Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
54 : Bertemu Supri yang Sedang Mengemis


Septi : Enggak usah baper, Mbak. Tuh orang memang terlalu baik. Enggak usah umbar foto-foto begitu, takutnya jatuhnya fitnah!


Komentar pertama yang Arum dapatkan benar-benar dari Septi. Buru-buru Arum yang tersenyum geli memamerkannya kepada sang calon suami yang tengah mengemudi.


Kalandra langsung menggeleng tak habis pikir. “Dia memang bibit berbahaya, ya, mirip keluarganya? Bilang saja, tunggu saja undangannya. Tapi masa iya, kita mau undang dia ke pernikahan kita?” Kalandra merasa geli sekaligus tidak ikhlas sendiri jika harus turut mengundang Septi.


Arum ikut menahan tawanya. “Bentar aku balas, Mas. Lah, langsung seberisik ini.” Kali ini Arum mengeluh cenderung merengek manja, memamerkan ponselnya yang seketika itu banjir pertanyaan mengenai status hubungannya dan Kalandra. Ada juga yang langsung mengucapkan selamat untuk hubungan mereka dan salah satunya dari ibu Kalsum.


“Mamah!” lirih Arum antusias. Ia memamerkan ruang obrolan dari kontak ibu Kalsum yang memang belum ia beri nama khusus semacam panggilan resminya kepada wanita yang telah melahirkan Kalandra tersebut.


“Ibu Kalsum,” ucap Kalandra terdengar sinis lantaran ternyata nama sang mama benar-benar masih asing di ponsel Arum. “Ganti loh ... terus, nama kontak aku di hape kamu siapa?” Walau cenderung fokus dengan kemudinya, Kalandra tetap menatap Arum yang kini malah menjadi kebingungan.


“Masih Mas Kalandra sih, Mas,” jujur Arum yang kemudian memberanikan diri untuk menatap Kalandra dan pria itu baru saja kembali menatapnya. Kali ini Kalandra tak lagi memasang wajah sebal. Melainkan wajah yang jelas sedang meledek sekaligus meng-godanya. Kalandra menahan tawa.


“Mau diganti apa?” Kalandra masih sibuk menahan tawanya.


Arum mencoba menyeimbangi Kalandra. Pria itu tipikal lemah lembut yang juga sangat romantis. Kalandra tipikal yang khusus dalam hubungan selalu manis. Jadi, salah jika Arum terus kaku dan itu bisa menciderai perasaan Kalandra.


“Kamu tahu kalau ini alun-alun. Wah, Mas Aidan bobo kebiasaan kalau di mobil langsung bobo,” ucap Kalandra. Mereka sampai di alun-alun kota mereka. Kemudian, ia bertanya kepada Arum, “Sudah pernah ke sini? Biasanya kalau malam Minggu apa Minggunya rame. Ada bazar atau semacam panggung hiburan.” Walau ia bertanya, tapi ia juga langsung menjawab sendiri lantaran dari ekspresi Arum yang kebingungan, ia sudah tahu jawaban apa yang akan diberikan oleh calon istrinya itu.


“Si Angga, jahat banget ya. Padahal orang dari segala penjuru sekitar sini, termasuk orang dari desa kamu tinggal, sudah biasa ke sini buat semacam nongkrong,” ucap Kalandra.


“Aku memang enggak pernah langsung main di sini, tapi sudah beberapa kali lewat, sih,” ucap Arum.


“Ya sama saja, Mamahnya Aidan ...,” ucap Kalandra yang kemudian mengamati sekitar. Rintik gerimis akhirnya turun di tengah suasana langit yang juga menjadi kelabu. Bisa jadi, seharian ini akan terus gerimis layaknya sekarang karena jika keadaan sudah seperti itu, biasanya menang awet. Di sebelah Kalandra, Arum tampak tengah sibuk membalas pesan.


“Kalau tadi naik motor, kita pasti sudah kuyup. Belum lagi bawaannya, ditumpuk jadi satu, remuk-remuk,” ujar Kalandra, di sebelahnya, Arum langsung meliriknya sambil tersenyum tak berdosa. Ekspresi andalan ketika wanita itu merasa bersalah.


Kalandra berangsur menghela napas. “Akhir-akhir ini kok makin banyak pe-ngemis, ya?” Ia melongok suasana sekitar. Di dekat lampu merah tetap ada yang duduk walau hujan mengguyur. Si Pe-ngemis yang menutupi kepala dan sebagian wajahnya dengan topi kumal itu terus menunduk. Pengemis yang bisa dipastikan pria itu menyanding wadah penampung uang berupa bekas wadah ciki berukuran besar yang dilipat rapi, di hadapannya.


Arum turut melongok pe-ngemis yang ada di luar sana dan memang ada di sebelahnya. Pe-ngemis tersebut tengah mencuri perhatian Kalandra yang menghentikan mobilnya layaknya pengendara lain, sembari menunggu lampu menjadi hijau.


“Jujur yah, Mas. Aku kalau kayak gitu ya kasihan, pengin kasih. Kadang bahkan seringnya kasih apalagi ke ibu-ibu sama anak-anak. Tapi katanya kan enggak boleh juga, jadi aku serba bingung,” ucap Arum sambil menatap kedua mata Kalandra yang memang sudah langsung menatap sekaligus menyimak ceritanya.


