Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
197 : Pesan Dari Sekretaris Lim


Hal yang langsung Widy lakukan setelah beres sahur adalah memastikan ponselnya. Ia meraih ponselnya dari atas bantal dengan hati-hati karena ketiga anaknya masih lelap di sebelahnya. Malahan sambil duduk, Widy mengabsen setiap wajahnya.


Lim : Dy, sudah sahur?


Membaca pesan pertama dari Sekretaris Lim, Widy merasa aneh. Apalagi sepanjang kebersamaan, Sekretaris Lim tipikal yang diam. Hingga Widy berpikir, pria itu tidak punya semangat hidup. Namun ternyata, ketika di pesan, Sekretaris Lim berani bertanya lebih dulu.


Kemudian, Widy memastikan pesan selanjutnya.


Lim : Mulai hari ini, kamu enggak usah kerja. Mulai hari ini, kamu cukup fokus urus anak saja. Anak-anak kamu kurang kasih sayang. Dan aku tahu gimana sakitnya kurang kasih sayang orang tuaku sendiri. Terus mengenai biaya kebutuhan, kamu enggak usah khawatir karena aku masih waras. Aku enggak akan asal minta kamu berhenti kerja, tanpa kasih biaya hidup yang harus kalian dapat.


“Hah ...?” Widy sampai tidak bisa berkata-kata. Kemudian ia sengaja menghela napas pelan beberapa kali. Namun setelah ia memastikan pesan dari Sekretaris Lim lagi, pesan yang ia baca dan langsung membuatnya tak percaya, masih sama.


Lim : Mulai sekarang, cukup aku yang kerja. Aku sudah memikirkan ini matang-matang.


Lim : Aku sudah capek hidup begini. Namun saat bersama anak-anak kamu, aku jadi punya alasan, aku harus tetap hidup, agar aku bisa membahagiakan kalian.


Pesan tersebut sukses membuat air mata Widy berjatuhan. Seolah ada tebaran irisan bawang dalam jumlah banyak, selain ia yang mendadak melow. Anak, ini menjadi alasan Widy langsung terenyuh. Lim ingin menjalin hubungan dengannya tak semata karenanya atau malah karena orang tua Resty yang menjadi alasan mereka mendadak dijodohkan. Namun, ini sungguh mengenai anak yang sebelumnya menjadi batu sandung hubungan Widy dengan laki-laki sebelumnya, dan terakhir dokter Andri.


Lim : Baru kali ini aku ngetik kayak koran, tapi menghadapi orang seperti kamu memang harus begini.


Dan pesan barusan, membuat Widy yang masih menangis, menjadi tersenyum.


Lim : Kita enggak harus langsung menikah. Karena seperti kesanggupanku, aku beneran sanggup menunggu. Meski kalau memang bisa lebih cepat, tentu lebih baik. Karena takutnya, hubungan kita jadi omongan tetangga kamu. Enggak enak juga kalau kita lontang-lantung sementara status kita enggak jelas.


Lim : Kalaupun sudah menikah dan kamu tetap ingin di kampung, enggak apa-apa. Nanti kita bisa bangun rumah lebih layak. Namun saranku, demi masa depan anak-anak, apalagi fasilitas semacam sekolah jauh lebih bagus di kota, mending kita ke Jakarta. Dan ke kampung cuma buat semacam liburan.


Lim : Terus itu, buat orang tua Resty, nanti aku juga kasih khusus karena kamu juga sudah enggak kerja. Nanti kamu yang atur saja.


Lim : Ini, kenapa semua pesanku hanya kamu baca? Kenapa kamu enggak balas?


Terlalu larut membaca WA dari Sekretaris Lim, membuat Widy lupa, ia kebablasan. Tiba-tiba saja, rasa gugup sekaligus tegang menyelusup masuk ke dadanya, dan berakhir sampai menguasai kehidupannya.


Widy : Maaf. Baru beres sahur bareng keluarganya Mas Kala.


Lim : Keluarganya Kalandra baik banget. Belum pernah aku bertemu apalagi sampai kenal orang sebaik mereka.


Widy langsung tersipu membacanya, walau ia sadar, pujian tersebut bukan untuknya.


Widy : Iya, mereka memang sangat baik. Bisa jadi panutan.


Lim : Bener. Bagus buat panutan. Aku langsung malu pas bercermin ke mereka, aku merasa kayak ... duh. Oke, mulai sekarang aku bakalan berusaha jadi lebih baik lagi.


