
“Semua ini inisiatif mas Andri. Mas Andri ingin keadilan nyata buat kamu dan itu dengan memenjarakan Supri! Namun mas Andri bilang, sekarang kamu kalau lihat dia kayak lihat hantu? Kamu buru-buru menghindar bahkan kabur. Benar begitu? Memangnya kenapa?” Arum berucap hati-hati.
“Ya takutlah ... satu ekor sapi wajib dibeli!” ucap pak Haji kemudian menyesap teh manis buatan ibu Fatimah yang baru ia terima.
Ibu Fatimah juga membuatkan teh untuk Septi, maupun Arum dan Kalandra yang ada di sana. Ia menghidangkannya dengan sangat hati-hati karena selain kebersamaan mereka ada di tikar karakter yang menghiasi ruang pertama di kontrakan, Ojan juga sudah tidak mau diam.
Septi yang duduk di sebelah Arum langsung melirik sebal pak Haji. “Pak Gede ih ....”
Ibu Fatimah duduk di sebelah Septi. Ia hendak merengkuh Sepri, tapi bocah itu sudah mengejar Ojan. Terjadi kejar-kejaran yang membuat kedua bocah itu terikat dalam gelak tawa. Kendati demikian, Aidan yang ada di sana sama sekali tidak terusik untuk ikut. Aidan tetap anteng duduk di pangkuan Kalandra sambil menatap setiap wajah di sana, menyimak setiap yang terjadi dengan saksama.
“Tenang, Sep. Kan sekarang Pak Gede sudah jadi Papah kamu. Nanti Pak Gede yang beli sapinya! Sapinya lebih gede dari Anggun pokoknya!” yakin pak Haji.
Arum dan Kalandra kompak mesem lantara kini, sasaran pak Haji bukan lagi Septi, melainkan Anggun.
“Yang jadi masalah apa?” tanya ibu Fatimah sambil merangkul Septi. “Nikah lagi selagi masih muda dan sama orang baik juga.”
Septi menggeleng, terus begitu bersama kesedihan yang membuncah hingga kedua matanya yang terasa makin panas akhirnya basah. Butiran bening tak hentinya mengalir dari kedua sudut matanya.
“Disegerakan saja yah, Sep. Nanti bareng lebaran haji. Tuh sapi buat kurban. Sekali-kali wajib kurban sapi apa kambing, jangan kurban perasaan terus! Enggak baik, beneran enggak baik!” lanjut pak Haji.
Perut Kalandra dan Arum sampai kaku gara-gara menahan tawa. Ocehan pak Haji benar-benar tiada dua.
“Si dokter Andri ganteng, kan? Dia mirip yang di sinetron kan. Siapa itu namanya? DUDA Harlino. Cocok, duda sama janda!” lanjut pak Haji bersemangat.
“Kasihan Sepri ih ... jangan jodoh-jodohin aku!” isak Septi.
Sepri yang awalnya asyikk kejar-kejaran dengan Ojan, buru-buru menghampiri sekaligus memeluk sang mamah. Tangan mungilnya berhasil mendekap sebagian punggung sang mamah.
“Apanya yang kasihan? Semuanya sayang Sepri Sep! Termasuk Duda Andri. Eh, Herlino. Eh, dokter Andri maksudnya. Dia pasti juga sayang!” yakin pak Haji lagi.
Tanpa berkomentar, ibu Fatimah yang masih merangkul tubuh Septi, menyandarkan tubuh sekaligus kepala Septi ke dadanya.
Suasana menjadi melow karena Septi sampai menangis tersedu-sedu. Arum ikut berkaca-kaca, merasa prihatin karena berada di posisi Septi pasti tidaklah mudah. Walau dulu Septi memang tidak waras bahkan dulu ke Sepri saja Septi tidak mau mengurus, ternyata semua itu ada penyebabnya.
“Pelan-pelan, Sep. Coba dikasih kesempatan. Buka hatimu. Sekarang, mas Andri masih kerja, kan? Masuk siang, ya?” Arum berkomentar.
“Sudah, jangan dipaksa. Dijalani saja, Sep. Pelan-pelan, kalau memang enggak juga, ya jangan dilanjut. Namun jika memang kamu nyaman, enggak ada salahnya dilanjut,” ucap Kalandra penuh pengertian. “Pelan-pelan sambil dirangkul saja, Bu Fatimah.” Tatapannya berangsur tertuju kepada ibu Fatimah yang langsung menatapnya, kemudian mengangguk paham yang mana ibu Fatimah juga sampai mengucapkan terima kasih.
