Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
42 : Solusi


Malamnya setelah menutup kantin, Arum dikejutkan oleh kedatangan Kalandra yang sampai detik ini masih memomong Aidan. Arum pikir, pria itu ada kepentingan hingga harus sesegera mungkin mengembalikan Aidan kepadanya. Namun, nyatanya Arum salah.


Kedatangan Kalandra ke sana dan memang masih sambil mengemban Aidan karena pria itu mengajak Arum pergi. Kalandra mengajak Arum ke rumah orang tua pria itu.


“M-memangnya, ada acara apa, Mas?” tanya Arum gugup sekaligus takut. Kenapa Kalandra sampai mengajaknya, di tengah waktu yang sudah malam? Kini sudah setengah sembilan malam.


“Karena kalau saya antar kamu pulang ke kontrakan, yang ada kamu ketemu pak Haji. Orangnya masih ada di depan kontrakan kamu,” jelas Kalandra.


“Ya Alloh, itu si aki-aki!” keluhnya yang kemudian juga kembali kepikiran maksud alasan Kalandra mengajaknya ke rumah orang tua pria itu.


Bagi Arum, cukup janggal jika orang dewasa mengajak lawan jenisnya berkunjung ke rumah orang tua tanpa tujuan. Andaipun hanya untuk mengelabuhi pak Haji, keputusan tersebut terbilang kurang tepat. Bagaimana jika orang tua Kalandra, mempermasalahkan hubungan mereka? Juga, bagaimana jika hubungan mereka juga sampai menjadi cibiran tetangga orang tua Kalandra?


“Apa ada pekerjaan yang harus saya bereskan?” tanya Arum. Ia menatap sungkan Kalandra yang juga langsung menggeleng, menepis apa yang ia tebak.


“Terus?” lanjut Arum. “Mas, tolong jangan bikin saya takut. Beban hidup saya sudah sangat banyak.


“Memangnya, kamu enggak suntuk, apalagi stres, hidup cuma gitu-gitu saja?” lanjut Kalandra.


Tumben Mas Kalandra ngomongnya muter-muter? Pikir Arum. “Sudah malam.” Arum masih berusaha mencari alasan.


“Malam ini, kita menginap di rumah orang tuaku saja. Besok sebelum subuh, sesuai jadwal kerja kamu, aku antar kamu ke sini lagi,” balas Kalandra meyakinkan. Di hadapannya, Arum malah terlihat menjadi takut kepadanya. Sekadar menatap pun, Arum tampak tidak berani.


“Enggak ah, Mas. Takut dinikahin! Takut kena fitnah lain juga!” ucap Arum yang sekadar berucap menjadi hanya mampu berucap sangat lirih.


“Kamu beneran enggak mau nikah?” lirih Kalandra yang menjadi menatap wanita di hadapannya dengan tatapan sendu. Bersama hatinya yang tengah kemarau, di sana seolah mendadak ada angin kencang. Angin kencang yang mengabarkan, Arum tak beda dengan dirinya. Mereka sama-sama terluka. Luka karena pernikahan meski penyebabnya berbeda.


“Sekarang, aku mau fokus menata hidup dulu, Mas. Kontrak di kantin itu setahun atau sepuluh bulan. Terus habis itu, aku sudah ada rencana buat buka warung makan, atau malah rumah makan sekalian.” Sampai detik ini, Arum belum berani menatap Kalandra.


Balasan dari Arum membuat Kalandra menatapnya lebih serius cenderung intens. “Kamu enggak capek? Kamu enggak kasihan ke Aidan?”


“Seiring bertambahnya usia Aidan, Aidan juga bakalan jauh lebih butuh kamu. Aidan bakalan butuh kamu lebih dari sekarang. Belum kalau anaknya aktif.”


“Mungkin kamu bisa membantu orang untuk bantu kamu jaga Aidan, tapi kalau kamu terlalu sibuk kerja, kamu bakalan kecapaian dan emosi orang capek kadang kurang baik.”


“Semua masa hanya datang sekali, begitupun yang akan Aidan alami. Aidan hanya akan menjadi bayi sekali. Melalui ingatannya dia akan merekam setiap apa terlebih perlakuan yang ia dapatkan.”


“Dihadapkan pada situasi sekarang, aku benar-benat berpikir keras. Aku sampai merenung, alasan sekaligus tujuanku hidup buat apa, sih? Kerja, kerja, ... masa sih, beneran hanya buat itu? Kalau memang iya, bukankah itu terlalu datar? Buat apa kita hidup kalau hal yang bisa kita lakukan hanya itu-itu saja?”


