Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
44 : Bertamu dan Sambel


Arum tak hanya panas dingin. Karena wanita sederhana itu juga tak hentinya merinding. Melangkah di belakang punggung Kalandra, jemari tangan kanannya masih berpegangan pada kaus bagian punggung Kalandra yang ia cimit.


Sudah malam, tapi malah bertamu ke rumah orang dan orang itu bukan orang biasa. Lantai marmer di sana makin membuat Arum kedinginan. Arum sampai kebelet pipis.


“Jangan tegang, biasa saja. Paling juga sebentar karena mereka juga mau tidur,” ucap Kalandra lirih.


“Iya, Mas. Tapi saking gugupnya, aku pengin pipis,” balas Arum yang juga berucap lirih.


Suasana penerangan di sana terbilang remang karena hanya beberapa lampu kecil di sudut ruangan yang dinyalakan. Namun di ruang depan yang akan Arum dan Kalandra tuju, di sana terang benderang.


“Di sebelah ruang keluarga ada kamar mandi. Yuk kita ke sana karena mamah dan bapakku ada di sana,” balas Kalandra.


Arum mengangguk-angguk walau Kalandra tidak sampai menatapnya. “Kalau aku salah, tolong dikoresi, yah, Mas.”


Kali ini, Kalandra menatap Arum. Ia sampai menghentikan langkahnya. “Dikoreksi gimana? Kita kan enggak lagi ujian.” Ia menahan tawanya. Baginya, ekspresi takut Arum benar-benar lucu. Menggemaskan. Tangan kirinya yang menenteng ransel kecil Arum nyaris mencubit pipi Arum yang tak lagi setirus dulu.


Arum refleks memejamkan matanya kemudian menunduk.


“Oke jangan tegang. Karena apa yang kamu anggap berat belum tentu seberat yang kamu pikirkan. Jalani saja.”


Langkah demi langkah mereka arungi. Langkah yang makin lama makin terasa berat bagi Arum yang terlalu minder. Jika diberi pilihan, daripada ke sana, tentu Arum lebih memilih kerja rodi sampai besoknya lagi. Namun jika pilihan yang Arum miliki malah dikejar-kejar pak Haji dan fatalnya harus menikah dengan pria tua itu, tentu Arum akan memilih menjadi bagian dari Kalandra.


“Ayo, Rum. Jangan malu-maluin. Enggak usah gugup begitu! Kamu bukan penjahat dan tujuan kalian ke sini juga bukan buat kejahatan, kok.” Hati kecil Arum menasihati. Dan detik itu juga Arum mencoba tenang. Arum menghela napas pelan beberapa kali.


Sampailah mereka di ruang keluarga yang penerangan di ruangannya sungguh terang benderang. Ternyata sumber cahaya paling terang di sana dan itu dari tengah ruangan, merupakan lampu hias berukuran sangat besar. Arum sudah sering melihat lampu hias semacam itu ketika ia bekerja menjadi ART di rumah-rumah mewah termasuk itu ketika dirinya bekerja di luar negeri.


“Nah, ini orangnya akhirnya datang!” seru ibu Kalsum tiba-tiba.


Seruan barusan sukses membuat Arum terkejut bukan main terlebih awalnya suasana di sana sangat hening. Dari lorong ruang samping, ibu Kalsum melangkah cepat sambil membawa ulekan untuk membuat sambal.


“Loh, mau ngapain?” Kalandra terheran-heran.


“Bapakmu, malam-malam minta pakai sambal. Mamah buatin, katanya rasanya salah terus. Terakhir katanya rasanya, rasa bancci. Ya Mamah makin enggak ngerti.” Ibu Kalsum yang memakai jilbab kuning, berkeluh kesah dengan suara lantang cerewetnya yang benar-benar khas.


Dari lorong yang sama, pak Sana selaku bapak Kalandra melanglah loyo sambil membawa piring hanya berisi nasi putih. Sungguh pertemuan yang sangat di luar dugaan. Arum ya g masih diam sungguh terheran-heran.


