Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
208 : Kebangetan


Suasana masih ramai ketika akhirnya Arum sampai. Agus dan bapak maupun adiknya masih didudukkan di teras rumah ibu Rusmini. Lima orang pria masih di sana, sementara di sebelah, pintu dalam keadaan terbuka sempurna. Gorden tebal yang awalnya tertutup rapat juga sudah dibuka, membuat keadaan di dalam tampak jelas, bahwa memang tidak ada jajanan maupun semacam kopi yang tersisa.


Agus, adik, dan juga bapaknya tampaknya sangat kelaparan hingga tanpa pikir panjang menghabiskan semua dagangan yang ada. Terlihat rumah yang tengah dibersihkan yang mana bungkus jajanan, kopi, termasuk bekas rokok, memenuhi lantai. Kebangetan, hanya itu yang menggambarkan ulah Agus, sang adik, maupun sang bapak. Arum yang sudah langsung turun sambil membawa salah satu taflon, mengamuk. Memu-kuli tubuh ketiganya menggunakan taflon nyaris tak berjeda.


“Kebangetan! Enggak beradab! Keterlaluan!” teriak Arum.


Mendengar itu, Widy yang tengah menyapu, langsung tersedu-sedu. Ia terus menyapu walau ia juga terus berlinang air mata. Ia membiarkan Arum mengamuk karena sebenarnya itu juga yang ingin ia lakukan. Hanya saja, ucapan Agus yang mengancam akan menggilirnya, setelah sebelumnya sampai meminta adik dan sang bapak untuk menahan Widy, itu teramat mengerikan. Malahan andai tidak berpikir rumah tidak akan beres jika bukan ia yang membereskan, pasti Widy masih mengurung diri sambil tersedu-sedu di pojok kamar.


“Ini sejak kapan sih, manusia enggak berguna ini balik ke sini lagi?” Tanya Arum. Emosinya sampai membuatnya berlinang air mata.


Tidak ada yang tahu pasti mengenai kedatangan Agus berikut keluarganya karena tampaknya, ketiganya sudah sengaja merencanakannya.


“Kamu ngapain ke sini lagi?!” tanya Arum sambil menunjuk-nunjuk wajah Agus yang terus menunduk, menggunakan taflon.


“Ya ketemu Widy, Mbak. Kan kangen!” balas Agus.


Arum nyaris menghantamkan taflonnya ke pipi kiri Agus, tapi ia ingat ucapan Kalandra untuk tetap mengontrol diri. Jangan sampai, ulahnya yang membuat wajah atau malah kepala Agus remuk gara-gara taflonnya, malah membuat Agus memanfaatkannya untuk menuntut balik.


Orang-orang di sana meminta Arum untuk bersabar, tapi Arum sungguh tidak bisa. Arum bahkan tidak bisa menyudahi tatapan tajamnya kepada Agus.


“Celeng emang kamu ya! Enggak guna banget! Kalian mengobrak-abrik rumah orang dengan sengaja, tidur santai dan ngabisin semua makanan? Dakjall emang kalian!” lanjut Arum lagi yang kemudian menampol setiap tangan ketiganya menggunakan taflonnya. Ketiganga langsung merintih kesakitan.


“Pas kalian menerobos masuk bahkan memakan semua makanan, kalian enggak mikir, itu bisa bikin sakit yang punya makanan? Dikiranya beli semua itu pakai daun! Sekarang juga kalian bayar, bisa enggak?!” lanjut Arum yang kemudian menghampiri Widy. Ia memeluk Widy walau tatapannya masih kerap fokus kepada ketiga penjahat yang bermula dari kebiasaan hidup malas tersebut.


Dalam dekapan sang kakak, Widy menangis tersedu-sedu.


“Wa, tolong tiga orang itu diikat kaki sama tangannya ke belakang! Takutnya mereka sengaja kabur. Sebentar lagi polisi pasti datang karen suami saya sudah menghubungi polisi untuk menindaklanjuti kasus ini!” yakin Arum.


“Oh, jadi ini enggak diurus secara kekeluargaan dan minta mereka buat ganti rugi, Mbak?” Tanya salah satu dari mereka.


“Ganti rugi pakai apa? Memangnya mereka punya uang? Karena andai mereka punya uang dan hidup mereka enggak susah, pasti mereka enggak diam-diam ke sini, dan sampai ngerampok! Memang dasar orang enggak pada punya harga diri!” kesal Arum lagi yang kemudian sengaja bertanya kepada Agus, “Kamu punya uang buat ganti rugi, enggak?”


