
Semuanya bahagia. Pernikahan Arum dan Kalandra sungguh tidak hanya membuat pengantin atau pihak keluarga, sangat bahagia. Sebab dari tamu undangan, pengisi acara, termasuk sekelas pak Haji yang harusnya patah hati, juga ikut happy. Entah dengan Septi yang sampai detik ini belum mengabari.
Satu persatu dari mereka keluar meninggalkan tempat resepsi sekaligus ijab kabul. Tentu saja, pernikahan Arum dan Kalandra akan sulit mereka lupakan karena konsep di pernikahan benar-benar beda, murni untuk bersenang-senang.
Mereka yang awalnya dijemput juga kembali diantarkan. Termasuk pihak keluarga Arum yang turut serta karena selepas pernikahan, Kalandra dan Arum sengaja menginap di hotel mereka menggelar ijab kabul sekaligus resepsi.
“Aku juga ikut menginap di kamar kalian, ya?” ucap pak Haji yang belum mau pulang sendiri. Ia masih menjadi kebersamaan Kalandra dan Arum yang masih disertai oleh pak Sana dan ibu Kalsum.
“Kamar Mas Kala sama Mbak Arum bukan kamar mayat atau kuburan. Enggak cocok buat sampeyan!” ucap ibu Kalsum langsung kesal.
Tak hanya Arum dan Kalandra yang langsung menertawakan balasan ibu Kalsum. Karena pak Sana juga sampai menangis.
“Mbah, kami antar Mbah pulang,” ucap pak Sana berusaha sabar.
“Ayo, Pah. Kita antar aki-aki ini ke alam baka!” sergah ibu Kalsum yang lagi-lagi membuat sang suami tertawa.
Namun kenyataan yang ada, ibu Kalsum mengantar Kalandra dan Arum ke kamar pengantin. Ibu Kalsum mengemban Aidan, sementara Kalandra membantu Arum melangkah katena kain jarit dan juga kebaya hitam milik Arum sampai berekor panjang. Tadi saja, pak Haji sampai menginjaknya gara-gara tidak diizinkan ikut.
Sementara pak Sana yang masih ditemani dua ajudannya, sengaja membimbing pak Haji untuk pulang. Langit sore yang mendung di tengah rintik gerimis ringan membuat pak Sana bersemangat mengantar pak Haji hingga tempat parkir. Apalagi di sana, mereka kembali bertemu dengan mas Denny.
“Itu kembaranku, loh, Pak DPR!” uca pak Haji begitu semangat menghampiri mas Denny.
“Ya sudah, sana disapa-sapa. Berarti, ini diantarnya sampai sini saja, ya? Jangan lupa pulang. Kasihan istri, anak, sama cucu!” ucap pak Sana sengaja wanti-wanti.
“Ah, urusan mereka yang penting dikasih duit pasti mingkem. Ada enggaknya saya beneran enggak berpengaruh buat mereka loh, Pak DPR. Yang terpenting buat mereka itu uang. Yo wes gitu saja!” balas pak Haji meyakinkan.
Kenyataan yang membuat pak Sana bersimpati. “Makanya, mulai sekarang Mbah berubah.”
“Loh, berubah gimana, sih? Dikiranya aku ini ce-leng daden? Ngopet-ngopet begitu?” balas pak Haji sewot.
Tak hanya kedua ajudan pak Sana yang kompak menahan tawa. Karena sang DPR yang sangat dihormati oleh rakyatnya itu juga sampai menangis karena menahan tawa.
“Nyuwun sewu, Mbah. Ngepet, bukan ngopet. Artinya sudah melenceng banget itu!” ucap salah satu ajudan pak Sana dan malah membuat tawa di sana pecah, tak bisa ditahan lagi. Lebih pecah lagi karena mobil mas Denny malah sudah pergi sebelum pak Haji sampai menghampiri.
“Mas Denny ... Mas, aku masih mau duel, loh!” terbirit-birit pak Haji mengejar mobil mas Denny yang sudah ada di jalan raya.
Karena obrolan asyik di antara mereka, mereka kecolongan dan tidak lihat ketika mobil yang membawa Mas Denny, pergi dari sana.
Sementara itu di kamar bersalin yang masih ada di kamar pengantin, Kalandra membantu perias di sana melepas setiap aksesori Arum. Yang membuat Kalandra meringis prihatin, ialah ketika sang istri tampak tersiksa ketika gelung di kepalanya dilepas. Banyak jepit kecil yang harus dilepas, selain rambut Arum yang menjadi mirip kulit kelapa tua atau itu tepes.
“Disisir pelan-pelan,” ucap ibu Kalsum masih memandori sambil mengganti pakaian Aidan.
Kalandra sendiri sudah ganti pakaian dan juga sudah menghapus riasnya. Sebenarnya, tadi Kalandra nyaris langsung mandi. Namun ingat Arum yang proses pembuatan sanggulnya saja sampai harus disasak sana sini, Kalandra yakin proses pelepasan rias dan sanggul Arum akan menyakitkan.
