
Pagi-pagi sekalu, Kalandra sudah memboyong Arum dan Aidan pergi dari hotel. Mereka tak lagi menginap di sana karena Kalandra langsung membayar biaya penginapan mereka.
“Mau ke mana, sih, Mas?” Arum penasaran. Ia mengemban Aidan yang terpaksa bangun dan masih terkantuk-kantuk. Sedangkan di sebelahnya, Kalandra menarik koper besar milik mereka.
“Ke tempat pelelangan ikan terdekat! Aku pengin makan masakan aneka ikan!” ucap Kalandra bersemangat.
Arum mengernyit menatap serius sang suami seiring senyum geli yang seketika tersungging di bibir tipisnya. “Kayak orang ngidam.”
“Ya ampun, masa iya baru proses langsung jadi?” Kalandra benar-benar syok.
“Ih, ih ... ngomongnya sudah mulai ngawur!” lirih Arum merasa gemas kepada suaminya.
Kalandra hanya menahan senyumnya yang perlahan menjadi tawa. Kemudian, ia merangkul punggung Arum karena biar bagaimanapun, suasana pagi ini masih sangat dingin apalagi waktu memang baru sekitar pukul lima lewat dua puluh pagi.
“Kalau yang dengki ke kita pasti mikirnya, kita enggak ada budget buat bayar hotel, makanya kita sepagi ini mendadak keluar dari hotel. Malahan kalau dipikir-pikir, kita berasa buronan malahan, Mas!” ucap Arum, tapi sang suami hanya menertawakannya.
“Yang dengki begitu ke kita ya paling Septi and family!” Sambil membukakan pintu penumpang sebelah setir, Kalandra berkata, “Dari kemarin kan kita makannya di luar terus dan beneran belum ada yang secocok masakan kamu. Jadi dari mandi tadi, asli aku kelaparan. Eh pas bisa tidur tiba-tiba mimpi lagi cari ikan terus dapat banyak banget.”
“Kata orang, mimpi dapat banyak ikan itu artinya bakalan dapat banyak rezeki, Mas!” ucap Arum sambil duduk dengan hati-hati karena Kalandra saja sampai menaruh tangan kanannya di atas kepala Arum.
“Amin. Rezekiku kan dapat kamu sama Aidan. Kalian ibarat rezeki buat keluarga besarku,” ucap Kalandra yang walau sedang buru-buru masih saja sempat menggoda-goda Aidan yang merem melek menahan kantuk.
“Mas ih, ... kalau Aidan sampai nga-muk, nanti aku enggak bisa masakin Mas,” tegur Arum sambil membenamkan wajah sang putra di dadanya.
Kalandra yang menahan tawanya berkata, “Gemes banget, Yang.” Ia bergegas memutari mobil bagian belakangnya. Terlebih dahulu, ia menyimpan kopernya di bagasi sebelum akhirnya duduk di balik setir dan siap mengemudi.
“Eh, Mas. Nanti masaknya di mana?” sergah Arum.
“Pulang dulu kali, ya. Masak di rumah lebih enak, kan? Bentar aku telepon mamah minta buat siapin rempah. Aku mau makan pindang sama ikan bakar bumbu kecap, yah, Yang! Asli aku pengin itu banget. Sumpah ini aku sudah lapar banget!” ucap Kalandra yang juga sekaligus berkeluh kesah sambil sesekali menelan ludahnya.
Arum tersenyum prihatin, mengangguk-angguk menatap sang suami. Seperti biasa, Kalandra dan orang tuanya memang kerap bermasalah dengan makanan. Karena sekali kurang cocok, mereka juga akan langsung kehilangan selera makan.
“Omong-omong, ... Mas beruntung banget loh, punya istri aku yang pinter masak. Pinter segalanya pokoknya! Ini aku enggak lagi bebek silem awake dewek kon ra dialem!” ucap Arum yang kemudian tertawa.
Kalandra juga ikut tertawa. “Lah, kan aku sudah berulang kali bilang, aku merasa beruntung dapat kamu!”
Arum melirik Kalandra sambil tersenyum bangga. Ia sengaja pamer. “Ya iyalah. Mas wajib begitu. Jangan sampai, taflon sama wajanku melayang!” Ia menahan tawanya.
Kalandra yang sudah mengemudikan mobilnya, menatap Arum penuh cinta. Tangan kirinya meraih kepala Arum, membe-lai rambut sebahu Arum yang tergerai, penuh sayang. “Nanti aku beliin taflon sama wajan yang banyak, biar kamu yakin aku akan selalu tanggung jawab.”
