
Arum menatap Kalandra yang baru pulang, penuh rasa cemas. Berbeda dari biasanya, selain tampak sangat buru-buru, kali ini Kalandra juga tampak sangat emosional. Sudah pukul sembilan malam lewat ketika Arum memastikannya pada jam dinding yang menghiasi ruang keluarga kediaman orang tua Kalandra. Namun karena Kalandra baru saja mengurus kasus Widy, baru itu baru pulang.
“Mas?” panggil Arum yang sudah langsung meninggalkan pintu kamar Widy menginap dan sebelumnya, Arum tutup dengan sangat hati-hati. Ia menghampiri sang suami yang juga berangsur berhenti.
“Gimana?” sergah Kalandra sangat serius.
“Aku rasa, Widy trauma, Mas.” Arum berkaca-kaca menatap suaminya.
“Pasti, apalagi sampai ada ancaman dari Agus yang andai Widy enggak kabur, beneran kejadian. Namun, aku sudah pakai ancaman ini untuk memperkuat hukuman mereka,” yakin Kalandra. “Pelan-pelan, kita pasti bisa keluar dari situasi sekarang. Ia mengangguk-angguk, masih mencoba meyakinkan sekaligus menguatkan Arum, tapi sang istri masih terlihat ragu diliputi banyak kerisauan.
“Besok kalau Lim ke sini, sudahlah langsung nikah saja terus tinggal di Jakarta. Jauh lebih aman kalau begitu, kan?” lanjut Kalandra dan kali ini, Arum mengangguk-angguk.
“Belum genap sehari pisah, sudah begini,” lirih Arum menyesalkan keadaan. “Andai aku tahu keadaannya bakalan sefatal ini, aku enggak akan izinin Widy pulang, Mas.” Arum membiarkan tubuhnya didekap Kalandra.
“Kamu juga jangan menyalahkan diri kamu!” tegur Kalandra.
Di dalam kamar, Widy yang tiduran meringkuk masih melamun seiring ingatannya yang dihiasj adegan ketika dirinya memergoki Agus bersama adik dan ayahnya, di rumahnya. Suasana rumah yang gelap tapi sangat berantakan sekaligus penuh asap, juga sikap Agus yang sangat tidak sopan. Adegan yang lagi-lagi membuat Widy menangis.
“Aku doakan kamu dapat hukuman setimpal, Gus!” batinnya sungguh dendam.
“Mata kamu, bengkak,” ucap Sekretaris Lim ketika mereka melakukan telepon video, sekitar tiga puluh menit kemudian.
Widy yang sudah duduk di lantai, di depan tempat tidur langsung celingukan, tak berani menatap Sekretaris Lim.
“Kamu masih di rumah Kalandra, ya?” lanjut Sekretaris Lim Kembali melayangkan pertanyaan, menduga-duga.
“Kok kamu enggak semangat begitu mirip orang sakit? Enggak ada masalah, kan?” Sekretaris Lim makin protektif.
Berkaca-kaca, Widy menatap layar ponselnya dan membuatnya bertatapan dengan sang tunangan. “Sebenarnya, aku habis kena musibah, Mas.”
Berbeda dari sebelumnya, kali ini Sekretaris Lim tak langsung menjawab. Tatapannya kepada Widy pun menjadi dipenuhi keseriusan.
“Aku juga enggak tahu, kejadian siang tadi bakalan terjadi, Mas. Beneran di luar pemikiranku,” lanjut Widy.
“Ada yang macam-macam ke kamu?” tebak Sekretaris Lim.
Widy yang menjadi bungkam, berangsur mengangguk-angguk. Berlinang air mata ia pun cerita mengenai kejadian tak mengenakan yang ia dapatkan dari Agus dan juga adik maupun bapaknya.
“Harusnya tadi kamu ikut. Apa, aku balik lagi saja?” Sekretaris Lim menatap lemas Widy. Walau Widy berdalih Kalandra sudah mengurus kasusnya, masalahnya dirinya yang merupakan pasangan Widy dan otomatis menjadi orang yang jauh lebih bertanggung jawab dari siapa pun termasuk itu Kalandra.
“Jangan menangis lagi. Sekarang juga aku berangkat ke sana. Ini aku langsung siap-siap. Teleponnya enggak usah dimatikan kalau memang kamu masih mau cerita,” lanjut Sekretaris Lim lagi yang sudah langsung berdiri kemudian membuka lemari pakaian besar berbahan kayu dan tampak sangat kokoh.