Ditanya demikian, Agus yang sudah lemas karena babak belur oleh taflon Arum, berangsur menunduk. Menegaskan bahwa anggapan Arum beneran.


“Ngemis ...,” balas Agus yang sangat malu mengakuinya. Ia kian menunduk dalam, begitu juga adik dan bapaknya.


“Emang dasar enggak punya otak sih kalian. Kerjaan yang menguntungkan saja ada, eh kalian malah niat ngemis!” Arum juga ikut menangis, merasa miris pada ketiga anak Widy apalagi Salwa yang nantinya membutuhkan Agus untuk menjadi wali. Termasuk itu alasan Widy makin tersedu-sedu, Arum yakin karena Widy memikirkan nasib anak-anaknya yang memiliki ayah sekelas Agus.


Setelah sama-sama menunggu, sekitar hampir satu jam setengah kemudian, akhirnya polisi yang Kalandra utus datang. Polisi langsung memastikan TKP yang sudah dibersihkan. Namun, warga yang ada di sana langsung memberikan keterangan ditambah aroma asap rokok yang masih tercium sangat kuat. Paling mencolok, tentu keadaan pintu yang didobrak paksa dari luar dan memang rusak total.


“Dy, ... tolong, Dy. Biar bagaimanapun, aku tetap ayah anak-anak. Tolong jangan sampai kamu bawa ini ke ranah hukum!” mohon Agus yang kemudian berteriak mengabsen ketiga nama anaknya yang ia ketahu sengaja disembunyikan di dalam kamar.


“Salllllwaa, Lio, Aldooooo!” seru Agus terus berusaha.


“Kebangetan banget kamu, Gus!” kesal Arum. Apalagi dari dalam, ketiga anak Widy sudah terdengar menangis memanggil-manggil Agus.


“Papah ....”


“Tanpa aku, Salwa enggak bisa nikah, Dy. Ingat, itu. Aku wali mutlaknya Salwa!” yakin Agus sudah diringkus dan diboyong menuju mobil polisi.


“Kamu enggak usah khawatir karena mulai sekarang, doa utamaku adalah mendoakan kamu agar cepat mati. Agar saat Salwa menikah nanti, dia enggak perlu diwaliin kamu lagi!” yakin Arum.


Bersama siang yang menjadi sore, Agus dan ayah maupun adiknya sungguh digiring menggunakan mobil polisi. Orang-orang di sekitar sana langsung berbondong-bondong menonton apalagi sirine dari mobil polisinya sampai dibunyikan.


“Bu, sudah, sini anak-anak bawa keluar. Ini udara di rumah ini beneran sudah enggak bagus. Nanti aku minta mas Kala buat urus soalnya dari sini saja aroma rokoknya sudah kebangetan!” ucap Arum. Di depan rumah tetangganya sana, ia memergoki anak-anaknya sedang menjadi bahan tontonan warga yang penasaran. Semuanya kompak memperlakukan si kembar maupun Aidan, penuh perhatian. Ibu Kalsum yang sudah biasa heboh, juga tampak sudah langsung akrab.


Kemudian, pengamatan yang Arum lakukan terusik oleh dering telepon masuk yang ia simpan di tas selempang warna merahnya senada dengan gamis yang ia pakai. Setelah ia pastikan, ternyata itu Kalandra. Arum pun langsung menceritakan bahwa rumah orang tuanya sangat bau rokok dan aromanya sangat tidak manusiawi.


“Bawa balik lagi ke rumah kita. Lusa baru pulang kalau aroma rokoknya sudah disterilkan. Enggak baik itu buat paru-paru. Lusa, Widy juga baru ngajar, kan? Bisalah, di rumah kita saja,” yakin Kalandra dari seberang.


Arum langsung menatap Widy, dan bisa memastikan, emosi adiknya itu belum stabil. Jadi tanpa meminta pendapat Widy, ia langsung setuju Widy dan semuanya menginap di rumah orang tua Kalandra lagi.


“Oh iya, Sayang. Hari ini aku jadi pulang telat karena mau urus kasus ini. Ini tadi polisinya kan sudah telepon aku,” ucap Kalandra dan membuat obrolan kembali tersambung. Yang mana setelah sambungan telepon mereka selesai, Arum langsung membantu Widy untuk siap-siap karena mereka harus kembali ke rumah orang tua Kalandra.