Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
207 : Agus yang Membuat Emosi


Ada yang aneh ketika Widy sampai rumahnya. Seperti ada yang tinggal alias menghuni rumahnya, padahal harusnya tidak. Aroma rokok tercium kuat dari bawah pintu yang tidak sepenuhnya menutup. Iya, pintu yang awalnya ia kunci itu ia dapati semacam didobrak paksa dari luar.


Jantung Widy langsung berdetak sangat kencang. Widy tak mau gegabah dan segera mengambil kayu kuat untuk jaga-jaga apalagi kini, ia pulang sendiri. Anak-anaknya yang satu mobil dengan orang tua Resty dan ibi Rusmini, masih di belakang dan memang belum sampai.


Setelah siap dengan perlindungannya, Widy segera masuk, mengendap, membuatnya turut mendengar suara televisi yang disetel lirih. Di tengah suasana yang tetap dibiarkan remang karena gorden tebal jendela kaca masih menutup sempurna, ia juga memergoki dagangannya yang sudah berantakan dan sebagiannya hanya tersisa bungkus baik di meja maupun belakang. Seseorang bahkan lebih jelas telah melakukannya dengan sengaja. Termasuk itu etalase yang nyaris kosong padahal di sana awalnya penuh aneka rokok, mi instan, gula pasir, dan seabrek sembako.


Kesal, emosi, bahkan Widy sudah sampai menitikkan air mata bersama pikirannya yang sudah langsung dikuasai oleh satu orang. Agus. Tak mau membuang-buang waktu, ia segera mempercepat langkah untuk segera memastikan di tengah aliran darahnya yang seolah sudah langsung mendidih. Benar saja, di kasur ruang tengah yang biasa Arum dan Kalandra gunakan ketika menginap, di sana sungguh ada Agus dan orang tuanya yang tengah tiduran santai sambil menonton televisi. Semua lelaki kompak menikmati rokok hingga suasana di sana dikuasai asap yang sangat pekat.


“Apa-apaan ini? Kalian ngapain ada di sini mirip maling enggak jelas!” Emosi, Widy sungguh emosi.


“Eh, Sayang. Kamu sudah pulang?” Agus yang penampilannya makin dekil, dengan tidak berdosa langsung menyambut penuh senyuman. Ia berangsur duduk sambil tetap menikmati rokoknya padahal harusnya pria itu puasa.


“Sayang, kamu makin cantik saja!” Dengan suara bahkan gaya nakkal, Agus sengaja menggoda Widy yang tentu saja sudah menjadi mantan istrinya dan tak sepantasnya ia gaulli lagi. Namun tanpa peduli itu dan itu mengenai status mereka, juga tanpa peduli walau kini bulan puasa, ia sengaja terus mendekat.


“Berhenti!” tegas Widy yang selain marah, ia juga menjadi merasa sangat takut.


Namun, Agus malah dengan sengaja meminta bantuan adik dan juga bapaknya untuk menahan Widy dengan alasan sudah kangen berat. Malahan andai keduanya mau, keduanya boleh memakai Widy setelah Agus puas melakukannya. Alasan yang juga membuat Widy menghantamkan kayunya sekuat tenaga ke tengkuk Agus. Karena walau niatnya akan melakukan itu ke kepala, Widy yang tak mau kepala Agus sampai remuk dan itu bisa membuat posisinya salah di mata hukum.


Buru-buru, Widy melarikan diri sambil meminta tolong karena setelah Agus sampai tumbang dan pria itu sibuk meringis kesakitan, adik dan bapak Agus juga berbondong-bondong mengejarnya.


“Toloooongggg!” Widy berteriak histeris karena ia telanjur takut. Takut apa yang Agus katakan dan itu membiarkan adik sekaligus sang bapak menggilirnyaa benar-benar terjadi.


Suasana siang yang agak mendung langsung diramaikan oleh teriakan Widy. Semua yang ada di rumah keluar dan itu langsung menjadi kelegaan tersendiri untuk Widy, selain Widy yang juga buru-buru menghubungi Arum.