“Kita menikah. Kalaupun kamu enggak menikah denganku, paling tidak kamu harus cari laki-laki yang baik dan bisa menjadi papah yang baik untuk Aidan. Namun kriteria ini beneran sulit karena pak Haji saja terlihat jelas sama sekali tidak tertarik. Termasuk Angga, ... dia juga enggak peduli.” Setelah berucap demikian, Kalandra juga berucap, “Aku tahu ini membuat kamu enggak nyaman. Namun akan enggak nyaman lagi kalau hidup kamu dipenuhi orang macam pak Haji. Ada satu saja repot, apa kabar kalau lebih?”


“Jujur, aku pun sebenarnya enggak mau menikah lagi. Namun setelah aku pikir lagi, kalau itu yang beneran terjadi, kok rasanya aku egois banget. Aku egois ke diriku sendiri, ... aku enggak bersyukur ke kehidupanku sendiri padahal enggak semua orang bisa dikasih hidup enak seperti aku, meski jujur saja, jadi aku sebenarnya enggak seenak yang orang lihat,” lanjut Kalandra lagi.


“Jujur, aku juga enggak mau menikah lagi. Andai aku enggak punya Aidan, mungkin aku sudah pergi jauh, ke tempat di mana tak ada seorang pun yang mengenaliku,” lirih Arum.


“Kalau begitu kita ke rumah orang tuaku saja. Biasanya orang tua lebih punya banyak solusi,” ucap Kalandra.


Arum langsung menggeragap dan perlahan mundur. “Mas, ih.”


“Ya kenapa?” balas Kalandra.


“J-jangan sekarang.” Arum sungguh belum siap dan memang tidak akan pernah siap. Seorang Kalandra yang bagi semuanya WAH apalagi bagi orang pasar, mengajaknya menikah?


“Terus?” balas Kalandra.


Arum menunduk dan memang tidak bisa menjawab. Namun seperti sebelumnya, ia meyakinkan dirinya, bahwa dirinya mampu keluar dari situasi sekarang.


“Kalau pun kamu pindah, orang sekelas pak Haji masih terus mengejar. Kecuali kalau kamu perginya ke luar negeri, mungkin dia akan menyerah. Namun andai kalian kembali bertemu sementara kamu belum punya suami, dia pasti bakal ngejar kamu lagi,” ucap Kalandra. “Hari ini aku sudah pergi ke rumah RT dia tinggal. Aku sudah konsultasi, dan katanya kejadian ini juga yang membuat istri keduanya akhirnya mau. Intinya karena wanita itu terus dikejar, dan mungkin sudah capek karena sudah banyak yang harus dikorbankan juga. Ditambah pak Haji ini kan memang punya *powe*r, ya.”


“Intinya, aku enggak bisa berbuat banyak kalau aku bukan suami kamu. Entah yang lain. Namun aku lihat, mereka termasuk sekelas orang tua Septi kayaknya juga takut ke pak Haji. Si pak Haji ini kan, uwanya bapaknya Septi,” lanjut Kalandra.


“Miris banget yah, Mas.” Arum menunduk dalam. Ia masih merenung, mencoba cara lain selain pernikahan apalagi jika harus sampai terjebak pernikahan dengan pak Haji yang sekadar pada Aidan saja tak peduli.


“Aku juga sudah bahas ini ke orang tuaku, makanya mereka minta aku ajak kamu ke sana,” lanjut Kalandra.


“Innallilahi, Mas?” Arum benar-benar syok. Ia sampai mendelik menatap Kalandra yang masih menatapnya dan kini mengangguk-angguk santai.


“Mas, kok jadi seserius ini?” sergah Arum lagi. Ia sudah langsung ketar-ketir.


“Karena yang kamu hadapi pak Haji. Kalaupun aku tetap bantu kamu, tapi statusku bukan suami kamu, ... aku tetap kalah. Kecuali kalau kamu ke luar negeri, tapi itu enggak mungkin,” yakin Kalandra dengan suara lirih.


“Ehm!” deham suara berat khas suara laki-laki tua. Suara yang langsung membuat Arum bergidik. Lain dengan Kalandra yang berangsur menghela napas pelan. Tatapan yang sempat melirik ke belakang kanan selaku sumber suara dehaman dan bisa dipastikan merupakan suara pak Haji, kembali menatap Arum. Tatapan mereka akhirnya bertemu dan Kalandra bisa merasakan ketakutan yang begitu besar dari seorang Arum dan itu gara-gara pak haji.


“Dek Arum, ... saya belum menyerah. Maafkan saya karena pagi tadi, saya terbawa emosi. Saya begitu karena saya teramat menyayangi Dek Arum,” ucap pak Haji dengan gagahnya.