
Tuan Maheza dan Aleya berencana merenovasi rumah orang tua Resty, agar ketika mereka pulang kampung, mereka bisa tinggal di sana. Terlebih jika melihat keadaan, mereka yakin akan lebih sering pulang kampung. Tak semata agar orang tua Resty bisa merasakan nuansa kampung halaman maupun rumah, tapi juga agar mereka masih bisa bercengkerama dengan keluarga Arum.
“Makanan dan minumannya, cukup beli di warung Septi, biar saya dapat banyak lampu hijau dari anak sambung saya yang sangat pekerja keras, yah, Pak Maheza!” ucap pak Haji tak lupa mempromosikan Septi.
“Nanti yang antar ke sana, juga calon papah yang sangat tanggung jawab, kan, Pak Gede?” ucap Septi sengaja menggoda pak Haji.
“Hah ...?” Pak Haji langsung panik. Karena biar bagaimanapun, rumah orang tua Resty tidak jauh dari rumah orang tua Arum dan jalannya bisa bikin badan remuk. Parahnya, andai sampai jatuh dan kepala kebentur, itu bisa bikin gegar otak. Alasan yang juga membuat wajah pak Haji menjadi ngenes.
Tentu, Kalandra, Arum, Widy, termasuk Septi tahu, kenapa musafir cinta mendadak kalem mirip bocah tak berdosa layaknya sekarang.
Beres dari warung Septi, rencananya rombongan Kalandra akan langsung ke pantai Pangandaran yang letaknya ada di Jawa Barat, tapi juga dekat dengan kota mereka tinggal. Ibaratnya, pantai Pangandaran memang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Mereka akan menginap untuk melihat matahari pagi di keesokan harinya. Karena jika melihat matahari terbenam, tampaknya itu mustahil. Jalanan di kecamatan depan warung Septi saja sangat macet.
“Sudah, ke Pangandaran kapan-kapan saja. Macet, capek di jalan iya. Yang ada, besok kalian enggak bisa jadi saksi pernikahan saya!” ujar pak Haji masih berisik. “Kasihan anak-anak. Mending sekarang kalian jalani wisata alam saja. Ke sawah saya yang sedang digarap Anggun dan Supret, contohnya!” lanjutnya lagi.
Setelah berunding, semuanya sepakat melihat-lihat sawah pak Haji yang sedang digarap Anggun dan Supri.
“Kapan lagi lihat gajah sama jerapah garap sawah, kan?” ucap pak Haji yang kali ini bersiap membonceng ibu Fatimah menggunakan motor matic merahnya.
“Ahaaaah! Deg-degan!” sorak pak Haji kegirangan sendiri. Membuat yang lebih muda ikut geger menertawakan sekaligus menyorakinya.
Pak Haji yang membonceng ibu Fatimah mirip pengantin yang sedang dikawal. Tak hanya pak Haji yang tersenyum ceria dan tampak jelas sulit mengakhirinya. Karena yang mengawal menggunakan mobil pun, iya. Rombongan yang harusnya ke pantai itu malah berwisata alam ke sawah.
“Mbah, dua istrinya gimana? Tanggapan mereka pas tahu Mbah mau nikah lagi? Mereka setuju enggak, atau setidaknya, Mbah sudah izin, belum?” tanya Arum penasaran. Ia masih bertahan mengemban Azzura. Sementara kali ini, Azzam dieban Kalandra. Sebab Aidan mengalah, berdiri di antara mereka sambil berpegangan pada pakaian mereka.
“Yang dua itu, asal uang bulanan lancar, ya diem. Namun andai saya nikah lagi, saya wajib kasih sawah seluas seratus ubin. Jadi, kedua petak sawah yang sedang digarap Gajah dan Jerapah, bakalan jadi milik mereka karena saya jadi menikah lagi,” jelas pak Haji.
“Kesannya matre, tapi wanita mana sih, yang mau dimadu berulang kali?” bisik Arum kepada Widy yang berdiri persis di sebelahnya.
Widy langsung mengangguk-angguk sambil menatap sang Kakak. “Bisa jadi tuntutan ini itu yang mereka jadikan syarat jika pak Haji nekat menikah lagi, merupakan bagian dari upaya mereka agar pak Haji enggak menikah lagi, Mbak.”
“Jadi enggak bisa berkomentar. Kesan pertama, memang matre. Namun jika lihat dari sisi berbeda, manusia mana apalagi wanita mana, yang akan benar-benar rela berbagi suami, perhatian, dan juga segalanya. Apalagi sejauh ini, waktu pak Haji juga banyak yang habis di luar kebersamaannya dengan istri-istrinya. Malahan dipikir-pikir, pak Haji lebih sering sama kita ketimbang sama keluarganya.” Arum masih berbisik-bisik kepada Widy.
