
“Inalillahi!” refleks Kalandra yang juga langsung tersedak es teh manis di dalam mulutnya dan harusnya pria itu tenggak.
“Amit-amit!” Arum buru-buru memegangi perutnya dan tak jadi meminum teh manisnya.
“Hahaha! Serasinya!” pak Haji tertawa puas sekaligus bangga.
“Jabang bayi! Jangan-jangan nanti si Pongah juga nyusul dandan juga jadi kemayu perkasa gitu!”
Di petang yang hangat, semuanya sedang mengomentari foto Fajar dan Honey yang dicetak oleh Septi. Septi akan menggunakannya sebagai ambasador es gepluk miliknya.
Kini, Kalandra yang sempat sangat syok berangsur tertawa. Lain lagi dengan Arum yang masih syok dengan foto Fajar dan Honey.
“Si Fajar beneran enggak ada kapoknya, ya? Dia itu punya banyak tanggungan yang mengharuskan dia juga banyak mengeluarkan uang, atau memang dia yang pemalas dan ingin kaya secara instan?” ucap Arum sampai mengatur napas pelan untuk beberapa kali. “Untung aku enggak mendadak kontraksi. Astagfirullah ....” Ia masih mengelus pelan perut besarnya menggunakan kedua tangan. Di hadapannya, pak Haji yang duduk di sebelah Septi tampak menjadi orang paling bahagia atas insiden Fajar.
“Semua kemungkinan tadi kayaknya bener, sih, Yang!” Kalandra masih sibuk menahan tawanya, membuat sang mamah menegurnya dan memintanya untuk berhenti tertawa.
“Tapi saranku jangan buat ditempel di daganganmu sih, Sep. Kalaupun mau, di tempat lain saja yang enggak berkaitan sama kamu. Soalnya kan, tempat kamu itu ladang usaha kamu, takutnya si Fajar yang matan duitan malah minta semacam komisi karena kamu sudah pakai foto dia dan Honey!” sambung Arum.
“Pasti itu! Buktinya yang begitu saja diladeni!” timpal ibu Kalsum serius empat lima walau tengah menyuapi Aidan makan sore.
Kedatangan Septi dan pak Haji ke sana karena keduanya sungguh potong tumpeng untuk syukuran kandasnya hubungan Septi dengan Fajar. Tentu saja, mereka tidak hanya datang berdua karena ibu Fatimah dan Sepri datang ke sana.
“Duh, padahal saya sudah beli batik baru dan, ... dan ibu Fatimah juga sudah saya belikan kebaya baru sepasang dengan batik saya!” ucap pak Haji sambil melirik malu-malu salah satu janda idamannya itu. Mereka hanya dipisahkan oleh keberadaan Septi yang duduk di antara mereka.
Ibu Fatimah sama sekali tidak terusik. Malahan, Septi yang langsung berkomentar.
“Pak Gede memang curang. Ke aku yang calon pengantin dibeliin kain kafan, ke mamah malah kebaya baru!” protes Septi sambil melirik sebal pak haji yang mulai minum es teh manisnya.
“Masa iya saya beli kain kafan untuk diri saya sendiri?” sergah pak Haji.
“Alamatnya enggak ada musafir cinta pemuja janda lagi!” celetuk ibu Kalsum sambil melirik yang bersangkutan dan sukses membuat anak maupun menantunya terbahak.
Pak Haji merasa bangga mendengarnya. “Diam-diam, Ibu DPR, menghanyutkan.”
“Nggak menghanyutkan lagi karena saya bisa jadi tsunami buat orang play boy sekelas Mbah Haji!” omel ibu Kalsum dan langsung membuat pak Haji terbahak.
“Dek Arum, punya mamah mertua satu padepokan begini yang sama-sama galaknya, bagaimana rasanya?”
Arum yang langsung tersenyum semringah, berkata, “Bahagia banget, Mbah!”
“Tapi ini omong-omong, aku kan lagi diet dan baru turun sekilo. Lah ... disuguhi makanan satu tampah begini ya timbanganku langsung lari ke kanan?” ucap Septi merasa lemas.
“Nanti saya pegangi timbangannya biar enggak lari, Sep!” ucap pak Haji yang kembali tertawa.
“Dipegangin timbangannya malah bahaya, Mbah.” Septi masih berkeluh kesah, merasa nasi tumpeng yang pak Haji siapkan khusus itu ibarat cobaan berat untuknya yang sedang berdiet ketat.