***
Hal yang paling ditakutkan oleh seseorang yang tidak mengharapkan cinta, adalah ketika dihadapkan pada orang yang mencintai sekaligus sangat berharap kepadanya. Kepada Tono, mungkin Septi bisa cuek dan berlaku sesuka hati kepada mantan wariyem itu. Namun kepada dokter Andri yang memiliki niat serius, ... benar-benar ada titik jenuh yang Septi rasakan. Titik jenuh yang juga membuat Septi emosional. Malahan lama-lama, emosi itu sampai melahirkan rasa benci.
Septi menghela napas dalam kemudian buru-buru melangkah, meninggalkan dokter Andri begitu saja.
“Kok jadi makin parah, ya?” batin dokter Andri melepas berat kepergian Septi.
“Ehm!”
Namun deham barusan dan ternyata itu dari Anggun yang juga sudah memakai mukena lengkap, membuat dokter Andri buru-buru lari menyusul Septi.
“Sep, tunggu, Sep! Aku lihat penampakan!” ujar dokter Andri yang akhirnya berhasil menyusul Septi. Ia mencoba mendahului Septi yang terus saja melangkah cepat meninggalkannya.
“Ih ... kok gitu banget! Padahal kalau aku nikah sama dia, masa depanku bisa cerah! Masa depanku pasti berasa gendong lampu neon super terang, pokoknya!” keluh Anggun merasa sangat sebal kepada dokter Andri. “Usahalah ... katanya, enggak ada hasil yang mengkhianati usaha. Toh, ngapain juga aku galau mikirin Supri yang terancam dipenjara dua belas tahun lamanya. Iya kalau dia masih hidup. Kalau dia sampai koid duluan!”
Anggun buru-buru melangkah menyusul kepergian dokter Andri. Tekadnya telanjur kuat yaitu memiliki pasangan baru yang mapan sekaligus tampan layaknya dokter Andri. “Aku yakin aku bisa!” batinnya lagi menyemangati dirinya sendiri.
“Sep, biasa saja kenapa? Kita kan tetangga, kenapa mendadak jaga jarak begini?” Dokter Andri masih berusaha.
“Jaga jarak loh, Mas. Aku sudah wudu!” sergah Septi yang segera melepas sandalnya karena ia sudah sampai pintu masuk masjid.
Dokter Andri mengangguk setuju dan segera menjaga jarak. “Sep, itu yang di belakang ngapain senyum-senyum sendiri?” ucapnya tanpa berani menoleh ke belakang karena di sana ada Anggun yang ia maksud.
Septi yang penasaran segera menoleh ke belakang. “Hah? Mbak Anggun? Senyum-senyum sendiri lihatin dokter Andi? Puber lagi tuh orang?” Septi mendadak terbahak. “Padahal suaminya baru kemarin diringkus, eh sekarang sudah cari sasaran baru. Selamat, Mas. Per detik ini, fans Mas Andri bertambah!” sergahnya yang memasuki masjid sambil terus tertawa.
Dokter Andri yang awalnya tersipu hanya karena melihat keceriaan Septi, refleks loncat karena Anggun yang di belakangnya, menyapa dengan sangat lembut sekaligus mesra.
“Mbak Anggun, ih. Apa-apaan, sih? Bikin kaget saja!” tegur dokter Andri yang memang nyaris jantungan gara-gara perhatian level m4ut yang baru saja Anggun berikan.
Dari sebelah pintu bagian khusus untuk wanita, Dokter Andri memergoki Septi yang melongok sambil susah payah menahan tawa. Dokter Andri balas menatap Septi sambil menggeleng penuh peringatan.
“Usaha ih, Mas Andri. Mana tahu, ... jo-doh!” ucap Anggun mendadak kemayu. Seperti yang Septi yakini, ia sungguh mendadak puber lagi.
“Ibu!” seru Nissa dari belakang dan baru datang bersama pak Erdy.
Kepada Nissa, Septi tak bisa menolak walau sebelum itu, ia menjadi canggung kepada Septi.
“Dek Sepri enggak dibawa?” tanya Nissa langsung menyusul Septi yang sampai keluar dari masjid, menunggunya di pintu masuk.
“Dek Sepri belum bangun, Mbak. Paling nanti bangunnya kalau Ibu pulang dari sini,” balas Septi yang kemudian menggandeng Nissa. Mereka sama-sama masuk.
Terlalu asyik sekaligus hanyut memandangi kebersamaan sang putri dengan Septi, dokter Andri lupa, ada Anggun yang tengah ia hindari. Hingga lagi-lagi, ia refleks loncat demi menghindari usaha Anggun yang sudah langsung mulai g3nit kepadanya.