Widy : Amin.


Lim : Besok aku pergi, dan paling bisa ke sini, dua minggu atau sebulan sekali.


Widy langsung menunggu lanjutan WA dari Sekretaris Lim yang kebetulan masih mengetik.


Lim : Mau jalan-jalan? Ke mana?


Widy langsung membeku kebingungan karena terlalu gugup.


Lim : Kenapa?


Widy : Enggak enak sama yang lain.


Lim : Berarti harus serba rombongan?


Membaca itu, Widy jadi berpikir, memang hanya dengan kebersamaan rombongan, mereka aman dari fitnah karena status mereka.


Widy : Aku bingung.


Lim : Ya sudah, kita ketemunya pas mau buka puasa saja. Jadi, hari ini aku beneran mau rehat total.


Widy : Ya sudah, selamat rehat.


Lim : Ingat, enggak usah kerja. Fokus urus anak-anak saja.


“Duh, langsung jadi enggak gini,” lirih Widy sampai menahan napas apalagi Sekretaris Lim masih mengetik.


Lim : Minta nomor rekening biar aku transfer takutnya kalian mau beli apa.


“Ya Alloh, Lim. Masa langsung begini?!” batin Widy menjerit, merasa tidak enak. Hingga setelah memastikan anak-anaknya masih lelap, ditambah sang mamak juga baru saja datang, ia memutuskan keluar dari kamar. Namun tentu saja, sebelum ia pergi, ia sengaja menitipkan ketiga anaknya kepada sang mamak.


“Memangnya kamu mau ke mana, buru-buru gitu?” tanya ibu Rusmini yang sebenarnya merasa tingkah Widy juga jadi aneh. Kali ini, Widy terlihat sangat gelisah, gugup, tapi juga sampai nyaris menangis.


Tanpa menatap sang mamah yang ia pergoki sudah sampai menatapnya curiga, Widy berkata, “Mau ke Mbak Arum!”


Dan Widy melangkah sangat hati-hati, lirik kanan kiri, sana sini, takut ada yang memergoki. Sudah mirip pencuri pokoknya. Ia langsung menuju kamar Arum yang kebetulan tidak tertutup sempurna. Suasana rumah sangat sepi dan Widy berpikir kenyataan tersebut terjadi lantaran semuanya kompak salat subuh di masjid.


“Mbak ...?” panggil Widy dari depan pintu kamar Arum dan Kalandra. Karena tak kunjung mendapat balasan, ia sengaja melongok ke dalam, yang mana ternyata, di dalam hal yang sama juga tengah Arum lakukan. Arum tengah melongok dan terlihat jelas sedang berusaha memastikan keadaan di luar pintu.


“Kenapa, Dy?” tanya Arum yang sedang menyeterika pakaian bayinya sambil duduk tak jauh dari meja kerja Kalandra.


“Mbak, enggak ada Mas Kala, kan?” tanya Widy jaga-jaga.


“Hah, memangnya kenapa?” Arum masih menoleh, menatap Widy.


“Aku mau curhat!” ucap Widy kali ini sampai berbisik-bisik lantaran merasa, apa yang akan ia sampaikan sangat rahasia. Seolah menyangkut hidup dan matinya.


“Sini ... Mbak sambil seterika, ya. Mas Kala lagi ke masjid kok, sama mas Aidan juga sampai dibawa. Katanya, habis subuhan, mau langsung belanja ke pasar buat beli bahan masakan,” ucap Arum dan langsung membuat Widy mengendap-endap walau ia sampai berlari, demi menjaga suaranya dari Azzura dan Azzam.


“Mbak, ... ini, ... tolong ...,” rengeknya yang kemudian memberikan ponselnya kepada Arum. “Sini, aku yang seterika pakaian si kembar,” sergahnya setelah Arum mengambil alih ponselnya.


“Lim ...?” lirih Arum setelah membaca sekilas ruang obrolan WA yang menghiasi layar ponsel Widy.


“I-iya, Mbak. Coba baca!” lirih Widy tak sabar mendapatkan pendapat dari Arum.


“Bentar, Mbak baca dulu.” Arum langsung duduk di kursi kerja Kalandra yang memang empuk. Ia membaca obrolan WA Sekretaris Lim dan Widy yang langsung membuatnya senyum sekaligus baper sendiri. Widy yang sudah menunggu tanggapan sang kakak, jadi makin gelisah. Mirip wanita hamil yang sedang kontraksi.