Entah apa yang terjadi, tapi tampaknya gerak Agus dan keluarganya tidak tercium oleh tetangga. Tetangga yang di sana dan jumlahnya lebih dari lima orang, juga tidak hanya tinggal diam. Mereka langsung memastikan, membuka lebar-lebar pintu rumah Widy yang terlihat jelas dijebol dari depan. Dan seperti yang Widy keluhkan, suasana rumah apalagi warung Widy sangat berantakan. Bungkus jajan juga memenuhi lantai. Ada tiga pria dewasa di sana dan televisi juga menyala. Yang paling membuat mereka tak habis pikir, asap rokok di sana mirip efek kebakaran. Benar-benar menyengat dan pandangan pun jadi terbatas. Entah sudah berapa rokok yang langsung dihabiskan oleh ketiganya.


Kala digrebek, Agus masih guling-guling kesakitan sambil menahan tengkuknya. Sedangkan ayah dan adik Agus, keduanya yang awalnya mencoba mengejar Widy, berangsur mundur masuk ke dalam rumah dan terlibat jelas ketakutan.


***


“Mbaak ... Mbakk, Agus ... dia sama adik dan bapaknya ada di rumah. Pintu rumah dijebol, rumah beneran berantakan, dagangan nyaris ludes, rokok dan makanan nyaris enggak tersisa. Dan ... dan tadi Agus bilang .....”


Telepon dari Widy yang sampai menangis tersedu-sedu ditambah pengakuan adiknya itu yang sangat pilu, membuat Arum naik pitam. Arum tidak tinggal diam, bahkan walau kini ada tiga balita yang harus ia urus. Arum sungguh tidak terima dengan kelakuan Agus yang baginya sudah sangat keterlaluan.


“Penjarakan, Mas! Tapi sebelum itu, aku beneran pengin remukin tulang-tulang mereka apalagi Agus. Aku pengin nabok mulut Agus pakai taflon panas biar mulutnya yang lemes asal ngomong, beneran lemes!” kesal Arum yang sudah mengemudikan mobilnya sendiri sambil menelepon Kalandra.


Ibu Kalsum yang sengaja ikut dan menjaga si kembar yang ada di troli khusus, juga tak kalah geram. Sementara di sebelah Arum, Aidan yang sampai memakai sabuk pengaman, tampak anteng. Beda dari biasanya yang tak bisa diam. Atau mungkin, bocah itu paham keadaan sedang tidak baik-baik saja. Apalagi kini, sang mamah sampai berlinang air mata. Arum terlihat sangat emosional.


“Ditahan saja dulu, warga juga sudah bantu, kan? Nanti aku urus soalnya pekerjaan di kantor beneran lagi enggak bisa ditinggal, Yang. Kamu yang sabar, ya. Hari ini aku usahakan pulang cepat, kok. Nanti aku siapkan berkas buat urus mereka. Pokoknya kamu yang kuat karena Widy beneran butuh kamu. Kamu mau ngamuk ke mereka enggak apa-apa. Tapi jangan kepala, ya. Takutnya kepalanya remuk karena aku tahu kalau kamu sudah emosi, ... ya kamu tahu. Takutnya mereka nuntut balik dan aku enggak mau itu terjadi. Namun bisa aku pastikan, kita bisa urus ini. Bentar lagi polisi pasti ke sana. Aku bakalan langsung hubungin mereka biar langsung ke TKP. Kamu kuat, ya? Peluk dari jauh.” Dari seberang, suara Kalandra terdengar sangat menenangkan, tapi kenyataan tersebut tak lantas meredam kekesalan apalagi amarah Arum.


“Sayang, aku sudahi dulu buat telepon polisi. Nanti disambung lagi. Ini aku mau sambil beresin semua pekerjaan, dan tiga puluh menit lagi juga ada rapat. Semangat yah!” lanjut Kalandra.


Saking emosinya, tubuh Arum sampai gemetaran selain napasnya yang juga sudah langsung memburu.