“Tapi pak Haji pernah cerita, katanya, kedua istrinya cuma sibuk rebutan harta. Makanya pak Haji jadi enggak betah di rumah, selain pak Haji yang anti menceraikan istri,” balas Widy.
“Biar jadi urusan mereka. Kita hanya menonton, dan belum tentu apa yang kita simpulkan dari yang kita tonton, sama dengan yang mereka rasakan,” balas Arum lagi.
Widy mesem. “Tapi, Mbak. Mbak Aleya beneran ingin jadi besan Mbak,” bisiknya. “Dari tadi terus bilang ke Cikho, Cikho harus sayang sama dek Azzura, ya. Gitu!”
Mendengar itu, Arum hanya tersipu.
Arum menghela napas dalam. “Mbak serahkan ke anak-anak yang mau menjalani, sih, Dy. Mereka mau ya lanjut, enggak ya enggak apa-apa. Soalnya, gini-gini Mbak juga korban perjodohan saat dengan mas Angga,” balasnya dan langsung membuat Widy sibuk meminta maaf penuh sesal karena biar bagaimana pun, dulunya Widy sangat berperan dalam perjodohan Arum dan Angga.
“Sayang, daripada kita ke sawah orang, ayo kita ke sawah kita. Ke peternakan, ke kolam ikan!” ajak Kalandra bersemangat.
“Hah, memangnya suaminya Arum punya?” Pak Haji terbengong-bengong tak percaya menatap wajah Kalandra dan Arum, silih berganti.
“Dikiranya bisa sampai begini, uang yang saya miliki jatuh dari langit? Saya juga kerja setengah moddar, Mbah! Tanya ke istri saya, saya seiring pergi subuh bahkan dini hari, terus pulangnya malam-malam!” ucap Kalandra.
Pak Haji langsung menatap wajah Arum. “Hati-hati itu Mbak Arum. Pergi dini hari pulang malan-malam, itu bisa jadi tanda kalau suami punya lagi!” yakin pak Haji.
Arum langsung mendelik menatap pak Haji.
“Ya iyalah, ... punya banyak pekerjaan!” tegas Kalandra yang kemudian menawari Arum, haruskah ia mengambilkan taflon Arum yang disimpan di bagasi mobil Sekretaris Lim?
“Ha ha ha!” Pak Haji tertawa ngenes karena takut. “Jangan, Mbak Arum. Kalau saya sampai kena amuk taflon kamu nanti enggak bisa ijab kabul apalagi malam pertama beronde-ronde!” ujarnya yang kemudian menjadi sumber tawa.
“Besok acara malam pertamanya bakalan live, ya?” goda Kalandra yang kemudian ngakak.
Pak Haji kebingungan. Ingin meminta pendapat, hanya anak-anak dan ibu Fatimah saja yang tidak tertawa. Malahan, ibu Fatimah sudah mendelik menatap.
“Paling ya nanti sibuk pamer di grup Pengabdi itu,” ucap Widy sengaja menyindir.
“Hahaha ...!” Akhirnya Pak Haji ngakak apalagi ia juga memiliki ide. “Besok pokoknya wajib dipantengin, ya? Wajib nonton soalnya beneran bakalan live di grup yang isinya sudah pernah janda maupun duda!”
“Nanti sampai di rumah, aku langsung keluar dari grup!” ucap Widy.
Pak Haji kebingungan, kemudian melongok wajah Arum dan Kalandra yang terhalang keberadaan ibu Fatimah maupun Widy dan Sekretaris Lim.
“Ngapain nonton? Mending praktik sendiri, kan?” balas Kalandra setengah tertawa.
“Emang dasar kurang kerjaan, gituan aja mau disiarin!” ucap ibu Fatimah kali ini benar-benar memarahi pak Haji.
Kemudian, kebersamaan mereka dilanjutkan ke peternakan milik keluarga Kalandra. Semuanya sungguh terhibur, berasa menjalani wisata alam yang sesungguhnya layaknya ketika awal Arum diajak di sana oleh Kalandra. Pak Haji sampai iri, dan berdalih terinspirasi untuk menjalani usaha yang sama.
“Jadi, ini memang stok ayam, bebek, ikan, entok, yang buat rumah makan. Kalau masalah beras, itu sawah sekitarnya sudah dibeli per tahun kemarin. Ditambah lagi dari sawah mamahnya anak-anak. Alhamdullilah pokoknya!” cerita Kalandra yang kemudian menegaskan, di balik kehidupan seseorang selalu memiliki kisah sekaligus perjuangan yang berbeda. Termasuk juga mengenai kesuksesannya yang tak jarang membuat mereka harus berjuang hingga titik darah penghabisan.