“Lebih bahaya lagi kalau saya pegangin kamu! Kesikut saja saya sudah oleng, apalagi sampai diseruduk banting kayak bapakmu. Enggak hanya struk, past almarhumah! ” pak Haji menertawakan ucapannya sendiri apalagi ia langsung membayangkan andai ucapannya sampai terjadi.
“Sudah, ... sudah. Syukuran kok malah lawakan!” tegur Kalandra yang kemudian meminum es teh manisnya dengan damai.
“Saya asli kesel banget ke kamu, Pak Pengacara!” lanjut pak Haji yang membenturkan salah satu telur rebus masih bercangkang dari tampah tumpeng, ke keningnya.
“Loh, kenapa lagi?” tanya Kalandra bingung, tapi ia juga yakin, tak hanya dirinya yang bingung karena semuanya termasuk Septi dan sang mamah juga.
“Ya, kenapa harus ada kamu di antara saya dan Dek Arum. Terkadang saya menyesak, kenapa saya biarkan kalian, menikah ...,” balas pak Haji yang berakhir nyanyi.
“Kayaknya meski Mbak Arum enggak sama Pak pengacara, Mbak Arum enggak mau sama Pak Gede. Namun andai Mbak Arum sampai mau, berarti mata Mbak Arum sudah picek alias enggak bisa lihat!” komentar Septi dengan sangat jujurnya sambil mulai mengupas buah jeruk yang sudah disediakan di meja.
“Picek bagaimana? Jelas-jelas yang picek kamu, mau-maunya sama si pongah Fajar!” sergah Pak Haji mengakhiri ucapannya dengan tawa lepas.
Karena semuanya juga menjadi kompak tertawa dan tawa mereka semua beneran meledek kecuali sang mamah yang juga tampak tak tahu-menahu, Septi pun kepo. Rasa ingin tahu yang juga membuatnya curiga ada hal fatal mengenai Fajar dan sampai belum ia ketahui.
“Ada apa, sih? Memangnya si Fajar kenapa? Kok aku sampai picek?”
“Masa iya mau tiga bulan bersama menjalani hubungan bak dunia hanya milik berdua rasa madu tapi bukan Honey si Madu selaku pengganti kamu, ... kamu beneran enggak tahu?” Pak Haji makin terpingkal-pingkal.
Septi menatap ngeri sang mamah karena tawa yang makin meledak di sana mengisyaratkan, memang apa yang ia khawatirkan sekaligus curigai, benar.
“Jelaskan, Dek Arum. Kan kamu penyebabnya!” Pak Haji masib belum bisa mengakhiri tawanya.
Arum yang perlahan bisa menyudahi tawanya pun menatap Septi penuh keseriusan. Ia segera menceritakan tragedy Widy yang menjadi salah satu wanita yang pernah Fajar tipu, dan membuat Arum memberi Fajar pelajaran. Yang mana dalam insiden tersebut pula, walau Arum belum sampai menggunakan taflonnya, Fajar yang jatuh dengan wajah menghantam lantai, sampai kehilangan dua gigi bagian depan atas alias pongah.
“Itu alasan dia pakai masker terus kan karena giginya yang pongah!” yakin Arum yang kemudian kembali terbahak apalagi hanya karena mengingat kejadiannya dan semuanya terasa sangat nyata, ia sudah merasa sangat lucu. Tampang panik ketakutan Fajar kepadanya yang baginya paling lucu tak terlupakan layaknya ketika pria itu kehilangan kedua giginya dan langsung menangis.
“Iiihhh ....” Septi yang merasa ngeri sekaligus bersyukur, berkaca-kaca melirik sang mamah. Tak semata karena fakta gigi Fajar yang pongah, tapi juga Fajar yang ternyata penipu wanita. Pantas Fajar langsung sangat baik di pertemuan awal mereka sebelum akhirnya pria itu tahu keadaan ekonomi Septi yang sebenarnya. Septi mengira dan yakin seyakin-yakinnya, bahwa alasan Fajar begitu karena memang mau menipunya juga.
“Bentar-bentar,” protes pak Haji yang tak lagi tertawa. Ia menatap Arum dan Kalandra penuh keseriusan, silih berganti.
Arum dan Kalandra kompak menoleh, membuat keduanya saling bertatapan, sebelum akhirnya mereka kompak menatap pak Haji.
“Widy ... tadi kamu bilang Widy adikmu!” sergah pak Haji menjadi semangat empat lima.
Lain dengan pak Haji, Arum malah kebingungan. Arum merasa kecolongan lebih apesnya lagi, di depan sana Widy yang sudah beraktifitas layaknya biasa malah datang!