
“Kamu enggak usah urusin urusan orang. Kamu juga enggak perlu urus apalagi mikirin Kalandra karena Kalandra punya aku. Biar aku yang urus Kalandra, bukan orang lain apalagi kamu!” Arum benar-benar sewot.
“Kamu kok berisik banget?” kesal Ririn.
“Gimana rumah tangga sama hubunganmu dengan pasangan kamu akan baik-baik saja, kalau kamu saja enggak jelas begini? Bahkan meski nikah sama tiang listrik yang sebesar itu dan kokoh penuh ketegaran, lama-lama tuh tiang listrik tetap roboh!” lanjut Arum sambil menunjuk tiang listrik besar yang ada di dekat jalan depan pintu masuk pabrik.
“Mending sekarang kamu fokus, siuman, sadar, ... jangan halu terus!” lanjut Arum. “Dan kalau kamu masih mau jadi janda elegan bahkan bisa jadi idaman, kamu belajarnya ke aku. Jangan ke Kalandra karena Kalandra bukan janda. Kalandra mana ngerti step-step jadi janda elegan. Dia kan duda, tapi bentar lagi bakalan jadi suami aku.”
Apa yang baru saja Arum katakan, membuat seorang Kalandra gagal menahan tawanya. Kalandra mendekap pinggang Arum kemudian membenamkan wajahnya di punggung calon istrinya itu.
Ririn sampai lupa bernapas saking tak percayanya melihat sikap Kalandra kepada Arum.
“Yang, ... kamu butuh taflon enggak?” lirih Kalandra di sela tawanya. Ia masih membenamkan wajah di punggung Arum.
“Sekalian wajan sama panci, Mas!” balas Arum masih menatap sebal Ririn yang dengan tak berdosanya tetap berdiri di hadapannya. “Selanjutnya kamu harus lebih bisa koreksi diri karena apa yang kamu lakukan juga akan balik ke kamu. Jangan pernah merusak hubungan orang lain siapa pun kamu. Sudah mulai sekarang enggak usah modus-modus ke Kalandra lagi karena tanpa kamu modusin pun, kerjaan Kalandra sudah banyak.”
Karena suasana sudah menjadi sangat serius, Kalandra pun berdeham. “Ya sudah, kami pamit karena memang masih banyak urusan.”
Kalandra hendak memberikan undangan pernikahan kepada Ririn, tapi dengan tegas Arum mengambilnya kemudian kembali menyimpannya pada kantong bahan berwarna biru dongker senada dengan warna undangannya.
“Enggak usah. Buat apa malah ngundang hama? Di mana-mana yang namanya hama harus dibasmi, bukan malah dikasih hati!” sewot Arum yang sampai mengantar Kalandra masuk ke mobil. Setelah memastikan Kalandra duduk di tempat duduk belakang setir, Arum yang masih mengemban Aidan segera memutari mobil depan kemudian duduk di sebelah Kalandra.
“Tabrak saja kalau dia enggak mau minggir. Sudah jelas begitu kok ya masih dikasih hati kamu Mas. Ini kalau suaminya tahu dan posisinya kalian sama-sama bersahabat, yang ada persahabatan kalian hancur gara-gara calon janda kurang oralit makanya kega-telan,” keluh Arum.
Tentu Kalandra yang masih sangat waras, langsung merasa sangat bersalah. Ia yang sudah menyalakan mesin mobilnya sampai menghadap Arum kemudian menjelaskan.
“Habis ini aku blokir nomor dia. Aku janji, dan aku beneran enggak bakalan bantu dia lagi!” mohon Kalandra.
Arum tetap kesal. “Ya sudah, Mas. Habis dari tukang jahit, kita juga mau ke makam mbak Bilqis, kan?” ucapnya yang hanya menatap sekilas Kalandra karena ia lebih memilih fokus pada Aidan yang akan tidur. Kedua mata Aidan sudah merem melek.
“Alamatnya aku enggak bisa tidur loh kalau kamu malah ngambek gini ke aku,” ucap Kalandra yang mulai mengemudi. Baru saja, ia melewati keberadaan Ririn yang langsung ia cueki.
“Kata siapa aku ngambek?” tanya Arum sambil menatap Kalandra. Pria itu tak bisa berkata-kata untuk menjawabnya. “Aku enggak hanya ngambek karena aku juga marah.”
