datang seiring berjalannya waktu." bujuk ibunya lembut


"Tidak ibu. Ini tentang perasaan. Sekeras apapun aku berusaha aku tidak akan pernah bisa mencintainya. Karena sedari awal kami seperti orang asing."


Mendengar jawaban putrinya, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Ucapan Maria terdengar yakin tanpa keraguan.


"Lebih baik sekarang kau pulang. Bagaimanapun, semuanya harus di bicarakan dengan baik-baik. Saat ini suamimu pasti sedang menunggumu di rumah."


"Baik ibu, aku pulang."


***


Malam hari


Ayah dan ibu Maria datang ke rumah Jo. Disana sudah ada ayah Jo yang duduk di ruang tamu. Wajah tegang juga gelisah terlihat dari mereka. Terlebih saat Jo dan Maria tiba, tak tampak sedikitpun mereka tersenyum.


"Aku ingin berpisah dari Jo." ucap Maria di hadapan mereka


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba kau ingin berpisah? Kumohon nak, urungkan niatmu." bujuk ayah Jo lembut


"Ayah, aku minta maaf. Aku sudah memikirkannya semalaman. Dan aku tidak bisa mengatakan alasannya."


Semua orang membisu, tidak ada yang bisa membujuk Maria karena tekadnya untuk berpisah dari suaminya sangat kuat.


"Katakan, sebenarnya ada apa?" sekarang giliran ayah Maria yang berbicara.


Membuat Maria menggeleng, tapi isakannya tidak bisa berbohong, dia memendam rasa sakit yang luar biasa.


"Jika kau tidak ingin berbagi, seharusnya kau selesaikan berdua. Pernikahan tidak hanya antara kau dan suamimu. Tapi antara ayah dan ayah Jo. Terlebih saat kau mengatakan ingin berpisah." dia menatap putrinya dalam yang tampak kalut


"Ayah, dari awal aku tidak menginginkan pernikahan ini." jawab Maria terisak


"Ayah minta maaf, ini semua salah ayah dan ibu. Kami hanya ingin kau bahagia, di mata kami Jo adalah sosok yang sempurna untukmu."


Kalian tidak mengerti. Sampai kapanpun aku tidak akan bisa menerimanya. Dev, aku sangat merindukanmu.


Bersambung