
Rumah orang tua Arum tak serta-merta dirobohkan. Semua yang masih bisa dipakai semacam genteng dan juga asbes, diturunkan oleh warga. Termasuk pintu dan kusennya, nantinya boleh diambil cuma-cuma oleh warga.
Sepanjang pembongkaran, Arum dengan tegar memeluk Widy, mendekap erat sang adik yang sampai menangis meraung-raung. Arum tahu, alasan Widy begitu bukan karena rumah mereka yang akhirnya dibongkar, melainkan karena adiknya itu takut dicerai.
Di tengah suasana yang mendung, warga bergotong royong tanpa kendala berarti. Malah Agus dan keluarganya yang tampak tak terima rumah yang selama lima tahun terakhir menjadi tempat tinggal mereka malah dibongkar.
“Kalau aku sampai beneran cerai bagaimana, Mbak? Anakku tiga masih kecil-kecil.” Widy terisak pedih dalam dekapan Arum.
“Itu jauh lebih baik daripada kamu punya suami, tapi dijadikan sapi perah. Iya kalau suami kamu yang pengangguran sukses itu mau bantu-bantu. Lah wong kerjaannya cuma ngukurin kasur (tidur) atau ngukurin dalan (jalan-jalan). Orang gilla aja pinter suruh gitu, Dy,” jawab Arum masih emosi. “Selama ini yang urus semuanya kalau kamu lagi ngajar, Mamak, kan? Ketiga anak kamu juga tetap Mamak yang uru walau suami kamu dan keluarganya selalu di rumah? Beres-beres rumah, masak, juga kalau bukan kamu yang lakuin, Mamak yang urus? Suami kamu sama keluarganya ngapain?”
“Kalau terus-menerus begitu, yang ada kamu tua penyakitan terus mati, dia senang-senang nikah lagi dan anak-anakmu enggak diurusin!” lanjut Arum. “Sekarang semuanya terserah kamu. Namun tentu saja, masa depan kamu apalagi anak-anak kamu, sangat tergantung ke kamu!”
“Kalau dia enggak mau berubah, ceraikan saja! Kamu cukup urus tiga anak kamu. Kamu fokus kerja, dan Mamak pun cukup bantu kamu urus anak-anak, enggak harus urus keluarga suami kamu yang enggak tahu diri itu! Lah wong kopi sama udud (rokok) juga dari uang kamu kok!”
“Mending pakai uang kamu buat modal usaha dan bisa jadi bekal masa depan, daripada pakai uang kamu buat menghidupi orang yang enggak ada timbal baliknya ke kamu. Lah wong melihara ayam apa kambing saja bisa bikin kita kaya, atau seenggaknya kasih pemasukan. Kalau gitu caranya, suruh sekalian ngepeet saja si Agus biar lebih berguna dan bisa kasih kamu penghasilan!” lanjut Arum.
Kalandra yang sedari awal diam, mendadak menahan tawanya lantaran Arum menyarankan Agus untuk nge-pet atau itu menjalani ritu-al pesugi-han asal Agus bisa berguna sekaligus menghasilkan.
“Perceraian enggak akan bikin dunia kamu kiamat asal kamu pakai otak kamu buat hidup lebih maju, Dy! Mbak yang hanya lulus SMP saja bisa, masa iya kamu yang sarjana dan sampai jadi guru, enggak?” lanjut Arum.
“Mbak, ... Mbak enggak bisa gitu, dong! Kalau cara Mbak gini, Mbak sama saja menghan-curkan rumah tangga orang!” protes Agus yang sedari awal tetap di sana padahal barang-barangnya sudah dikeluarkan dari rumah baru ibu Rusmini.