“Mamah kamu masak sop ayam, dikasih penyedap rasa sapi. Ya rasanya jadi macam banci. Mereka jadi bingung rasa. Nah bikin sambal pun iya. Bapak minta dibuatkan sambal kacang panjang, dipotong kecil gitu. Biasanya kan rasa terasi bakar sama kencur, eh ini ada rasa sapinya. Ya aneh lagi!” keluh pak Sana merasa sangat teraniaya.


Kalandra yang menahan tawanya langsung berkata, “Ini ada apa dengan sapi, Mah?”


Bukannya menjawab pertanyaan sang putra yang jelas menuntut penjelasan, ibu Kalsum malah berkata, “Mbak Arum, besok kita bikin rendang sapi, yuk! Apa gulai sapi, pasti enak!”


Namun di belakang ibu Kalsum yang kini menghampiri Arum, pak Sana sibuk menggeleng kepada Arum sambil berbisik-bisik. “Jangan mau. Kamu saja yang masak, mamah enggak usah diajak!”


Arum bisa membaca gerak bibir pria berwajah kalem di depan sana dengan jelas. Namun, Arum masih tidak percaya, bahwa tadi, pak Sana memanggilkan ibu Kalsum kepadanya dengan sebutan mamah.


Kebersamaan yang harusnya menegangkan apalagi bagi Arum, malah berlangsung di dapur. Arum diminta membuat sambel kacang panjang dengan rasa terasi bakar maupun kencur yang khas. Ada pedas tapi ada manisnya juga. Rasa yang sudah selama satu jam lalu, gagal ibu Kalsum ciptakan gara-gara wanita ayu itu sedang hobi memasak dengan tambahan penyedap rasa sapi.


Ketika ibu Kalsum sibuk melihat Arum membuat sambal, para lelaki terima duduk sambil menikmati teh manis hangat. Tentu saja, Aidan masih di pangkuan sekaligus dekapan Kalandra.


Ibu Kalsum tampak sangat serius melihat setiap proses yang Arum lakukan. Sang suami yang juga sibuk memperhatikannya, menjadi kesulitan menghentikan tawanya.


“Dijamin beribu-ribu persen mamah bakalan pinter bikin sambel kacang panjang. Dan dijamin seribu persen juga, habis ini Bapak bakalan mabok sambal kacang panjang karena mamah pasti bakalan bikin terus buat andalan!” ucap pak Sana di tengah tawanya.


Ibu Kalsum langsung mendengkus sebal menatap suami. “Bapak ini, ... jangankan masak, bikin sambal saja susah, loh, Pak. Mbok ya dihargai, ... ora papa kalau saben hari, menunya itu terus. Bapak bilang, apa pun yang Mamah masak bakalan Bapak makan, bahkan meski itu mengandung racuun!” protesnya.


Arum yang baru beres mengaduk sambal kacangnya, juga mendadak lemas karena harus sibuk menahan tawa.


“Ini sudah jadi, ya? Bentar, demi cinta Mamah ke Bapak, Mamah dulu yang coba biar kalau ada apa-apa, Mamah dulu yang kena duluan!” ucap Ibu Kalsum bergurau.


“Itu enggak ada raccunnya, Mah. Sudah sini langsung bawa sini, dijamin itu pasti enak karena dari aromanya saja sudah ketebak!” tegur pak Sana.


“Mirip bikinan Mamah gimana? Salah alamat itu!” balas pak Sana.


Arum makin lemas melihat tingkah orang tua Kalandra yang malah lebih mirip ABG yang baru berpacaran dan sedang sayang-sayangnya.


Ibu Kalsum dengan bersemangat membawa ciri atau coet batu berisi sambal kacang panjangnya. Sementara Arum baru bergabung setelah ia mencuci tangannya. Ia mengambil alih Aidan dari Kalandra.


“Baru datang, sedang jadi tamu, malam-malam sudah langsung disuruh nyambel!” ucap Kalandra sengaja menyindir orang tuanya.


Ibu Kalsum yang langsung pergi mengambil nasi langsung terbahak.


“Bawa nasi yang banyak, Mah!” sergah pak Sana yang langsung masak dengan lahap.


“Katanya Bapak mau diet!” sergah ibu Kalsum.


“Gara-gara Arum, Bapak terancam gagal diet!” kali ini Pak Sana mengomel kepada Arum.


