Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
164 : Betina Kadal


“Dosa apa aku, sampai-sampai dikadalin wanita kadal begini?” batin Fajar tak hentinya berkeluh kesah. Lebih kesalnya lagi, selain yang di belakang tak mau diam mirip belatung cabai, dari sebelah juga ada yang sibuk menekan klakson. Klakson motor.


“Hahaha ... Jar, Jar ... segala bentuk kamu coba!” seru Angga yang memang akan mengantar pesannya nuggetnya. Ia sengaja memepet Fajar, membuat motor mereka melaju beriringan. “Dikasih yang ori, mintanya yang imitasi apa malah amit-amit begini!”


Angga sampai lemas melihat tingkah yang di belakang Fajar. “Sist, hadapnya jangan ke belakang. Hadapnya ke depan biar romantis. Peluknya yang erat, biar kalau Fajarnya sesak napas, bisa langsung kasih napas buatan. Mumpung belum puasa!” Angga makin terpingkal-pingkal karena yang di belakang Fajar, tampaknya akan langsung mengikuti solusinya.


Tak tanggung-tanggung, si Honey tak sampai meminta Fajar untuk berhenti lebih dulu guna mengubah posisi. Karena yang langsung wariyem itu lakukan adalah berdiri sambil teriak heboh. Angga yang makin terhibur sengaja mengabadikan momen tersebut menggunakan ponselnya. Membuat Fajar dan Honey mirip artis dadakan karena ia rekam dari belakang, samping, dan terakhir depan.


“Woooyy, duduk! Kalau sampai ditilang polisi gimana?!” kesal Fajar apalagi semua mata sudah langsung memperhatikan mereka. Apalagi walau sebagian besar langsung heran kemudian tertawa, ada juga yang mengecam.


“Pantatku mendadak runcing, Yang! Enggak bisa duduk! Seger motoran sepoi gini anginnya, berasa jadi model iklan sampo!” balas Honey dengan santainya sambil terus kibas-kibas rambut.


“Copot baru kapok tuh kepala!” sewot Fajar merasa lebih leluasa karena Angga tak lagi mengikutinya. Hanya saja, tadi, mantan pengikut saran mutahir-nya, malah telah mengabadikan momen lucknut dalam hidupnya.


“Ya ampun, Ayang! Kok copot sih? Kalau copot kita terancam gagal kawin!” Setelah berucap demikian, Honey mendadak heboh jogedan. “Kawinnn kawin, kawin sebelum ramadan biar saur sama puasa ada yang nemenin!”


Mendengar itu, Fajar merasa tersindir karena biar bagaimanapun, sebelumnya ia pernah mengajak Septi menikah sebelum ramadan, agar sahur dan puasanya ada yang nemenin. “Kok jadi merasa bersalah, ya? Tapi lihat Septi yang sudah enggak punya apa-apa, ya ampun beneran enggak ada gambaran masa depan. Rasanya beneran gelap kalau aku sampai sama dia!” batin Fajar.


Sadat di tikungan depan ada polisi yang jaga, Fajar sengaja meminta Honey untuk duduk dengan benar. “Ditilang kamu, digiring ke kantor jadi gagah lagi!” Fajar bisa saja menyerahkan Honey ke polisi jalan di depan sana, tapi yang Fajar tahu, polisi di sana juga geli berurusan dengan makhluk seperti Honey.


Honey yang agak takut, melongok-longok memastikan di depan sana. Benar saja, ada dua polisi jalan yang berjaga. Buru-buru ia merunduk mencoba duduk. Kesalnya, Fajar malah ia yakini sengaja melewati jalanan berlobang hingga ia membalas pria itu dengan menjambak sekuat tenaga kemudian mencekek leher Fajar dalam berpegangannya.


“Aku enggak bisa napas, sumpah. Aku enggak bisa napas!” keluh Fajar sudah sampai pucat.


“Masa sudah pengin dikasih napas buatan sekarang? Ini maksudnya, kita mau langsung buka puasa, begitu?” tanya Honey memastikan dan langsung kegirangan membuat motor Fajar goyang-goyang. Ia yang masih berpegangan ke leher Fajar sekuat tenaga, sengaja melongok dari sebelah kiri wajah Fajar.


“Lepas, ditangkap polisi kamu kalau gini caranya!” Fajar sudah makin sulit bernapas. Beruntung akhirnya Honey mau melepasnya pegangannya dari lehernya.