“Kamu boleh ngomong begitu kalau kamu ada usaha. Aku pun enggak bakalan begini kalau kamu enggak kebangetan. Jangankan didik istri, kasih nafkah pun enggak. Kamu cuma lontang-lantung enggak jelas. Pergi melamar kerja berhari-hari enggak balik, dan kasih kabar kalau butuh duit. Selalu gitu, kan? Sekadar duit buat makan sama pulang saja sampai ditransfer-transfer dari Widy? Seperti yang tadi aku katakan, memelihara ayam sama ternak lagi menghasilkan. Lah kamu cuma bisa kasih anak, kucing di jalan saja pinter! Sekarang kamu berani protes begitu, atas dasar apa?” Arum makin mengomel. “Semacam kepastian kamu mau berubah atau enggaknya saja, kamu enggak bisa kasih. Sekarang begini, kalau kamu memang tetap enggak mau berubah, ceraikan Widy. Cukup talak, nanti aku yang modalin buat beresin!”
Agus menghela napas dalam kemudian merapatkan jaraknya kepada Arum. Tampang yang sangat menantang. “Kamu begitu ngotot membuat kami bercerai karena kamu naksir berat ke aku biar kamu bisa secepatnya sama aku apa gimana, Mbak?”
Mendengar itu, tak hanya Arum yang langsung emosi. Karena Kalandra juga langsung maju. Namun karena Arum sudah langsung melepas sandal kanannya kemudian meng-hantamkannya sekuat tenaga ke wajah sekaligus kepala Agus, Kalandra sengaja menunda emosinya, menunggu giliran.
“Melek mata kamu! Calon suamiku jauh lebih segalanya daripada kamu. Bahkan andai aku enggak sama dia, sekadar lirik kamu saja aku enggak sudi! Kamu juga melek, Dy. Ke Mbak saja dia berani, apalagi ke wanita lain yang enggak kamu tahu. Atau malah pas alasan lamar kerja ke kota. Jangan-jangan dia sudah nyeleweng!” Arum sungguh ingin meng-muk. Apalagi di sebelahnya, Widy malah langsung nangis kejer.
“Mamak juga melek, Mak. Mending Widy jadi janda terus dapat laki-laki waras bertanggung jawab daripada punya suami yang ganteng aja pas-pasan tapi sok ganteng!” lanjut Arum.
Acara hari ini berakhir dengan Widy yang lebih memilih bercerai karena Agus saja langsung minggat bersama orang tua dan juga adiknya. Adik Agus itu laki-laki dan usianya hanya satu tahun lebih muda dari Widy. Namun dari semuanya, benar-benar tidak ada yang bekerja atau sekadar bantu-bantu.
Sebagian barang-barang Agus memang masih ditinggal, tapi sengaja Arum buang, ratakan di lubang penampung sam-pah.
“Ini jauh lebih baik, sih. Sumpah, ini beneran jauh lebih baik!” batin Arum.
Rumah orang tua Arum telah rata dengan tanah. Yang tidak bisa diselamatkan sengaja diratakan ke sebelah pondasi rumah hingga keadaan di sana langsung rata sekaligus rapi.
Sebenarnya warga termasuk aparat desa sudah kerap mengingatkan. Bahkan dulu, ibu Rusmini sempat merasakan dinginnya tinggal di balik jeruji besi selama satu bulan, di kabupaten karena ulahnya kepada Arum. Namun, mungkin karena efek sudah telanjur menjadi watak sekaligus budaya, kebiasaan tersebut sangat sulit berubah.
Jadi, alasan kini Arum mendadak menangis, tentu bukan karena ia menyesal telah merobohkan rumahnya hingga suasana di sana tampak sangat padang dan benar-benar luas. Meski jujur, Arum menyesal kenapa rumah sampai harua dirobohkan hanya untuk membuat penghuninya sadar. Alasan Arum menangis, murni karena wanita cantik itu merasa sangat sedih dengan nasibnya di masa lalu. Masa lalu yang kerap membuat Arum ragu bahkan takut. Arum takut, tumbuh di lingkungan keras dan sangat krisis kepedulian, membuatnya akan menciptakan lingkungan serupa untuk Aidan. Meski tentu saja, sampai sekarang ia masih bisa menjaga semua itu agar Aidan tak sampai mengikuti jejaknya, merasakan masa-masa yang lebih pantas disebut mimpi bu-ruk.