“Loh, kok malah nyalahin Arum? Wong tadi bapak sama mamah yang minta dibuatkan sambal,” ujar Kalandra membela Arum. Ia berdiri dan juga ikut mengambil nasi.


“Kamu mau ngapain, Mas?” tanya ibu Kalsum.


“Mau ikut makan. Mau ikut makan sambelnya juga,” ucap Kalandra.


“Sudah, kamu makan pakai ayam apa telur, apa sup ayam saja itu,” ucap pak Sana.


“Bosan ih, Pak.” Melihat semua makanan itu yang tersaji di tengah meja saja, Kalandra sudah bosan.


Ibu Kalsum yang masih lahap makan, tersenyum tak berdosa kepada Arum yang juga langsung balas tersenyum geli kepadanya. “Mbak, Masnya juga mau makan. Jadi bikin sambel lagi.”


Mendengar itu, Kalandra dan sang bapak, kompak tertawa. Kalandra meletakan piring berisi nasinya kemudian mendekati Arum dan mengambil alih Aidan lagi.


“Aidannya tidurin di kamar kamu. Jangan diemban gitu terus, kasihan takutnya badannya sakit,” sergah ibu Kalsum.


“Nanti saja, Mah. Kasihan kalau di kamar sendirian,” balas Kalandra yang kemudian menciium gemas pipi Aidan.


“Oh iya, Mbak. Kamu lagi dikejar-kejar pak Haji, ya?” sergah ibu Kalsum yang memulai membuka situasi sulit Arum.


“Pak Haji siapa?” tanya pak Sana tak tahu-menahu.


Karena ketika ibu Kalsum begitu faseh membahas perkara pelik yang tengah melilit Arum, tidak dengan pak Sana yang sibuk bertanya. Tampaknya, Kalandra sudah menceritakan semuanya kepada sang mamah. Terlebih sejauh ini, hubungan keduanya memang sangat baik.


“Orangnya kayak apa, sih?” tanya pak Sana.


“Lebih tua dari Bapak!” sergah ibu Kalsum yang kali ini mengambil ayam goreng.


“Ha ...? Kalau yang punya deller motor, kayaknya bapak pernah lihat.”


“Lah tadi itu yang di depan kontrakan Mbak Arum, yang Mamah ajak Bapak ke sana. Bapak lupa.”


“Innalilahi, itu. Oh iya ... iya. Sudah tua banget itu. Sebaya kakeknya Kala kayaknya.”


“Nah, bener, Pak. Sebaya bapakku!”


“Ya sudah kalau gitu mulai sekarang kamu tinggal di sini saja. Tuh pak Haji harusnya enggak berani ganggu kamu lagi,” ucap Pak Sana setelah ia meminum teh manisnya dan satu piring nasi hangat miliknya juga sudah sampai ia habiskan.


“Iya, Mbak. Sudah, kamu di sini saja. Nanti kalau ada apa-apa, kita saling sharing. Ini ibaratnya, Mas yang baru kehilangan anak dan istrinya, kembali dikasih kepercayaan sama Tuhan, buat jadi suami sekaligus bapak lagi,” ucap ibu Kalsum. Kemudian, ia meraih gelas berisi air putihnya. Dan setelah ia minum, ia berkata, “Mamah sama Bapak enggak akan banyak ikut campur. Asal anak cocok dan yang dipilih juga bisa diajak hidup bersama, sebagai orang tua kami cukup lihat anak bahagia. Dapat anak itu susah, kalau enggak, Mas Kala pasti punya saudara!”


“Tapi jangan sekali-sekali minta Mamah bantu urus bayi. Bahaya. Serius, ini bukan bercanda. Masak sama urus anak, Mamah beneran jangan dipaksa. Bahaya!” sergah pak Sana dan sang istri yang menjadi terdakwa hanya tertawa. Aidan sampai bangun sekaligus menangis dan mungkin efek kaget.


Arum segera menenangkannya, pamit karena Kalandra membimbingnya ke kamar pria itu saat masih tinggal di sana. Jadi, bisa kalian bayangkan perasaan Arum saat ini. Arum merasa seperti mimpi. Mimpi yang sangat indah hingga Arum tak mau menyudahinya.