
“Gimana, Ndlii ...? Widy, ... dia mau lawat, Mamah, kan? Kalau dia engga mau, cali wanita lain saja. Jangan nikah sama dia.” ibu Muji yang sudah mulai bisa bicara walau dengan suara yang cadel, menatap serius kedatangan sang putra. Sekitar tiga puluh menit yang lalu, Andri yang sudah ia beri lampu hijau untuk hubungannya dengan Widy, pamit keluar. Yang ibu Muji tahu, sang putra akan langsung menghubungi Widy, menyampaikan restu yang ia beri.
Dokter Andri menunduk lesu, kemudian menghela napas dalam. “Enggak, Mah. Widy baru lamaran sama pengusaha yang dari Jakarta. Mereka akan menikah satu bulan lagi,” ucapnya pasrah seiring ia yang melangkah menjauh dari sana, menuju sofa lipat sang putri sudah lelap.
“Balu kemalin sudah sama laki-laki lain? Emang dasal wanita engga benel itu, gilaa alta! Nadjjeess,” kesal ibu Muji yang langsung dilempar bantal sofa oleh Dokter Andri. Bantal sofanya mengenai wajah ibu Muji.
Karena daripada berteriak apalagi mengucapkan kata kasar, dokter Andri lebih memilih membungkam sang mamah dengan apa yang baru saja pria itu lakukan. Dokter Andri tak mau, mental Nissa makin terluka karena memiliki nenek seperti ibu Muji.
“Dikasih keadaan seperti sekarang, Mamah masih belum sadar juga?!” kesal dokter Andri dengan suara lirih. “Lama-lama aku capek, Mah! Aku capek berurusan dengan Mamah yang selalu ingin disembah. Aku capek menjadi bagian dari Mamah yang selalu menganggap remeh orang lain!”
“Aku malu punya Mamah pi-cik seperti Mamah!” lanjut dokter Andri. “Sekarang, kalau Mamah memang masih mau diurus, Mamah harus nurut. Kalau Mamah memang enggak mau diurus, sekarang juga aku pergi! Papah pun aku pastikan pergi! Biar papah menikah lagi, biar papah dapat istri yang layak, yang manusiawi!”
“Mamah enggak perlu mengurus kehidupan orang lain apalagi kehidupan Widy karena hidup Mamah saja enggak jelas!”
“Daripada Mamah terus enggak tahu diri begini, mending aku masukin Mamah ke panti jompo sekalian!”
Ibu Muji menatap tak percaya sang putra yang baginya kurang ajar. “Kamu ya, Ndli. Disekolahin tinggi-tinggi, sampai jadi doktel sukses kayak sekalang, malah kulang ajal! Pelgi, kamu. Enggak tahu dili!”
Tanpa pikir panjang, dokter Andri yang masih menyimak serius, berangsur mengangguk. “Oke!”
Ibu Muji tak peduli walau detik itu juga, dokter Andri sungguh membereskan barang-barangnya maupun buku dan perlengkapan tulis Nissa yang sempat mewarnai meja. Kemudian, yang langsung dokter Andri lakukan adalah membangunkan Nissa. Dokter Andri melakukannya dengan sangat lembut, kemudian mengembannya penuh sayang.
“Ngantuk Papah, ... sahurnya bentar dulu,” rengek Nissa.
Dokter Andri sungguh membawa Nissa pergi dari sana. Tak peduli walau ia kerepotan karena harus membawa tiga tas sekaligus. Satu tas sekolah Nissa, satu tas kerjanya, dan satu lagi selaku tas paling besar, merupakan ransel mereka.
“Kita lihat sampai kapan kamu tahan. Awas ya, jangan ngalep walisan!” kecam ibu Muji.
“Ya Alloh, semoga hamba tidak termasuk dalam orang tua luknut seperti mamah hamba!” batin dokter Andri yang menembus keheningan sekaligus kegelapan malam yang menyelimuti rumah sakit. Suasana benar-benar sepi dan hanya beberapa pembesuk yang jaga saja yang masih berkeliaran ke kamar mandi maupun ke mushola. Namun, tujuan dokter Andri langsung keluar rumah sakit, tempat parkir di mana mobilnya terparkir. Yang dengan kata lain, di ruang rawatnya, ibu Muji benar-benar sendiri karena sang papah tengah dirawat di klinik pribadi. Efek kelelahan menjaga ibu Muji, kesehatan pak Ardi memang langsung memburuk. Tak semata karena harus terjaga dua puluh empat jam, tapi juga efek ibu Muji yang jika diurus malah makan hati.