Kalandra mengangguk-angguk. “Sebenarnya memang enggak boleh, tapi ....” Ia lupa melanjutkan ucapannya karena ketika ia tak sengaja melirik pe-ngemis yang sempat mencuri perhatiannya, ternyata sosok tersebut hanya memiliki satu kaki. Kaki kanan sosok tersebut tidak ada, yang mana untuk pindahnya lantaran hujan makin deras, sosok tersebut sampai ngesot. Hati seorang Kalandra langsung teriris pedih melihatnya.


Kalandra menggeleng tak sanggup menyaksikan pemandangan tersebut hingga ia meraih dompet di saku belakang celananya, mengeluarkan dua uang lima puluh ribu dari sana kemudian memberikannya kepada Arum.


Yang membuat Arum merinding, bukan karena Kalandra akan memberikan dua lembar uang lima puluh ribu untuk seorang pe-ngemis. Melainkan, ... panggilan pria itu kepadanya yang sudah berubah. YANG.


**M**anis, batin Arum refleks tersenyum. Ia berangsur menurunkan pintu mobilnya, kemudian agak menunduk hanya untuk memberikan uang pemberian Kalandra dengan sopan. Tak disangka, sosok yang akan menerima uang darinya malah sosok yang sangat tidak asing dan memang sudah tidak memiliki kaki kanan.


“A-rum ...? Kamu cantik banget?” ucap sosok tersebut terpana, tak menyangka, dan benar-benar campur aduk.


“M-mas Supri ...?” lirih Arum refleks.


Arum tak bisa berkomentar. Tak menyangka, dugaannya mengenai nasib keluarga Angga bahwa mereka yang terbiasa hidup enak dengan cara serba minta diurus, benar. Sekelas Supri sudah menjadi pe-ngemis dan jika melihat dari penampilannya, Arum yakin Supri sudah melakoni profesi tersebut terbilang lama.


“Yang, sudah kasih. Nanti air hujannya masuk. Kamu sama Aidan kehujanan itu,” tegur Kalandra yang juga sudah siap melanjutkan perjalanan mereka.


Mendengar itu, Arum buru-buru melempar uangnya ke wajah Supri, kemudian menutup kaca pintunya. “Mas! Itu si Supri!” lirihnya saking antusiasnya.


“Ha ..... ah?” Kalandra sampai tak bisa berkata-kata, bengong menatap tak percaya wajah calon istrinya.


“Iya, Mas! Aku paham! Dia saja langsung mengenali aku. Dia bilang aku cantik banget!” sergah Arum meyakinkan. Kalandra langsung menggeleng tak habis pikir.


“Jujur, yah, Yang ... aku enggak bisa mencerna, apa sebenarnya isi otak mereka. Pikiran mereka itu tidur, males banget! Padahal kan ada kamu, ... kamu yang perempuan, baru lahirin saja sudah sangat bekerja keras,” ucap Kalandra yang memang merasa sangat tak habis pikir. Ia memijat kepalanya menggunakan tangan kiri. “Kalau sudah gini aku merasa, otak aku mendadak jongkok.”


“Jangankan Mas, aku saja yang kenal mereka, sudah berulang kali enggak bisa mikir. Ke aku yang hamil besar dan sekadar bangun kalau jongkok saja mereka tega, Mas. Di kontrakan kalau aku sibuk nyapu, mereka buang sampah, semacam ludah ya langsung asal. Ya Alloh pokoknya kalau ingat, ya.” Walau hanya mengingat, Arum juga merasa sangat miris.


Tangan kiri Kalandra yang awalnya memijati kepalanya, berangsur meraih kepala Arum, mengelusnya penuh sayang.


“Kalau sudah jadi budaya malas emang susah sih ya, Mas. Angga juga salah, enggak bisa membedakan tanggung jawab sama membudayakan malas,” ucap Arum yang kemudian menatap Kalandra. Pria itu makin rutin menatapnya.


“Kenapa kamu sampai bertahan. Lima tahun itu lama banget loh.” Kenyataan Arum bisa bertahan di keluarga Angga yang sangat bo-brok juga membuat otak seorang Kalandra mendadak makin jongkok.


“Maksudku kan siapa tahu Angganya berubah, apalagi kan mau ada Aidan. Aku pikir kalau ada Aidan, Angga mau diajak sama-sama berjuang, Mas. Tapi malah, ....” Arum tak melanjutkan ceritanya karena Kalandra juga sudah langsung memintanya menutup masa lalunya.


“Sudah enggak apa-apa, diikhlasin saja. Lihat saja nanti atau malah sekarang, mereka seperti apa. Sikap kita kan ibarat membangun masa depan kita sendiri. Kalau kita pemalas ya hasilnya gitu. Mana ada pemalas hidupnya enak. Kecuali kalau memang keluarga Sultan, itu saja pasti akan ada masanya,” ucap Kalandra yang masih menahan punggung kepala Arum menggunakan tangan kirinya.


Sikap manis seorang Kalandra tak membuat seorang Arum lupa pada anggota keluarga Angga yang lainnya. Apa kabar juga mereka termasuk ibu Sumini yang sempat Arum tolak ketika wanita tua itu memohon ikut kepadanya? Termasuk kabar Fajar si pemberi saran sesat, Arum juga sangat penasaran.