Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
190 : Bikin Malu!


Dunia Widy seolah menjadi berputar lebih lambat, apalagi ketika akhirnya Sekretaris Lim ada di sebelahnya.


“Bagaimana?” Pertanyaan tersebut, Sekretaris Lim layangkan kepada Widy sambil membenarkan maskernya. Di sebelah sekaligus hadapannya, yang ditanya langsung mengangguk canggung tanpa mau menatapnya.


Di sebelah Widy, dokter Andri yang paham interaksi apalagi interaksi pria yang memiliki maksud lain atau malah perasaan lebih kepada lawan jenis, tentu langsung bisa melihat interaksi berbeda dari cara Sekretaris Lim kepada Widy.


“Masa iya, dia juga suka Widy? Dari Pongah, pak Haji ...?” batin Sekretaris Lim belum apa-apa sudah langsung kebas. Ia tak ubahnya sehelai bulu angsa yang paling lembut kemudian dijatuhkan dari ketinggian tanpa alasan.


Setelah sampai berdeham demi mengurangi kecanggungan yang seketika hadir, apalagi Sekretaris Lim paham statusnya dan Widy itu korban perjodohan paksa, ia sengaja fokus kepada dokter Andri. “Ada semacam rontgen, enggak? Kalau ada, coba buat cek paru-paru Mbahnya.”


“Ada, tapi sebentar dulu, soalnya Mbahnya kehabisan banyak cairan,” balas dokter Andri masih tetap santun.


“Kalau begitu, saya pamit dulu mau cari makan sama minum buat pak Mul.” Niat Widy memang begitu, tapi pak Mul dan sang istri tak mau ditinggal.


“Sama saya, Mbah. Besok ke Jakartanya pun kita bareng-bareng, ya.” Walau sempat ragu, Sekretaris Lim menggunakan kedua tangannya untuk meraih sebelah tangan pak Mul, sementara sebelah tangannya lagi juga meraih sebelah tangan ibu Ripah. Sepasang renta itu mirip anak kecil yang tersesat dan menjadikan Widy sebagai mamahnya. Keduanya tidak bisa jauh dari wanita muda yang kini menatapnya penuh terka.


“Besok?” lirih Widy tak percaya. Ia terpaksa membalas tatapan Sekretaris Lim yang begitu serius dan seolah tidak akan pernah melepaskannya.


“Ya iya, besok. Biar semuanya lebih tertata,” yakin Sekretaris Lim dengan suara yang masih dijaga lirih penuh ketenangan.


“Ya Gusti, ... ada orang sesempurna ini. Ini serius dia ngomong sama aku?” batin Widy yang melengos menghindari tatapan Sekretaris Lim yang diam-diam sudah langsung mencuri hatinya. Di matanya, Sekretaris Lim terlaku sempurna. Hingga yang ada, dalam diamnya ia juga mengutuk dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia malah langsung mengagumi Sekretaris Lim hanya karena sikap dan juga penampilannya. “Nanti yang ada jadi lagu Rungkad lagi. Sudah, biasa saja!” batin Widy lagi yang diam-diam memperhatikan kepergian Sekretaris Lim. Pria itu mendadak menerima telepon dan buru-buru pamit. “Jalan saja sekeren itu. Itu beneran asli keren, enggak sok keren!”


Dan Widy langsung terkesiap karena sentuhan pulpen yang ditekankan ke punggung tangan kanannya. Itu ulah dokter Andri yang ternyata sudah beberapa kali memanggilnya, tapi karena Widy terlalu fokus memperhatikan Sekretaris Lim, Widy baru menyadarinya.


“A-pa, Dok?”


“Kamu mau ke Jakarta ...?”


Widy tak langsung menjawab pertanyaan dokter Andri. Ia terdiam sejenak, menahan napas, dan perlahan menghindari tatapan dalam dokter Andri. “Mumet ... rasanya beneran pusing,” ucapnya yang masih belum berani dan memang sengaja tidak menatap dokter Andri. Ia sengaja menghindari tatapan dokter Andri.


“Ini ada apa lagi?” batin dokter Andri jadi ikut pusing. Lebih pusing lain karena ibu Muji sampai datang, melangkah mirip orang kerasukan arwah jahat. Mamahnya itu langsung menatap Widy penuh emosional.