***
Sementara itu, sekitar pukul dua pagi sebelum yang lain keluar dari kamar, Widy sudah sampai shalat tahajud. Selain Widy yang juga sudah sampai membangunkan Sekretaris Lim. Kini, di hotelnya menginap, Sekretaris Lim sudah langsung bersiap untuk pertemuan mereka.
Ketika Widy keluar dari kamar, kesunyian masih menyelimuti, tapi pintu dapur dalam keadaan terbuka dan lampu pun menyala semua. Menandakan di sana memang sudah ada aktivitas dan Widy yakini Arum yang tengah mulai masak.
“Mbak ...?”
Sapaan dari Widy membuat Arum yang tengah mengeluarkan setiap kotak makanan dari kulkas, terusik. Arum menatap heran Widy. “Sudah rapi? Mau pergi?”
“Oh, ... kenapa enggak sahur di sini, saja?” ucap Arum.
“Ih, Sayang. Kamu kayak enggak pernah ada di posisi mereka saja,” ucap Kalandra yang kebetulan memang baru datang.
Kalandra masih tampak terkantuk-kantuk, walau wajah dan rambut sekitar wajahnya tampak masih setengah basah. “Anak-anak masih tidur?” tanya Kalandra.
Widy mengangguk. “Tadinya suruh diajak, tapi mereka masih pulas banget.”
Kalandra menggeleng. “Enggak usah dibangunin, mereka pasti masih capek. Biar kalian ada waktu berdua juga. Enggak apa-apa, sudah sana pergi,” yakinnya.
Widy yang memakai masker putih tanpa merias wajah berlebihan, langsung tersenyum ceria menatap Kalandra. “Makasih banyak, Mas!”
Arum yang awalnya tengah menghangati rendang daging dan telur, sampai tidak fokus dan memilih mematikan apinya. Arum memeluk Widy yang ia yakini sudah sangat terharu, tapi tak mungkin memeluk Kalandra. Karena yang ada, Kalandra juga lebih nyaman memeluknya. Kalandra hanya sesekali mengelus kepala Widy, atau malah menepuk-nepuk punggung Widy.
“Sudah, ... kalau mau peluk-peluk saja. Nangis juga enggak apa-apa karena nanti pasti akan ada masa kita rindu ini. Momen seperti sekarang beneran enggak akan terulang!” yakin Kalandra masih berucap lirih dan memang sengaja menjaga suaranya.
“Makasih banyak, Mas ... Mbak!” lirih Widy terisak nelangsa. Hanya saja, alasannya terisak nelangsa kali ini karena ia terlalu bahagia. Bayangkan jika ia tidak mengikuti arahan dari Arum dan Kalandra? Otomatis ia masih menjadi keset Agus sekeluarga hanya karena kebucinannya.
Walau Arum tengah memeluk Widy, berlinang air mata wanita itu menoleh ke belakang, kemudian menghadiahi sang suami kecupan di pipi.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Sekretaris Lim sungguh datang. Pria itu masuk dan langsung izin pada mereka yang tengah bersiap sahur.
“Iya, Koko kamu juga sudah izin. Ya sudah, kalian hati-hati,” ucap Kalandra dan memang tidak mempersulit izin Sekretaris Lim. Kalandra sudah sangat percaya kepada Sekretaris Lim, apalagi pria berusia dua puluh sembilan tahun itu merupakan adik Tuan Maheza, rekan bisnis yang kini malah menjadi sahabat baiknya.
Yang mengantar kepergian Sekretaris Lim dan Widy, hanya Arum dan Kalandra. Keduanya mengantar hingga depan gerbang.
“Mereka romantis banget. Lebih romantis dari Koko sama Aleya!” komentar Sekretaris Lim.
Di sebelah Sekretaris Lim, Widy yang ikut mengawasi kebersamaan Arum dan Kalandra, langsung tersipu. Di belakang sana, Kalandra memang langsung mendekap Arum dari belakang, padahal kedua sejoli itu sedang melepas kepergian mereka.
“Aku juga ingin romantis seperti mereka walau sudah bukan pengantin baru,” ucap Widy sambil menatap malu Sekretaris Lim yang duduk di sebelahnya.
Sekretaris Lim langsung menahan senyumnya. Tanpa peduli pada sopir yang ada di depan mereka dan masih mengemudikan mobil dengan hati-hati, Sekretaris Lim yang melepas maskernya, berangsur menempelkan bibirnya di kening Widy.
Dalam diamnya, Widy mendadak berharap, waktu yang berputar akan memihak kepadanya. “Paling tidak jika tidak bisa berhenti, biarkan untuk kali ini saja, waktu berputar lebih lambat!” batinnya.