Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
194 : Seperti Keluarga Bahagia


“Diapain, Mas?” tanya Widy syok.


Kalandra yang awalnya juga syok, perlahan menjadi tertawa. Ia berangsur jongkok, mencoba menatap wajah pak Haji lebih dekat lagi. “Mbah, itu wariyemnya datang lagi!”


“Ah, masa? Ya sudah, enggak jadi pingsan!” ucap pak Haji panik dan buru-buru bangkit. Membuat mereka yang sempat khawatir langsung menghela napas karena merasa tak habis pikir.


Tak lama kemudian, kebersamaan mereka berpindah ke masjid biasa pak Sana menunaikan salat berjamaah. Pak Haji pun ikut serta menunaikan ibadah salat tarawih berjamaah, menjadi bagian dari rombongan Kalandra dan Tuan Maheza. Hanya ibu Aleya dan Arum saja yang tidak ikut. Keduanya menghabiskan waktu dengan mengobrol ringan di kamar Arum, selain kedua anak Resty yang sudah tidur di kamar tamu kediaman pak Sana.


“Lama-lama ngobrol gini, kok aku jadi merasa sedang bersama Resty, ya?” batin Arum yang memangku Azzura dan memang tengah memberi bocah itu ASI. Sementara di hadapannya, ibu Aleya sampai duduk di lantai hanya untuk mengajak mengobrol Azzam yang tetap anteng meski tidak tidur. “Aku jadi sampai merinding begini,” batin Arum lagi.


“Nanti kalau Widy jadi sama Lim, berarti aku bakalan sering main ke sini. Tapi pasti jadi sih, meski memang enggak langsung sekarang. Aku-aku sendiri pasti bakalan syok kayak Widy, soalnya baru ketemu masa gitu,” ucap ibu Aleya masih bertahan duduk sila di dekat ranjang bayi Azzam.


Arum tersipu tanpa balasan berarti. Namun jujur, Arum bahagia jika perjodohan antara Widy dan Lim sungguh terjadi dan sampai menghasilkan cinta.


“Jujur, perjodohan mereka beneran bikin aku bahagia. Karena melalui ini juga, kita jadi saudara!” lanjut ibu Aleya. “Apalagi kalau kamu tahu, sebenarnya aku Resty, pasti kamu enggak canggung gini,” batin ibu Aleya yang masih menatap Arum dengan senyum yang begitu damai.


Di tempat berbeda, acara shalat tarawih sudah usai. Ibu Kalsum yang turut serta, juga turut membantu Widy menjaga salah satu anak Widy. Ibu Kalsum menuntun Salwa, dan sengaja menyapa ibu Muji yang kebetulan tarawih di sana bersama Nissa anak dokter Andri.


“Ibu,” ucap Nissa antusias dan langsung menyalami tangan kanan Widy dengan takzim, walau ulahnya itu juga langsung berakhir lantaran sang nenek mendadak menariknya dengan kasar.


“Kamu yah, Ji ... sudah jadi nenek malah makin kebangetan! Apa salahnya sih nyapa terus salaman? Belajar tuh, dari Nissa, yang walau masih kecil, sudah tahu sopan santun!” omel ibu Kalsum sengaja berucap lirih. “Lagian kamu kenapa sih, masih saja sensi sama Widy?Widy kan sudah mau lamaran sama orang kota. Itu, orang kaya dari Jakarta yang kemarin berobat ke kliniknya Andri!” lanjutnya masih berbisik-bisik apalagi mereka baru saja keluar dari masjid dan di sekitar mereka banyak jamaah lain.


Merinding, ibu Muji langsung kicep setelah wanita bermata tajam itu mendapati Sekretaris Lim sebagai sosok calon tunangan Widy dan tengah ibu Sulis maksud. Sosok yang sebelumnya juga sempat menegurnya habis-habisan di klinik dokter Andri. Dalam diamnya yang masih belum bisa menjawab, ia tengah mengamati Sekretaris Lim. Di sebelah, rombongan jamaah laki-laki baru saja akan keluar dari masjid.


Ibu Kalsum yang sadar ibu Muji sudah langsung termakan omongannya, diam-diam langsung tersenyum girang. “Belum nikah itu. Masih perjaka, orang kaya raya, umurnya juga dua tahun lebih muda dari Kalandra!” bisiknya sengaja memanas-manasi ibu Muji. Dan kenyataan ibu Muji yang menjadi menatapnya kesal, ia yakini karena wanita yang masih memakai mukena lengkap itu sudah langsung terbakar rasa kesal.


“Enggak mungkin ada macam pria berbibit unggul gitu, mau sama Widy! Halu itu namanya!” yakin ibu Muji.


“Ih ... kata siapa? Asli dia mau sama Widy, apalagi kan dia enggak kayak Andri yang punya mamah rasa maklampir!” yakin ibu Kalsum lagi dan memang sengaja menyindir teman lamanya itu. Ibu Muji langsung menatapnya dengan sangat sinis. “Kalau kamu enggak percaya, tunggu! Lihat sendiri si Lim mulai coba pendekatan ke Widy dan anak-anaknya! Paling sebulan lagi mereka nikah. Widy diboyong ke Jakarta, hidupnya jadi nyonya, kerjaannya ngemal sama nyalon. Duh, mendadak jadi sosialita!”