Sampailah mereka di lapak Septi jualan dan terbilang sudah sepi. Malahan Septi sedang beres-beres seolah mau tutup.


Septi langsung tak bis berkata-kata saking bahagianya melihat kebersamaan Fajar dengan si Honey. Lebih membuat Septi terhibur, Honey berpegangan sekuat tenaga pada leher Fajar menggunakan kedua tangan kala turunnya.


“Alhamdullilah, Mas. Akhirnya jodoh Mas sedeket itu!” ucap Septi dan Fajar ia pergoki langsung melirik kesal kepadanya. Ekspresi yang tentu saja baru ia dapatkan karena biasanya, Fajar selalu menyikapinya dengan sikap-sikap khas pria idaman.


“Cocok, kan?” sergah Honey yang buru-buru menempelkan pipinya ke pipi Fajar.


Fajar yang baru melepas helmnya hanya terdiam pasrah sambil sesekali melirik sebal Septi.


“Yang namanya jodoh memang, ... hanya Honey sama Fajar yang tahu!” ucap ibu Fatimah sambil membiarkan Sepri turun dari gendongannya. Bocah itu hendak bermain truk mainan di tikar yang kemarin sempat menjadi tempat istirahat Fajar kalau pria itu pingsan.


“Alhamdullilah cocok. Jodoh kan memang cerminan diri. Mau nikah juga?” Ibu Fatimah sengaja menyindir Fajar.


“Mau, Bu Haji! Tapi kalau kami jadi nikah, aku walinya siapa?” manja Honey terus mendekap manja sebelah lengan Fajar, walau yang didekap sudah sibuk menyingkirkannya.


“Ya pohon pisang, memangnya siapa lagi?” balas Septi yang kemudian tertawa puas.


“Ah, kamu Sep, bisa saja. Mentang-mentang kami punyanya pisang!” balas Honey yang kemudian memesan tiga puluh porsi es gepluk kepada Septi.


“Hah, tiga puluh porsi? Buat apa, banyak banget?” balas Septi terheran-heran, tapi ia tidak bisa berhenti tertawa.


“Memang sengaja stok, buat persiapan tempur!” balas Honey yang langsung membuat Septi tertawa histeris. Tawa histeris yang juga sampai menular kepadanya, hingga ia kelepasan tawa godamnya dan sukses membuat Septi jatuh terduduk saking bahagianya.


Sekelas ibu Fatimah saja langsung tertawa lepas, apalagi wanita itu tahu, adanya hubungan dadakan antara Honey dan Fajar karena dipelopori oleh Septi.


“Sudahlah, kan sesuai kesepakatan, kita hanya antar kamu.” Fajar mulai muak.


“Yang namanya antar ya ke mana-mana, Anyang! Melebihi suami dan enggak ada batas kadaluarsanya! Sekarang dan selamanya, bahasa kalbunya!” jelas Honey.


“Enggak bisa gitu, dong. Dikiranya aku enggak ada kepentingan lain?” kesal Fajar sungguh marah kepada Honey.


“Sudah ... sudah. Gini, kalian beli tiga puluh, aku kasih bonus lima, asal kalian ikut kontes ambasador es gepluk cap gajah punya aku!” ujar Septi.


Dengan semangat, Honey langsung mau dan mendekap mesra Fajar untuk tersenyum ke arah kamera ponsel Septi.


“Sudah yah, aku mau pulang!” kesal Fajar.


“Ya sudah Ayang! Besok gampang disambung lagi!” balas Honey ceria dan tak lupa meminta Fajar untuk membayarkan pesanan esnya.


“Kok aku yang bayar? Yang makan kan kamu!” protes Fajar.


“Kan aku makannya sendirian, sepi, enggak asyik! Kecuali kalau kamu mau nemenin aku, aku yang bayar apa pun itu! Janji!” sergah Honey sambil mengangsurkan kelingking kanannya kepada Fajar.


Fajar langsung diam sekaligus merenung serius. “Si betina kadal ini, beneran kaya, apa cuma ngada-ngada? Kok cara ngomongnya, seolah-olah dia memang kaya? Tapi andai aku nekat, takutnya kayak yang lagi viral. Bukannya dapat duit, aku malah jadi almarhum!” batin Fajar ngeri sendiri, meski jujur ia sangat ingin menguras kekayaan Honey.


Bener, gitu, Honey kaya dan Fajar, ... ehm ... mau?