“Biar aku yang sisir pelan-pelan,” ucap Kalandra yakin, tak ada yang akan lebih sabar mengurus Arum melebihi dirinya, bahkan itu Arum sendiri.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, usaha Kalandra mendapatkan hasil. Pria itu langsung menyuruh Arum untuk mandi, sementara ia turut membereskan semua perlengkapan rias dan juga pakaian pengantin mereka.
Kalandra yang sudah mengemban Aidan, mengangguk-angguk setuju. “Makasih banyak, Mah!”
Ibu Kalsum mengangguk-angguk membalas ucapan terima kasih putra semata wayang. Ia memeluk Kalandra, men-cium pipi kanan, kiri, dan juga kening Kalandra. Kemudian, hal yang sama juga ia lakukan kepada Aidan. Ia sengaja pamit karena sang suami juga sudah datang. Walau Arum belum keluar dari kamar mandi, ia tetap berseru dari depan pintu kamar mandi.
“Mantumu bisa jantungan kalau kamu teriak-teriak kayak gitu, Mah!” tegur pak Sana.
Ibu Kalsum maupun Kalandra, langsung menahan tawa.
“Sudah biasa, Pah. Mbak Arum sudah paham, mertuanya coag gini,” kilah ibu Kalsum.
Orang tua Kalandra nyaris pergi karena semua pakaian pengantin Kalandra dan Arum juga sampai sudah diboyong semua oleh ajudan pak Sana. Di waktu yang sama, Arum yang sudah sampai memakai pakaian lengkap, membungkus kepalanya dengan handuk, sengaja ikut serta mengantar sampai depan lobi.
Sepanjang perjalanan, obrolan hangat menyertai mereka. Suara berisik nan keras ibu Kalsum mendominan, termasuk ketika mereka sampai tertawa.
“Besok kami mau ke Bandung,” pamit Kalandra.
“Jangan jauh-jauh, ke yang dekat dulu saja karena kalian pasti masih capek banget. Bulan depan saja biar lebih siap,” ujar pak Sana.
Ibu Kalsum mengangguk-angguk setuju. “Iya, sih. Sampai minggu depan kalian pun pasti masih lelah. Apalagi kalian juga enggak punya banyak cuti. Yang dekat-dekat dulu, dan beneran nikmati, pasti lebih kerasa liburan sama bulan madunya.”
Arum tersenyum hangat membalas mertuanya khususnya ibu Kalsum.
“Kalian enggak mau ke Bali apa Lombok? Minta ke sana saja, Mbak, pasti seru. Mamah saja belum pernah ke sana!” yakin ibu Kalsum.
“Kode keras itu, Pah!” ujar Kalandra yang kemudian disambut tawa oleh sang papah.
Setelah mobil yang membawa orang tua Kalandra pergi, Kalandra dan Arum tak sengaja bertatapan. Untuk beberapa saat mereka kikuk, dan benar-benar gugup.
“Yang, kamu masih ingat kenapa pas itu, aku ngajak kamu nikah? Sumpah, yah, pas itu aku kesel banget ke pak Haji maupun si Fajar. Eh setelah aku pikir-pikir, ternyata pas itu tanpa aku sadari, aku sudah cemburu!” ucap Kalandra yang langsung membuat seorang Arum, tersipu malu.
“Masa, sih, Mas?” tanya Arum di sela senyumnya. Ia menggunakan kedua tangannya yang masih dihiasi rias hena, untuk menutupi mulut guna menyembunyikan senyumnya.
“Ah, kamu dikasih tahu tetap enggak percaya!” balas Kalandra rada kesal karena pengakuan yang baru saja ia lakukan cukup membuatnya gugup bahkan malu.
Arum menghela napas pelan sekaligus dalam. Kemudian, ia mendekap lengan kiri Kalandra menggunakan kedua tangannya. “Kalau niatnya baik, pasti hasilnya juga baik. Memang enggak ada yang tahu apa yang terjadi nanti bahkan setelah ini, kan?”
“Kata siapa? Aku tahu apa yang akan terjadi nanti bahkan setelah ini!” sergah Kalandra sambil menatap yakin Arum.
Sempat terdiam, Arum menjadi kikuk. “Apa, ... gitu?”
“Setelah ini, kita akan bahagia. Kita akan punya banyak anak, dan kita akan menemani mereka seperti yang mamah papahku lakukan kepada kita.” Kalandra sungguh yakin, itulah yang akan terjadi pada mereka.
Arum tersenyum semringah kemudian mengangguk-angguk. Tak beda dengan Kalandra, ia juga yakin mereka akan begitu. Bahagia bersama keluarga kecil mereka, mengikuti jejak orang tua Kalandra yang begitu menyayangi anak sekaligus keluarga.
“Ya sudah, ayo kita rehat. Sekalian, aku juga mau mandi dulu,” ucap Kalandra yang sebelum melangkah, sengaja menempelkan bibirnya di kening Arum, sangat lama. Tak peduli walau di sana tidak hanya ada mereka. Toh, mereka yang ada di sana khususnya petugas hotel tahu, bahwa Kalandra dan Arum merupakan pengantin baru.