Sore nyaris petang, Arum dan Kalandra juga berangsur pamit. Semuanya sudah beres dan di sana juga sampai langsung diadakan syukuran. Widy juga tampak jauh lebih bisa menerima kenyataan. Widy langsung cekatan mengurus ketiga anaknya. Walau tampak sangat berat, Widy juga sudah mulai mau berkomunikasi layak dengan Arum. Begitu juga dengan ibu Rusmini yang tampak sangat patuh kepada Arum.
“Aku punya banyak mata-mata. Kalau ada apa-apa, mereka pasti bantu. Asal kalian juga jadi tetangga yang umum. Kalau Agus sampai datang macam-macam, mereka juga siap gebu-kin tuh orang biar otaknya balik lempeng!” ucap Arum sambil menatap Widy yang membawa ketiga anaknya, ditemani ibu Rusmini. Kelimanya melepasnya hingga depan mobil Kalandra.
Karena Widy kembali menangis dan terisak sangat rapuh, Arum yang masih belum mengurus Aidan karena bocah itu masih menempel nyaman kepada Kalandra, berangsur memberi sang adik pelukan.
“Bangkit, Dy. Kamu boleh nangis, tapi jangan lama-lama. Kamu juga boleh sedih, tapi jangan lama-lama juga. Toh buat apa kamu nangisin laki-laki enggak berguna kayak Agus? Fokus ke lembaran baru kamu, anak-anak kamu butuh kamu!”
“Mungkin apa yang aku lakukan terbilang kejam. Namun percayalah, setelah nanti otak kamu waras, kamu pasti akan berterima kasih.”
"Mamak juga ... kalau Mamak benar-benar sayang Widy, Mamak harus bantu Widy lepas dari orang-orang seperti Agus!”
Setelah Widy dan ibu Rusmini kompak mengangguk paham, keduanya kompak meminta maaf sekaligus mengucapkan terima kasih, Arum benar-benar pergi. Arum pergi setelah sebelumnya juga sampai memeluk ketiga anak-anak Widy, satu per satu. Arum juga sampai memberikan sejumlah uang kepada ketiganya.
Gerimis mengguyur bertepatan dengan mobil Kalandra yang perlahan pergi dari sana. Widy dan ibu Rusmini pun bergegas masuk ke dalam rumah yang walau ukurannya hanya seperempat rumah sebelumnya, mereka yakini akan jauh lebih berkah.
Di dalam mobil, Kalandra yang tak lagi membantu Aidan, berangsur menggunakan tangan kirinya untuk mengelus kepala Arum penuh sayang.
“Kamu tahu, alasanku sayang banget ke kamu? Karena kamu memang sangat beda dari yang lain. Kamu selalu bisa menempatkan diri. Walau kadang aku syok, kamu yang kelihatan pendiam banget dan lihat wajah kamu saja adem, kok bisa lebih menyeramkan dari calon arang,” ucap Kalandra.
Ketika akhirnya tatapan mereka bertemu, Arum langsung meringis memasang wajah tak berdosa. “Tapi asli, Mas. Aku beneran sedih banget, lagi ingat yang dulu-dulu.”
Sambil menahan senyumnya, Kalandra berkata, “Enggak apa-apa, kamu kan manusia, bukan calon arang. Normal kalau kamu sedih, yang penting jangan lama-lama.”
“Tapi kan calon arang itu manusia juga loh Mas. Kalau enggak salah, dia semacam du-kun sakti gitu, kan? Masa iya Mas menyamakanku dengan du-kun sakti?” rengek Arum.
Kalandra tertawa. Untung saja Aidan tidak bangun. “Kamu bahkan lebih sakti dari du-kun sakti, Yang. Buktinya kamu bisa dengan mudah bikin aku sayang banget ke kamu, kan?”
“YA AMPUN!” Arum langsung kikuk dan susah payah menahan senyumnya.
Meski Arum sadar Kalandra sedang merayunya, pada kenyataannya hatinya memang langsung tersentuh. Rayuan barusan sudah langsung membuatnya berbunga-bunga. Ia menjadi sibuk tersipu sekaligus kesulitan mengakhirinya.
***