
“Kamu ngomong apa saja ke Mamak? Kamu beneran enggak merasa bersalah? Sama sekali, Dy?!” tanya Arum memastikan. “Kalau begitu, coba sekarang kamu katakan, ... katakan semua yang kamu bilang ke Mamak, sampai-sampai Mamak berpikir, aku mau nitipin Aidan hanya karena aku mau menikah lagi, seolah keluarga calon suamiku, enggak bisa menerima Aidan?”
Lantaran Widy tetap diam, Arum yang berusaha bersikap sabar sekaligus lembut malah menjadi kesal sendiri. “Ngawur, kamu!” Ia menghela napas asal. “Kalau kamu terus begini, aku bakalan biarin calon suamiku usut kamu, loh. Kelakuanmu yang begini sudah lebih dari cukup buat kamu kehilangan pekerjaan kamu! Beneran enggak pantas, orang kayak kamu jadi guru!”
“Jadi menurut kamu, yang pantas yang seperti apa? Yang seperti kamu?” sewot Widy sambil menatap kesal Arum. “Aku tuh capek tahu, Mbak, ... rasanya muak banget kalau selalunya aku harus dibanding-bandingkan sama kamu! Kamu lebih ini lah, kamu lebih itu lah!”
“Kamu disekolahkan tinggi-tinggi buat apa? Kamu itu guru, loh ... jadi tolong, jangan gob-blok. Kecuali kalau kamu enggak disekolahin. Pantas, sarjana dan sampai guru, suami merangkap jadi benalu kamu biarin. Malahan kamu musuhin aku yang jelas-jelas sudah urus kamu!”
“Jadi memang benar, maksud kamu ke sini buat hitung-hitungan?!” sergah Widy makin emosional.
“Ya! Balikin semua yang pernah aku kasih! Balikin semuanya kalau otak kamu saja enggak berfungsi!” marah Arum.
Widy mendengkus, menatap tak habis pikir Arum. “Stres ... kamu.”
“Robohin rumah ini, biar suaminya mikir! Kamu suami, tapi jangankan didik istri, urus diri kamu sama keluarga kamu saja, kamu enggak bisa!” geram Kalandra tak segan menunjuk-nunjuk wajah suami Widy.
“Sudah, robohin saja, robohin! Heran!” sergah Widy tak kalah geram.
Arum sampai menahan napas saking kesalnya. “Ro-bo-hin!” kesalnya menatap marah kepada Widy.
“Aku laporin kamu ke mas Bayu, biar kamu tahu rasa, Mbak! Kamu pikir kamu siapa berani-beraninya atur kam ....” Widy tak kuasa melanjutkan ulahnya lantaran sepatu pantofel penuh lumpur milik Kalandra, mendarat di wajahnya.
“Ke orang, ... ke kakak yang sudah menghidupi kamu, kamu sekurang-ajar gitu!” geram Kalandra lagi. Suaranya sampai gemetaran akibat kekesalan yang ia tahan.
Widy mendengkus kesal dan berangsur menunduk. “Ya sudah, aku minta maaf. Namun tolong, jangan robohkan rumah ini,” ucapnya malas sambil terus menunduk.
“Minta maaf, enggak gitu!” lirih Kalandra di tengah giginya yang sampai gemeretak.
“Robohin saja, Mas, rumahnya. Biar dia ada usaha buat jadi manusia berguna. Jangan sampai, dia juga mengikuti jejak keluarga si Angga yang lebih memilih menjadi penge-mis, ketimbang bekerja penuh usaha!” sergah Arum. Ia sudah tak mau buang-buang tenaga apalagi waktunya. “Aku sudah capek dari dulu. Akan makin capek kalau aku juga terus mengurus orang yang sudah enggak bisa diarahkan.” Walau Arum berbicara dengan Kalandra, tatapannya tetap fokus kepada Widy yang masih menatapnya dengan tatapan sangat marah. “Termasuk izin ngajarnya, ... kalau kelakuannya masih memprihatinkan begini, cabut saja. Mas pasti jauh lebih tahu untuk urusan ini karena Mas sudah terbiasa melakukannya.” Kemudian, ia sengaja menatap Kalandra. “Aku serahkan semuanya ke Mas, selain aku yang memang enggak mau lama-lama di sini.” Namun kemudian, ia juga memilih fokus menatap sang mamak yang sedari tadi juga sudah menatapnya sarat kecewa. “Mamak juga, ... tolong jadi orang tua yang becus biar anak yang Mamak bangga-banggakan enggak bikin malu. Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya hanya jadi tulang punggung suami? Bucin boleh, tapi gob-bloknya jangan dilanjutin!” Meski dalam hatinya, Arum juga berkata, “Aku saja yang pernah gitu nyesel banget. Suami dibela-belain malah mirip binatang!”