“Mas beneran mau langsung ke sini?” tanya Widy lirih dan memang sampai sesenggukan. Di seberang, Sekretaris Lim tampak menyusun pakaian di koper.
“Iya. Paling besok pagi sampai. Aku usahakan secepatnya sampai. Sudah, kamu enggak usah takut, ya. Kamu punya banyak orang yang sayang kamu, dan sekarang pun, aku akan langsung ke kamu!” yakin Sekretaris Lim lagi.
Sekretaris Lim mengangguk-angguk. “Ya sudah, kalau bisa kamu istirahat atau malah tidur!”
Widy sampai tidak bisa berkata-kata karena Sekretaris Lim yang sungguh baru tiba di Jakarta, akan langsung kembali menyusulnya.
“Mas pakai sopir, kan?” tanya Widy sengaja memastikan karena membiarkan Sekretaris Lim langsung kembali menjalani perjalanan jauh, juga membuatnya sangat khawatir.
“Iya, tapi ganti sopir, takutnya sopir tadi ngantuk!” balas Sekretaris Lim.
Nyaris semalaman mereka berkomunikasi, hingga akhirnya Sekretaris Lim meminta Widy untuk tidur. Saat sahur, kabar bahwa Sekretaris Lim tengah di perjalanan untuk kembali menemui Widy, langsung mengejutkan semuanya. Tampak raut lega bahkan semringah yang perlahan menghiasi wajah mereka.
“Kalau Lim sampai ke sini lagi, kamu juga harus siap kalau dia sampai mengajak kamu menikah, ” ucap Arum yang duduk di sebelah Kalandra.
Sahur kali ini tak lagi disertai anak-anak lantaran anak-anak masih kompak tidur.
“Enggak apa-apa, sih. Nikah sama Lim pun, Ibu yakin kamu akan jauh lebih bahagia,” yakin ibu Kalsum langsung mendukung.
“Benar! Mas juga setuju!” balas Kalandra tak kalah semringah.
“Kalaupun sampai harus langsung ke Jakarta, ya sudah dijalani saja,” lanjut Arum. “Yang namanya suami kan memang harus diikuti. Apalagi untuk suami bertanggung jawab sekelas Lim.”
“Sudah, kamu nggak usah sedih-sedih lagi. Waktu kamu terlalu berharga untu manusia sekelas Agus!” lanjut Arum.
“Ya sudah, sekarang ayo kita sahur?” Sergah pak Sana bersemangat.
Semuanya kompak tersenyum dan perlahan kembali fokus dengan makanan di piring masing-masing. Sementara orang tua Resty juga tak kalah heboh karena keduanya yakin, keduanya akan turut akan dibawa.
“Kalau Widy ke Jakarta, kami juga ikut ke Jakarta. Kami mau tinggal di Jakarta!” yakin ibu Ripah dan pak Mul mendadak kegirangan tak sabar.
Semua yang ada di sana kompak mesem. Membuat Widy berpikir, ada hikmah di balik kegilaan Agus kepadanya. Dari orang tua Resty yang akhir mau diboyong bahkan tinggal di Jakarta. Tentunya, hubungan Widy dan Sekretaris Lim juga makin dekat.
Dering tanda pesan WA masuk, mengusik Widy yang kali ini memang sampai membawa ponsel walau ia tengah sahur bersama Kalandra sekeluarga. Widy memang sengaja membawa ponselnya karena sampai detik ini, ia masih berkomunikasi dengan Sekretaris Lim. Lebih mengharukan lagi, ternyata dering tadi merupakan pesan masuk dari Sekretaris Lim. Sekretaris Lim yang sudah sampai rest area mengirim foto sepiring nasi lengkap sebagai menu sahur.
Mas Lim : Sahur dulu. Sekalian mau ngopi, ngantuk banget.
Widy : Selamat sahur, Mas. Iya, ngopi biar enggak ngantuk banget.
Mas Lim : Harusnya sebelum pukul sembilan pagi, aku sudah sampai sana karena memang enggak macet.
Widy : Amin. Aku tunggu, Mas. Ya sudah sekarang Mas sahur karena aku juga mau sahur. Nanti disambung lagi. (Emoji hati tiga)
Mas Lim : (Emoji hati lima)
Widy : Aku seneng banget punya pasangan segercep Mas (emoji hati tiga)