Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
75 : Pangling


Pabrik yang juga sampai disertai kantor Kalandra bernaung, benar-benar besar, tentu saja. Apalagi, kini merupakan kali pertama Arum berkunjung ke tempat semacam itu walau sebelumnya, Arum pernah bekerja di luar negeri.


Satu hal yang belum Arum ungkapkan kenapa dulu, dirinya bisa mendapat banyak uang walau ia hanya bekerja sekitar delapan tahun di luar negeri. Sebab Arum juga sampai kecipratan warisan dari orang tua yang diurus, ditambah anak-anak orang tua majikannya yang memang sangat baik kepada Arum, dan mungkin karena telanjur cocok.


Kini, Arum yang sampai diantar oleh sopir orang tua Kalandra langsung menjadi pusat perhatian. Beberapa orang yang melihat Arum lewat langsung memandangi Arum. Mereka terlihat penasaran, Arum berpikir keadaan tersebut terjadi lantaran rencana pernikahannya dan Kalandra hanya terpaut kurang dari setengah tahun, kematian Bilqis. Ditambah lagi, Arum yang belum lama bercerai juga masih memiliki bayi.


“Sekarang, aku enggak mau berpikir pendek apalagi kuno. Lumrah orang termasuk aku ingin hidup lebih baik lagi. Toh, aku enggak numpang karena selama ini pun aku juga tetap kerja keras. Kalau disinggung trauma enggaknya, kok nikahnya terkesan cepet banget? Bukannya enggak trauma, apalagi pernikahanku sebelumnya lebih drama dari sinetron azab. Keputusanku mau menikah lagi memang karena aku sudah yakin sekaligus siap. Apalagi calonku pun bukan kaleng-kaleng. Mas Kala dan keluarganya merupakan orang bertanggung jawab yang juga paham segala sesuatunya. Beda dengan Angga yang meski sangat bertanggung jawab kepada keluarga bahkan Angga rela melakukan semuanya, ke anak istri dia malah melempem. Jangankan kasih sebagian yang dia punya, sisanya saja enggak karena yang dipikirkan dia hanya keluarganya,” batin Arum sepanjang ia melangkah menuju ruang kerja Kalandra yang mengharuskannya naik lift.


Bagi Arum, orang memang berhak menilai kehidupannya, tapi mereka tidak berhak mengatur apa yang akan Arum jalani. Apalagi Arum sudah membuktikannya sendiri, dipaksa menjalani perjodohan dengan Angga, dan ia juga dilarang bercerai oleh mamak dan keluarganya agar tidak membuat mereka malu, malah membuatnya sengsara.


Arum tak mau menjalani saran yang tak sesuai dengan yang ia rasakan lagi. Mulai detik ini, dirinya akan menjalani kata hatinya. Apalagi keputusannya bercerai dan sempat ditentang keras oleh keluarganya, nyatanya menjadi awal mula kebahagiaannya.


Jadi, andai ada yang berkomentar pedas sekaligus sinis mengenai pernikahannya dengan Kalandra, Arum benar-benar tidak peduli. Namun Arum akan membalasnya dengan bukti kebahagiaannya dengan Kalandra dan keluarga kecil mereka. Bahwa perceraian yang membuat sebagian wanita di luar sana takut lantaran keyakinan mengenai hidup mereka akan menjadi makin sulit tanpa adanya suami yang menafkahi, merupakan anggapan keliru. Sebab setiap kebahagiaan seseorang ditentukan oleh orang yang menjalani, benar-benar bukan orang lain, bahkan itu orang tuanya sendiri.


Kini, Arum juga akan membuktikan, pernikahan barunya mampu membuatnya makin bahagia karena ia menjalaninya dengan orang yang tepat.


Di lantai tiga ruang kerja Kalandra berada, ada beberapa ruangan, tapi sang sopir mengetuk pintu berlabel Direktur dan sampai ada nama Kalandra di sana. Belum apa-apa, Arum sudah deg-degan.


“Mas Aidan, besok kalau kamu besar, jadi orang sukses kayak papah Kala, ya. Kamu enggak usah kenal sifat bapak kamu sama keluarga ya atau keluarga kita. Enggak ada yang bermutu, mending contoh keluarga papah Kala saja,” batin Arum lagi yang langsung tersenyum hangat kemudian mengambil alih kantong bekalnya dari sang sopir.


