
“Sep, si Arum ke mana? Seharian ditungguin di kantin enggak nongol-nongol. Sini, bagi nomor WA-nya!” ucap pak Haji yang memang langsung mendatangi rumah Septi.
Septi yang awalnya masih berdiri di depan pintu masuk rumah orang tuanya dengan malas, langsung bersemangat. Baginya, memberikan nomor ponsel Arum kepada pak Haji yang ia ketahu sangat ngebet kepada Arum, merupakan kesempatan emas membuat hidup seorang Arum tidak tenang. Karenanya, ia yang kebetulan memang menggenggam ponselnya menggunakan tangan kanan, langsung bersemangat memberikan nomor Arum.
“Pak De, besok aku ingin ke penjara,” ucap Septi sambil mengelus perutnya yang besar, menggunakan tangan kirinya yang tidak memegang ponsel.
Di teras rumah kediaman orang tua Septi, pak Haji menatap aneh Septi. “Mau ke penjara buat apa? Pakde saja yang ditahan tiga hari, enggak lagi-lagi.”
“Ih, Pakde ... siapa juga yang ke penjara buat jadi tahanan? Aku bosan di rumah terus sendirian. Aku kangen suamiku!”
“Oalah, lupa. Suamimu kan penghuni tetap penjara, ya?”
“Eh, Pakde. Ngejeknya terencana banget!”
“Siapa yang ngejek, wong nyatanya memang gitu. Suamimu kan, bekasnya si Arum, kan?”
Makin lama mengobrol dengan pak Haji, malah membuat tensi darah Septi makin tinggi. “Ih, Pakde, nyebelin!”
“Nyebelin gimana? Kan sudah jelas gitu. Suamimu dibuang sama Arum, hahahaha! Orang-orang kan pada rame bahas gitu!” Kemudian dengan jujurnya, pak Haji juga bertanya, “Terus, kabarnya, kamu hamilnya malah sama si Supri suaminya kakaknya Angga. Itu ceritanya gimana? Masih kecil kamu sudah sekeren itu, ya?” Ia tidak bisa untuk tidak tertawa. Bahkan walau Septi menjadi kesal kepadanya dan sampai marah-marah.
“Intinya, besok aku mau ke penjara buat ketemu suamiku. Pakde minta sopir suami istri Pakde buat anterin aku karena papah aku masih di luar kota!”
“Hah ...? Keluar kota?” Mendengar papah Septi ada di luar kota, pak Haji langsung terbengong-bengong.
Walau sempat mengernyit kesal lantaran tanggapan pak Haji seolah meragukannya, Septi mengangguk. “Iya. Papah jadi makin sibuk keluar kota. Malahan yang sekarang mau semingguan katanya.” Bukannya percaya, pria tua berpeci putih dan memiliki tubuh gempal di hadapannya malah tertawa.
“Pakde kenapa, sih?” Septi kembali mengomel.
“Lah wong kamu lucu. Masa sekelas bapak kamu ke kota? Terkesannya dia punya perusahaan besar? Memangnya, bisnis apa sih bapakmu? Jual beli pari, gula merah, paling sepeda sama motor, kan? Ngapain rutin ke luar kota apa lagi sampai berminggu-minggu?”
“Ih Bapak Gede! Maksud Bapak, apaan, si?”
“Ya logikanya buat apa? Kerjaan apa, sih? Oh iya bener ding, lagi kerja bikinin kamu adik dari mamah barumu! Hahaha ... laki-laki, baru ditinggal belum ada sebulan sudah kawin lagi!”
Mendengar balasan pak Haji yang terdengar mengejek sekaligus bercanda, Septi langsung ketar-ketir. Perasaan Septi langsung campur aduk, tapi Septi tidak menepis anggapan pak Haji yang memang masuk akal.
“Jancuuuk, koe Pah! Tunggu pembalasanku! Andai apa yang aku khawatirkan bener, aku beneran jijiik ke kamu, Pah!” batin Septi yang langsung mengamankan surat-surat berharga dari aset keluarganya. Namun, Septi yang terbiasa apa-apa serba dila-yani termasuk itu oleh orang tuanya, hanya kebingungan kemudian gigit jari. Septi tidak tahu tempat penyimpanan surat-surat berharganya semacam sertifikat tanah, rumah, surat kendaraan, dan juga kepemilikan aset lainnya.
