
“Aku bahagia banget, Mah. Aku beneran enggak menyangka, aku akan sebahagia ini. Belum nikah saja, aku sudah merasa Aidan ini seperti anakku. Lebih senangnya lagi setelah aku dan Arum menikah karena kami jadi enggak tak terpisahkan. Nah sekarang, tanpa menunggu lama apalagi sampai program, aku sudah dikasih lagi.”
Ucapan Kalandra barusan, langsung menyurutkan niat Arum keluar dari kamar. Arum yang sudah rapi memilih mengintip, menyimak dari sebelah pintu yang hanya sedikit ia buka. Di sofa tunggal yang ada di ruang keluarga, Kalandra yang memangku Aidan ia dapati sibuk tersenyum. Pipi pria itu sampai merona. Sementara di sofa panjang, ibu Kalsum yang menyimak juga terlihat tak kalah bahagia.
Hari ini, Kalandra pulang cepat. Sementara dari siang, pria itu sudah merencanakan belanja keperluan Arum dan Aidan. Itulah yang menjadi alasan Arum sudah rapi, tak lagi sibuk di dapur menyiapkan segala keperluan pesanan. Atau, memantau jalannya renovasi rumah makan yang alhamdullilah semuanya berjalan lancar.
Kehamilan Arum memang membuat Kalandra begitu bahagia. Kalandra menganggap kehamilan Arum lebih membahagiakan dari mimpi terindah sekalipun. Arum tahu itu, alasan yang juga membuat atmosfer kebersamaan mereka, terasa sangat membahagiakan untuk mereka khususnya untuk Arum. Kalandra dan orang tuanya menjadi sangat perhatian kepadanya. Ke mana pun ia pergi, mereka pasti akan sibuk memastikan. Mereka terlalu takut sesuatu yang tak diinginkan sampai menimpanya.
Sekitar dua puluh menit kemudian, Kalandra dan Arum sudah ada di swalayan besar. Mereka pergi bersama Aidan. Kalandra yang mengemban Aidan sekaligus mendorong troli berukuran sedang.
Karena Arum hamil, otomatis Aidan juga tak lagi minum ASI secara langsung kepada Arum. Bidan menyarankan Arum tidak boleh memberi Aidan ASI secara langsung, demi kebaikan bersama, khususnya Arum dan janinnya. Namun kebetulan, stok ASIP untuk Aidan masih banyak di kulkas. Masih bisa untuk satu bulan. Kendati demikian, alasan mereka ke swalayan salah satunya untuk memberi sufor dan juga aneka camilan bayi untuk Aidan. Termasuk untuk Arum, mereka juga akan membelinya. Kalandra akan memberikan yang terbaik untuk keluarga kecilnya
“Bentar, ya. Papah bersihin dulu takutnya enggak steril,” ucap Kalandra yang sedang mengelap salah satu wadah puft yang ia ambil menggunakan tisu basah khusus.
Aidan sudah heboh, tak sabar, mencoba merebutnya dari Kalandra. Arum yang melihatnya hanya mengu-lum senyumnya. Kemudian, ia sengaja memilih camilan yang lain.
“Yang, Aidan doyan banget, Yang! Eh tadi padahal sebelum ke sini, kamu baru makan sama Mbah, loh, Mas. Tapi bentar, deh. Ini aromanya memang enak lembut banget.” Kalandra nekat mencicipi dan Kalandra langsung suka. “Emang enak! Kok aku doyan banget, ya? Ini luar biasa banget, babynya sayang banget ke papahnya.”
Arum tidak bisa untuk tidak menertawakan Kalandra, bahkan walau mereka tengah di tempat umum. “Ambil yang banyak Mas. Mas kan juga suka,” ucap Arum.
Beberapa saat kemudian, troli mereka mulai penuh karena satu persatu barang yang mereka cari sudah mereka dapatkan. Termasuk aneka varian su-su hamil untuk Arum. Aneka camilan sehat, termasuk buah.
“Yogurt sama cokelatnya dibanyakin,” ucap Kalandra masih aktif makan puft berbagi dengan Aidan.
“Kita enggak akan jualan, Mas,” balas Arum yang kemudian menga.ati sekitar. Membuatnya tak sengaja melihat seseorang yang sangat ia kenal dan ada di lorong depan.