“Ngapain kamu ke sini-sini lagi?!” kesal ibu Muji.


Ibu Muji tersenyum getir, menatap tak percaya Widy maupun dokter Andri, silih berganti.


“Ibu Muji, di dunia ini yang dilahirkan menjadi orang kaya bukan hanya Ibu. Malahan masih banyak yang lebih dari Ibu!” lanjut Widy.


Di depan sana, Sekretaris Lim yang kembali sambil akan mengantongi ponselnya di saku sisi celana bahan panjang warna abu-abunya, langsung tidak jadi melangkah masuk.


“Kenapa harus sekhawatir ini? Kenapa harus kasar, dan kenapa harus melakukan segala cara hanya untuk menyingkirkan saya yang Ibu anggap tidak selevel dengan Ibu?” Widy menghela napas dalam. “Asal Ibu tahu, kalaupun di dunia ini hanya ada satu laki-laki dan itu dokter Andri, putra Ibu Muji yang haus rasa hormat, ... saya akan memilih untuk tidak mengenalnya. Malahan andai sampai dipaksa, ... saya akan lebih memilih mati. Apalagi jika cara Ibu, tak segan menyerang anak-anak saya. Menyerang orang tua, kakak, ... dan semua orang yang sebenarnya tidak bersalah karena mereka memang tidak tahu menahu.”


“Bahkan saya yakin Ibu tahu, alasan kami kenal karena murni kecelakaan. Selebihnya, mana ada yang bisa mengendalikannya. Sekarang saya kembalikan kepada Ibu, Ibu bisa mengendalikan kebencian Ibu kepada saya? Kebencian yang terlahir makin waktu makin tak terkendali apalagi jika ibu melihat kami dekat? Kebencian yang tidak akan pernah padam karena Ibu sendiri sudah telanjur menanamkan sugesti ke diri Ibu, ini si Widy bakalan bahaya, dia bakalan jadi parasit dokter Andri, dia bakalan jadi parasit kehidupan keluarga ini. Hingga Ibu menghalalkan segala cara untuk menyingkirkan saya.”


Widy berangsur menghela napas kemudian menunduk. “Biasa saja, Bu. Karena dari awal pun, saya juga biasa saja. Berdoalah, semoga berputarnya roda kehidupan, tidak membuat Ibu merasakan berada di posisi saya karena rasanya sangat tidak nyaman!” Ia mengangguk-angguk dan masih menyikapi ibu Muji penuh ketenangan.


“Mamah bikin malu!” kecam dokter Andri.


“Kalau urusan saya sudah selesai, saya juga tidak akan pernah ke sini. Ini kebetulan ada amanah. Apalagi saya tahu, jadi orang kecil beneran enggak enak. Yang ada, orang-orang seperti kami malah langsung disapu padahal niat kami ke sini murni buat berobat dan kami bayar!” tegasnya. “Permisi!” Ia berangsur mengajak ibu Ripah pergi dari sana. “Kita sekalian cari makan sama minum buat Pak Mul. Ibu juga kalau enggak kuat, jangan puasa dulu, ya. Daripada Ibu sakit.”


Dokter Andri menatap tajam sang mamah di tengah kedua matanya yang sudah langsung merah sekaligus basah.


Sekretaris Lim sudah langsung bersembunyi ke lorong sebelah. Namun, di tengah kenyataannya yang masih merenung penuh keseriusan, ia masih diam-diam mengawasi Widy.


“Kamu pacaran sama dokternya?” tanya ibu Ripah yang memang penasaran.


“Ah, gosip apa lagi itu?” Widy mencoba masa bodo dengan anggapan ibu Ripah barusan.


“Lah, tadi kok ibu itu, dan kayaknya memang ibunya si dokter, kamu marahi gitu?” balas ibu Ripah.


Sekretaris Lim yang sudah tidak bisa mendengar obrolan Widy dan ibu Ripah yang tengah membahas hubungan Widy dan dokter Andri, juga jadi kepo.


“Mamahnya si dokter mirip mamah Shen-Shen. Untung mamahku sudah dipenjara! Heran, orang kayak gitu kok masih dikasih hidup!” batin Sekretaris Lim yang sudah langsung memperhatikan ibu Muji. Dari sebelah pintu ruang pemeriksaan milik dokter Andri yang dibiarkan terbuka sempurna, ia menatap sebal wanita itu.