Tentu apa yang Arum katakan barusan makin membuat seorang Kalandra ketar-ketir. “Yang ...,” lirih Kalandra yang menggunakan tangan kirinya untuk merengkuh punggung kepala Arum, sibuk membe-lai di sana.
“Mengubah sesuatu memang sulit apalagi kalau kita yang menjadi bagiannya saja, enggak memulai lebih dulu, kan, Mas?” ucap Arum yang sama sekali tidak melirik Kalandra. “Jangan diulangi. Setelah ini Mas harus tahu mana yang serius sama mana yang hanya modus. Bahkan walau itu teman sendiri, malahan sudan bukan rahasia umum kalau yang bisa menghancurkan kita malah orang terdekat.” Arum mulai memberanikan diri untuk menatap Kalandra. “Buktinya tadi, ... si Ririn kan, Mas bilang sahabat Mas. Mas juga bersahabat dengan suaminya, dan si Ririn tahu Mas mau menikah selain dia yang juga tahu, aku calon Mas. Nah, kelakuannya tadi itu beneran spesies dakjal. Dia bahkan lebih berani dari Septi!” Arum mengembuskan napas panjang melalui mulut.
Setelah direvisi sedikit, pakaian pengantin mereka sudah bisa dibawa pulang. Begitu juga seragam milik orang tua Kalandra yang sudah beres urusannya.
Kalandra mengambil jalan yang bukan untuk ke makam Bilqis. “Jalan ke makam mbak Bilqis belok kiri, kan, Mas?”
Jalan yang Kalandra ambil malah menuju pasar Arum sempat tinggal atau malah rumah orang tua Arum.
“Mulai sore ini waktu kamu cuma buat aku, kan? Kamu sudah libur?” sergah Kalandra bersemangat.
Sambil membuang pandangan dari Kalandra, Arum berkata, “Ngerayu!” Padahal diam-diam, alasannya membuang pandangan dan sampai memunggungi Kalandra lantaran ia menjadi sibuk tersipu.
“Mau mampir ke sorumnya pak Haji?” lanjut Kalandra ketika mobilnya akan melintasi ruko yang dimaksud dan itu ada di sebelah kanannya. Di sebelahnya, Arum mendengkus kesal.
“Ngerayunya jangan pakai jurus ngajak gelut kenapa?” keluh Arum dan malah membuat Kalandra menahan tawa.
“Eh, itu orangnya lagi di depan!” sergah Kalandra antusias.
“Sudah biarin, jangan dikodein, nanti yang ada dia nyusul!” sergah Arum langsung panik. Ia sampai mencubit gemas pinggang Kalandra yang detik itu juga langsung menurut kepadanya.
Setelah suasana kembali senyap, Arum pun bertanya, “Mas mau bawa aku ke mana?” Ia menatap Kalandra yang sudah mulai kembali terlihat santai.
Tentu Arum tidak akan lama-lama ngambek kepada Kalandra. Karena andai itu terjadi, malah ia yang rugi dan wanita sekelas Ririn akan langsung merasa menang.
“Jalan-jalan,” ucap Kalandra sambil tersenyum lembut. Tangan kirinya kembali meraih punggung kepala Arum, kemudian sibuk membe-lai di sana. “Kita sudah akan menikah, ... jangan sampai kita jadi marah-marah karena setelah menikah pun, aku mau kita selalu baik-baik saja. Kita tenangin pikiran kita dulu.”
“Ini mau ke pantai Pangandaran? Mas ajak aku ke pantai sudah sore gini, pulangnya gimana?” Arum jadi deg-degan.
“Kalau kamu mau pulangnya digendong, ya sudah, ayo aku gendong nanti sampai rumah yang penting kamu balik tenang seperti sebelum bertemu Ririn,” balas Kalandra.
“Aku mana bisa lama-lama marah ke Mas,” ucap Arum malu-malu hingga ia memilih menunduk.
Mendengar itu, Kalandra langsung tersipu. Pria itu menjadi sulit mengakhiri senyumnya bersama tatapannya yang menjadi kerap mengabsen wajah Arum.
“Aku yang rugi kalau aku sampai marahnya hanya ke Mas apalagi hal itu juga yang diharapkan wanita seperti Ririn. Kecuali kalau Mas juga susah dibilangin, Mas sampai tuman, baru taflon sama wajanku aku biarin terapi kewarasan ke Mas!” balas Arum.
“Terapi kewarasan,” batin Kalandra sambil menahan senyum. Tangan kirinya meraih tangan kanan Arum yang menjadi sibuk ia ci-ummi.