Mendengar ocehan ibu Kalsum yang terdengar jelas sedang membuatnya cemburu, Ibu Muji benar-benar kesal. Namun pada kenyataannya, walau pria tampan berkacamata bernama Lim yang tengah mereka maksud masih tampak ragu bahkan kaku, pria itu sungguh melakukan pendekatan kepada Salwa.


“Utiiiii!” Aidan yang baru datang dan langsung mengenali ibu Kalsum, bergegas membentangkan kedua tangannya, berusaha memeluk neneknya itu.


“Mas Aidan ...!” balas ibu Kalsum agak berseru kemudian buru-buru mengemban Aidan.


Kalandra dan pak Sana langsung tersenyum hangat melihat interaksi manis antara Aidan dan ibu Kalsum. Interaksi yang juga membuktikan anggapan hasil tak pernah mengkhianati usaha. Karena walau tidak ada ikatan darah antara Aidan dengan ibu Kalsum, kepedulian ibu Kalsum yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengurus Aidan, membuat keduanya memiliki ikatan tak jauh lebih spesial dari ikatan darah.


“Ayo, Mbak!” ajak ibu Rusmini bersemangat. Ia sengaja menggandeng sebelah tangan ibu Rusmini agar wanita yang usianya lima tahun lebih tua darinya, mau melepaskan Widy. Tentunya, agar Widy bisa jauh lebih dekat dengan Sekretaris Lim, mengingat interaksi keduanya masih sangat kaku.


“Itu si Widy mau sama dia?” lirih ibu Ripah sembari mengawasi Widy yang menuntun kedua putranya untuk melangkah di depan. Widy melakukannya sambil menggandeng kedua putranya itu. Namun, mungkin efek kedua anak laki-laki Widy masih belum terbiasa dengan Sekretaris Lim, atau karena memang masih malu, keduanya malah bersembunyi di balik punggung sang ibu.


“Kan ...,” lirih Sekretaris Lim langsung tersenyum masam.


Widy juga tersenyum tak kalah masam. “Dijalani saja lah, daripada jadi oleng gara-gara warasnya ilang!” batinnya. Namun, melihat formasi kebersamaannya dengan Sekretaris Lim, mereka sungguh mirip potret keluarga bahagia.


Di belakang Kalandra, pak Haji yang nyaris tertinggal karena kehilangan sandal, buru-buru lari menghampirinya kebersamaan Widy dan Sekretaris Lim. Bersama ketiga anak Widy, kedua sejoli itu tampak seperti keluarga bahagia pada kebanyakan. Kalandra dan pak Sana refleks bertatapan sebelum keduanya juga kompak tersenyum girang. Sementara yang terjadi dengan Tuan Maheza dan pak Mul, walau keduanya masih tampak sangat canggung khususnya pak Mul kepada Tuan Maheza, Tuan Maheza sengaja berinisiatif menggandeng pak Mul yang harusnya merupakan bapak mertuanya karena biar bagaimanapun, pak Mul merupakan bapaknya Resty, arwah yang kini menempati tubuh Aleya sang istri.


“Sini, ... sini. Kamu gendong anaknya, saya gendong mamahnya!” sergah pak Haji sampai ngos-ngosan karena sampai berlari.


Mendengar itu, Sekretaris Lim langsung heran. “Dy, dia kurang waras apa memang kelainan, sih?” bisiknya sengaja agak menunduk tepat di sebelah telinga Widy, walau setalah itu, ia kembai menjaga jarak.


Widy tersenyum masam. “Dia memang gitu. Musafir Cinta, kan,” bisik Widy membalas, walau ia terus menjaga jarak.


“Hah? Musafir Cinta?” lirih Sekretaris Lim makin tidak paham.


Ditinggalkan oleh rombongan Kalandra dan Tuan Maheza khususnya Widy yang sudah langsung melangkah berdampingan dengan Sekretaris Lim, ibu Muji mendadak merasa merana.


“Mbah, sih. Jahat! Makanya enggak punya temen!” kesal Nissa yang memilih meninggalkan neneknya. Ia memilih pulang sendiri, membiarkan ibu Muji dipepet pak Haji.


“Enggak ada yang mau sama saya, ya sudah saya sama kamu saja! Namun karena kamu sudah tua dan enggak menggoda juga, cukup bantu saja jalan sampai depan. Gandeng, apa gendong!” keluh pak Haji masih ngos-ngosan.


Mendapatkan tawaran tersebut, ibu Muji langsung mendengkus jengkel. “Dikiranya saya kuli angkut, situ bilang begitu?!” semprotnya.


“Tapi memang cocok!” balas pak Haji dengan jujurnya dan buru-buru minta tuntun ibu Muji hingga wanita itu sibuk menjerit. Namun daripada pak Haji yang sudah kelelahan berakhir jatuh dan fatalnya kena stroke, musafir cinta itu tetap menggandeng sekaligus berpegangan pada tangan kanan ibu Muji.


“Saya masih punya suami ih!” kesal ibu Muji geram dengan ulah pak Haji. Mentang-mentang awalnya ia kepergok bersama rombongan ibu Kalsum, pak Haji menganggap ibu Muji dekat dengan keluarga Kalandra.


“Sudah ayo, antar saya sampai warungnya Arum. Susulin saya karena telanjur ketinggalan.''


“Mbah ih!” Walau sempat kesal, makin lama, ibu Muji malah menjadi takut pada tingkah ajaib pak Haji.