“Makasih banyak, Pak!” ucap Arum ramah pada sang sopir yang sampai membukakan pintu untuknya setelah Kalandra berseru mengizinkan mereka masuk.


“Makasih banyak, Pak!” sergah Kalandra yang juga sampai berdiri dari duduknya.


Setelah sang sopir pamit pergi dan memang akan langsung pulang, kini giliran Kalandra dan Arum yang menjadi sibuk cengengesan, senyum-senyum sendiri akibat perubahan penampilan Arum. Bedanya, ketika Kalandra cengengesan sambil terus memandangi Arum, Arum malah kebalikannya dan sampai memunggungi Kalandra.


“P-pah!” seru Aidan berusaha menghadap Kalandra. Kedua tangannya pun mencoba terulur ke arah pria itu.


Kini memang kali pertama Aidan bersuara jelas, dan itu untuk Kalandra. Bergegas Kalandra menghampiri sang bocah dan pastinya juga sang mamah.


“Kok malah Papah dulu, bukan Mamah?” protes Arum yang kemudian menahan napas lantaran Kalandra yang sudah ada di hadapannya dan kini langsung mengemban Aidan, masih sibuk memandangi wajahnya sambil menahan senyum.


“Pah!” panggil Aidan lagi.


Kalandra mulai lemas akibat tawa yang ditahan. “Aidan pangling ke kamu. Dikiranya diculik sama abege mana, gitu yah, Mas?” Kali ini, ia tidak bisa menahan untuk tidak tertawa. Ia sampai menitikkan air mata selain wajahnya yang terasa panas dan ia yakin, wajahnya sudah sampai merah merona. Padahal, ia yang menggoda Arum. Namun, kenapa malah pipinya ikut merah layaknya pipi Arum.


“Tolong, Mas, dikondisikan jangan diledek terus gini!” lirih Arum masih sibuk menahan tawanya. Ia sampai menyandarkan keningnya ke punggung Kalandra yang juga memakai batin lengan pendek warna hitam keemasan layaknya pakaiannya maupun Aidan.


“Nah, iya ... cantik banget. Pantes, kamu bikin aku kelaparan. Ternyata alasanmu lama dan sampai telat hampir satu jam karena kamu sibuk dandan. Mau ketemu siapa, sih?” ucap Kalandra sambil berusaha melongok Arum yang masih bersembunyi di balik punggungnya.


“Kamu mau ketemu aku, apa mau ketemu siapa? Masa iya malah ngumpet di punggung terus?” tagih Kalandra. Kedatangan Arum dengan perubahan penampilannya dan sukses membuatnya sibuk menahan tawa, juga membuat hatinya berbunga-bunga khas orang sedang kasmaran.


“Mas ngelihatinnya jangan gitu, ya. Mas juga jangan ngeledek terus, biar aku enggak malu, gugup juga,” pinta Arum yang memang sampai merengek.


“Lah, terus aku harus gimana? Buktinya, Aidan sampai pangling enggak ngenalin kamu, kan?” balas Kalandra berusaha menyudahi senyumnya. “Oh, iya ... aku lagi kerja, lagi urus kasus yang kemarin juga. Ayo duduk, aku beresin kerjaanku dulu, habis itu, kita baru keliling,” sergah Kalandra yang kemudian balik badan. Ia meraih punggung kepala Arum, mendekapnya kemudian menuntunnya untuk duduk di tempat duduk depan mejanya.


“Jangan ngeledek!” todong Arum ketika Kalandra yang membantunya duduk, kembali memandangi wajahnya sambil terus menahan senyum.


“Pipiku sampai sakit gara-gara nahan senyum nahan ketawa,” keluh Arum sambil mengelus-elus pipinya menggunakan kedua tangan sesaat setelah ia meletakan bekal yang ia bawa di meja kerja Kalandra.


“Mana, ... mana?” sergah Kalandra serius. Ia tak jadi pergi dan malah menunduk kemudian jongkok di depan Arum. Menggunakan tangan kirinya yang tidak mendekap Aidan, ia membingkai pipi kanan Arum, mengelusnya, dan terakhir menci-umnya.


“Dah, ... sembuh, ya!” ucap Kalandra yakin sekaligus berharap setelah ia menarik bibirnya dari kanan Arum. Namun tak lama setelah itu, hidungnya malah ditahan oleh tangan kanan Arum yang mencubitnya gemas.