Sambil menahan senyum dan membuatnya tidak bisa menutupi kemanjaannya, Arum berkata, “Biar makin semangat masaknya, maksudnya?”
Arum langsung tersipu. “Iya ....”
Kalandra yang masih mengelus kepala sang istri penuh sayang, berkata, “Mulai awal bulan depan, mulai renovasi.” Kalandra mendadak heboh karena di belakang sana, ia melihat pak Haji yang kembali datang ke hotel.
Pak Haji menggunakan motor dan sudah sampai ganti pakaian, bukan pakaian terakhir kali mereka bertemu.
“Tuh orang beneran geblek ih, Mas!”
“Biarin. Biarin dia jadi penunggu hotel dan ngira kita masih ada di dalam!” Kalandra susah payah menahan tawanya. Ia sampai lemas menertawakan kelakuan pak Haji.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, mereka telah sampai di pelelangan ikan. Arum langsung terperangah, takjub melihat keramaian jual beli ikan di sana. Memang suasana di sana sangat sumpek dan aromanya juga sangat amis, tapi Arum merasa sangat bahagia. Pengalaman pertama menginjakkan kaki di tempat pelelangan ikan terbesar di kabupaten mereka.
“Yang, beli kepiting, kamu bisa masaknya enggak?” rengek Kalandra.
“Bisa, semuanya bisa tinggal diatur Mas maunya yang rasa kayak apa. Sekalian beli kerang juga. Nanti kita masak besar buat papah mamah juga. Terus nantinya, berarti kalau kita butuh stok ikan buat rumah makan kita, kita ambilnya dari sini, tah, Mas?” sergah Arum bersemangat. Belum apa-apa dan baru melihat hasil laut di sana, otaknya sudah merancang pundi-pundi uang. Aneka menu untuk segala olahan laut di sana sudah langsung ia rencanakan.
Pulangnya Kalandra dan Arum langsung membuat orang tua Kalandra apalagi ibu Kalsum heboh. Mereka langsung bagi-bagi tugas. Ibu Kalsum langsung memandikan Aidan yang dikata mirip anak nelayan lantaran kali ini bocah itu mendadak bau amis. Sementara Arum bertugas menyiapkan masakan untuk mereka dibantu oleh Kalandra maupun pak Sana. Tak lupa, kedua pria itu juga turut membersihkan hasil laut yang Kalandra dan Arum beli termasuk itu kerang hijau.
“Lah ini ... ini apa ini? Ini buah, kan, bukan hasil laut?” ucap pak Sana sambil memeriksa satu kantong lorek hitam putih berukuran besar yang ada di antara kantong berisi hasil laut di lantai dapur.
Kalandra yang sedang membersihkan cumi-cumi di wastafel membenarkan. “Iya, Pah. Itu yang asem banget rasanya, Pah. Tapi kata mamaknya Aidan, seger kalau dibikin rujak.”
Arum yang tengah memasak pindang ikan kakap dan aroma lezatnya sudah menguasai seantero dapur, langsung tersenyum. Apalagi hadirnya ibu Kalsum juga langsung membuat kebersamaan heboh.
“Oh iya, bener, ini gowok! Rasanya memang asam, tapi seger banget kalau dibikin rujak. Nanti pakai kecombrang yah, Mbak, biar lebih seger!” ucap ibu Kalsum bersemangat.
Saking semangatnya, suara ibu Kalsum sangat berisik. Sang suami yang sudah terbiasa hanya menggeleng tak habis pikir. Pak Sana yang kemudian mengambil kerang hijau, memberikannya kepada Kalandra untuk dicuci sebelum dikantongi dan disimpan di kulkas, berkata, “Berarti mulai sekarang, Mbak sudah boleh eksperimen menu buat rumah makan, ya. Nanti dari kita yang cicip-cicip, terus dijadikan menu paten.”
“Nah, gitu! Jadi semacam seafood gitu, yah, Pah!” ibu Kalsum bersemangat.
Kebersamaan di sana makin heboh ketika Kalandra memamerkan kepiting jumbo yang ia dapat.
“Wah, dimasak lada hitam itu enak banget! Mbak, nanti malam masakin ini juga, ya!” pak Sana heboh.
“Nanti malam, jatahnya kami ke pantai, Pah. Rencananya mau nginep di Pangandaran!” keluh Kalandra.
Arum yang merasa sangat dihargai apalagi kariernya membuka rumah makan juga sangat didukung, santai-santai saja. Malahan, Kalandra dan orang tuanya yang heboh mengatur segala sesuatunya.