“Mau enggak mau meski rasanya takut banget, besok juga aku harus ketemu Mamah. Aku wajib mengamankan aset penting, daripada semuanya malah habis sama papah buat ma-in wanita! Wong lanang emang jancuuk. A-su kabeh!” geram Septi yang masih di kamar orang tuanya. Kamar tersebut masih sangat berantakan setelah semua pakaian, tas, dan juga sepatu di lemari ia keluarkan.
Anehnya, surat-surat penting tidak ia temukan di sana, padahal semacam brankas saja, mereka tidak punya.
Keesokan harinya, Septi sungguh diantar oleh sopir istri pak Haji. Seperti niatnya, ia yang sudah sampai dandan cantik, akan mengunjungi Angga dan juga sang mamah yang kebetulan ada di hotel prodeo sama.
Mobil yang membawa Septi sudah sampai alun-alun kota rumah Kalandra berada. Septi dapati, suasana di sana sangat ramai. Ada pasar dadakan dan juga panggung hiburan, hingga jalanan di sana terbilang macet. Apalagi banyaknya penge-mis dan pengamen, juga makin membuat suasana sesak. Bahkan baru saja, pintu kaca penumpang Septi berada, diketuk dari luar oleh seorang penge-mis.
“Kasih saja kali, ya? Siapa tahu kalau kasihnya banyak dan aku juga ikhlas, nanti pas anakku keluar, kaki kanannya jadi ada, biar enggak mencolok mirip Supri banget?” pikir Septi. Segera ia mengambil dompet dari tas di sebelahnya. Ada beberapa lembaran uang di sana. Dari yang merah, biru, hijau, juga uang sepuluh ribu, lima ribu, dan juga dua ribu. Mata Septi mempertimbangkan uang seratus ribu dan lima puluh ribu, tapi pada kenyataannya, yang tangan kanannya tarik dari dompet merupakan satu lembar lima ribu.
Betapa kagetnya Septi ketika mendapati wajah Supri, sebagai wajah penge-mis yang ia beri uang dan kini tengah sibuk mengucapkan terima kasih sambil merapal doa terbaik untuk Septi.
“Bener, ... kakinya pun bun-tung! Itu beneran Supri, iiiih! Si-al banget hidupku ini!” um-pat Septi dalam hatinya. Buru-buru, ia yang telanjur emosi, menutup pintu kacanya. Tak peduli walau Supri memohon untuk mengobrol.
“Sep ... Sep!” Supri yang sengaja menggunakan tongkat bantu jalan agar bisa ke sana kemari di sekitar lampu lalu lintas, nekat menahan kaca pintunya, tapi Septi tetap menutupnya hingga yang ada, tangan Supri terjepit.
“Jangan pernah menggangguku lagi! Awas saja kalau kamu berani sebar kabar enggak jelas!” tegas Septi kali ini sengaja mengancam. Ia terpaksa menurunkan kaca jendelanya lagi hanya untuk menatap, memberi Supri peringatan keras.
Sembari memanfaatkan tongkat bantunya untuk geser, Supri menghela napas. Merasa tak habis pikir. “Sep ....”
“Aku benci banget ke kamu! Apalagi lihat kamu yang sekarang, ... ihh, jijikkk!” balas Septi.
Tentu Supri tersinggung. Ia menggeleng tak habis pikir kemudian pergi dari sana. Tertatih ia melangkah mengandalkan satu tongkatnya.
Ketika Supri pergi, rombongan Anggun dan anak-anaknya tanpa adanya ibu Sumini dan cantik datang. Tak tanggung-tanggung, bertepatan dengan mobil Septi yang melaju, Dafa mengerahkan ketiga adiknya untuk mendorong sang mamah ke tengah jalan.
“Biar mamah bun-tung dan terluka parah kayak bapak yang sekarang entah ke mana? Biar kita dapat banyak uang santunan seperti yang mbah bilang!” ucap Dafa lirih kepada adik-adiknya yang tak kalah ku-mal darinya. Ketiga adiknya kompak mengangguk-angguk di tengah senyum ceria yang menjadi wujud dari harapan nyata mereka.
Padahal di jalan sana, Anggun yang tubuhnya masih mirip ga-jah, sudah histeris ketakutan menatap mobil yang membawa Septi. Mobil yang membawa Septi langsung mengerem mendadak tapi tetap mena-brak Anggun.