Fajar. Pria yang masih memakai pakaian rapi seperti ketika bekerja, tengah ada di lorong produk kecantikan. Yang mengusik Arum bukan semata keberadaan pria itu, melainkan wanita berkulit bersih yang bersamanya. Sesekali, keduanya mengobrol lirih. Senyum hangat menjadi warna dari interaksi keduanya yang terbilang intens sekaligus sangat manis. Namun bisa dipastikan, itu bukan istri Fajar. Karena saat masih bersama Angga, Arum pernah beberapa kali bertemu dengan istri Fajar, setelah sebelumnya mereka dikenalkan oleh suami mereka.
“Mase,” lirih Arum sengaja memberitahu sang suami.
“Emang laki-laki enggak bener. Itu pasti semacam teman kencan atau malah simpanan. Tapi aku juga curiga, dia cuma manfaatin si wanitanya. Kalau aku lihat wanitanya habis kerja di kota atau malah luar negeri deh. Pasti banyak duit nih wanita dan memang sengaja dimanfaatkan sama si Fajar. Najrong emang si Fajar, malu-maluin kaum adam!” lirih Kalandra menggunjing Fajar yang ia tatap sinis.
Detik itu juga jantung Kalandra menjadi berhenti berdetak. Ia terlalu takut pada kehamilan istrinya. Lebih tepatnya, apa yang ia lakukan yaitu menggunjing Fajar, akan berdampak kepada janinnya.
“Amit, amit, ... Yang. Amit, amit pokoknya. Sudah mulai sekarang, kita jauh-jauh dari orang seperti mereka. Masalahnya kita punya calon bayi. Amit-amit dan takutnya pamali!” lirih Kalandra heboh.
“Kamu enggak mau pilih daster dulu? Di lantai atas. Ayo kita ke sana,” ucap Kalandra.
“Jangan sekarang, Mas. Nanti saja. Perut aku saja masih rata. Gampang.” Arum meyakinkan.
“Ini cokelatnya cuma segini? Kamu takut gembrot apa gimana? Sudah, orang seperti kamu enggak mungkin gendut apalagi gembrot, karena jalan sama kerja saja, kamu lebih cepat dari angin!” tegur Kalandra.
Arum menahan tawanya. “Besok lagi saja, Mas biar bisa sekalian jalan-jalan. Biar otakku enggak stuck!”
“Nah, ternyata diam-diam, kamu bosan juga kan di rumah terus?” tanggap Kalandra menginterogasi.
Arum mesem. “Iya, Pak Pengacara. Manusiawi!” balasnya.
Kali ini giliran Kalandra yang menahan senyumnya. “Yang, kamu tahu enggak? Irfan bilang, si Ririn takut banget ke kamu.”
“Malahan kalau dua enggak takut, berarti dia kebangetan banget, Mas. Berarti dia memang pengin aku kasih jurus terakhir!” balas Arum langsung emosi.
Kalandra yang terus mendorong troli di sebelah Arum, menatap istrinya dengan sangat penasaran. “Memangnya jurus terakhir kamu, apa, Yang?”
“Tendang sekuat tenaga biar dia nyangkut di tiang listrik yang bisa jadi jodoh terbaik buat dia. Dia kan butuh pasangan setegar tiang listrik, kan?” balas Arum, emosi tapi mengakhirinya dengan santai.
Kalandra menahan senyumnya sambil mengangguk-angguk. Melihat itu, Arum sengaja menggoda suaminya.
“Mas ganteng banget loh, kalau lagi senyum-senyum begitu!” ucap Arum sambil tersenyum juga.
“Hah?” Kalandra langsung syok, beberapa saat ia sampai tidak bisa berpikir. Namun, wajahnya langsung bersemu. Gugup ia rasa seiring ia yang juga sampai tersipu. “Memangnya kamu baru sadar kalau suamimu memang ganteng?!” ucapnya yang jujur saja jadi deg-degan hanya karena godaan Arum barusan.
Arum langsung tersipu, kemudian tersenyum ceria. Kedua tangannya mengapit sebelah lengan Kalandra dengan mesra tanpa peduli tatapan orang-orang yang ada di sekitar mereka. Seolah, dunia memang hanya miliknya dan Kalandra. Namun ketika mereka sampai di tempat pembayaran, keromantisan mereka berubah menjadi keterkejutan. Mereka sampai melongo, tak bisa berkata-kata hanya karena memergoki semua belanjaan Fajar dan teman wanitanya, dibayarkan oleh si wanita.
“Jangan lihat, Yang. Amit-amit!” bisik Kalandra penuh peringatan dan sengaja membelakangi kebersamaan Fajar dan si Wanita.
“Heran! Kok si Fajar malah makin menjadi-jadi, ya?” pikir Arum kesal sendiri.