“Bagusan Mas Kala jauh-jauh!” batin Arum yang kemudian mengambil sepatu Kalandra. Ia membersihkannya kemudian mengenakannya lagi kepada Kalandra.
Agus yang awalnya hanya menunduk, mendadak menyikut sang istri. Ia mendelik menatapnya kemudian berbisik, “Cepet minta maaf! Jangan sampai rumah ini dirobohin!”
“Kalau rumah ini dirobohin, Mamak dan Widy tinggal di mana?” sergah ibu Rusmini ketar-ketir.
Arum yang masih jongkok di hadapan Kalandra, berangsur menatap sang mamak. “Widy ada suaminya. Dia tanggung jawab suaminya. Sementara Mamak, ... Mamak mau ikut siapa? Terserah.”
Ibu Rusmini menggeleng tak habis pikir. “Kamu enggak mikir, rumah ini juga masih peninggalan bapak kamu? Kalaupun memang kamu yang modalin buat bangun rumah ini, seenggaknya tanah ini murni punya bapak sama mamak juga! Jadi kamu jangan asal robohin!”
“Ngapain aku mikirin bapak, sedangkan alasan mamak membenciku dari aku di kandungan, gara-gara malah bapak selingkuh pas Mamak hamil aku? Gitu kan, alasan Mamak sangat membenciku??” balas Arum.
Ibu Rusmini menggeleng tak habis pikir kemudian menghela napas pelan. “Rum, tolong mikir, Rum!”
Bagi Kalandra, baik ibu Rusmini apalagi Widy, benar-benar tidak ada yang tulus kepada Arum. Alasan keduanya mengajak Arum berkomunikasi pun karena keduanya mengharapkan rumah agar tidak dibongkar. Malahan sampai detik ini tidak ada yang mau mengalah untuk minta maaf.
“Kalau Mamak memang enggak mau tinggal sama anak-anak Mamak, nanti aku bangunin rumah baru. Namun rumahnya hanya untuk Mamak, Widy sama anak-anaknya enggak. Mereka biar jadi urusan si Agus!” ucap Arum sesaat setelah ia berdiri.
Sidang dadakan pun menghasilkan perobohan rumah sebagai hasilnya, selain Arum yang akan membangunkan rumah baru untuk sang mamak. Widy dan Agus langsung ketar-ketir. Widy sampai menyembah-nyembah kepada Arum setelah sebelumnya, wanita cantik itu disemprot oleh Agus. Tentunya, belum ada niat tulus dari mereka termasuk dari ibu Rusmini.
“Aku enggak akan minta tanah atau sisa bangunannya. Yang penting, bangunannya dirobohin saja daripada bangunan ini disalahgunakan,” yakin Arum. Ia mantap dengan keputusannya.
“Dua hari buat siap-siap beresin barang-barang kalian sebelum rumah ini dirobohkan, cukup?” ucap Kalandra memastikan. Ketiga wajah di hadapannya makin tak karuan. Namun dalam dekapannya, Aidan yang sudah tidur menjadi mendengkur khas bayi flu. Itulah alasannya sulit memaafkan ibu Rusmini maupun Widy.
“Mbak, tolong, Mbak!” mohon Widy masih mendekap kedua kaki Arum. Widy sungguh masih bersimpuh. Tetangga apalagi Kalandra sampai geleng-geleng menanggapinya.