Pembalasan Psikopat

Pembalasan Psikopat
8


Berjam-jam telah berlalu sejak gadis itu pulang sekolah. Dan selama itu juga, kembali lagi dia mengurung diri di dalam kamar rumah barunya di kota itu, rumah yang dia beli sebagai tempatnya tinggal bersama anggotanya.


Bibi Mola tampak berjalan mondar-mandir di depan kamar Atha, sejak pulang gadis itu sama sekali tidak mau keluar dari kamar, bahkan menjawab Bibi Mola saja dia malas.


" Jack, apa yang terjadi pada nona?kenapa pulang sekolah, baru hari pertama sudah menangis begini!??? apa kalian tidak mengawasinya!!!!" omel Bibi Mola sambil berkancah pinggang dan menatap Jack dengan wajah kesal. Jika sudah menangis dan mengusung diri, anak gadis itu pasti tidak akan memperhatikan kesehatannya lagi.


"Saya juga kurang tau bi, saat saya jemput tadi, nona sudah menangis,saya tanya saya malah dicuekin,saya bisa apa??" balas Jack tak kalah khawatir.


Bibi Mola hanya bisa menghela nafas berat, rasanya sesak setia melihat nona mudanya dalam kondisi seperti itu.


Mereka kembali menunggu sampai gadis itu keluar. Beberapa menit berlalu, dan sepertinya mereka sedang beruntung karena Atha keluar dari kamar dengan wajah sembabnya,dia pasti menangis lagi.


"Nona..." ucap mereka khawatir.


Atha hanya diam dan mengangkat sebelah tangannya, dia berjalan lalu melewati for mendiang kakaknya yang selalu dipajang disana," Aku akan menemukan siapa yang membuatmu seperti itu!?? pasti akan kuhancurkan orang itu!!"geram Atha.


Atha berbalik, dia menatap Jack dan Bibi Mola sekilas," Jack ayo ke markas!" ucap gadis itu sambil melangkah menuju ke luar, namun Bibi Mola dan Jack menahan tangannya.


" kami mohon nona, makanlah dahulu, tuan muda pasti akan marah jika dia melihat anda seperti ini!!!" ucap keduanya dengan penuh harap, agar sebelum pergi Atha menikmati makan siang terlebih dahulu.


Gadis itu sangat menyepelekan kesehatannya, dia hanya memikirkan tentang balas dendam dan mencari siapa yang membunuh kakak laki-lakinya.


" Tapi...


" Tidak ada tapi-tapian nona, semua sudah menunggu!!" ucap Jack sambil menarik Atha dan menggendongnya seperti sedang membawa kantong besar.


" Kak Jack!!" pekik Atha sambil meronta-ronta di atas tubuh pria besar dan tinggi itu,"menurut lah nona, anda harus makan!!" tegas Jack yang langsung membawa Atha duduk di atas kursi dengan hidangan makan yang sudah disajikan di atas meja.


Semua orang menunggunya, anak buah dan anggota geng yang ikut serta dengan mereka pindah ke.kota itu juga belum makan siang sampai nona mereka ikut makan.


" Kalian!? kenapa belum makan!? ini sudah jam 4 sore!!" ucap Atha terkejut


" Karena anda nona!!" jawab mereka serentak tanpa.gentar.


Atha terkejut, "CK... jangan mengada-ada, kalian juga biasanya makan tanpa aku, kenapa harus seperti ini!? Kak Jack apa apaan ini!? apa kakak mau semua orang sakit!?" kesal Atha sambil melayangkan tatapan kesal pada pria itu.


"Peraturan di rumah ini, tak ada yang akan makan sebelum nona muda makan terlebih dahulu, oleh Karne itu jika nona tak ingin kami mati kelaparan, nikmatilah makan siang anda sekarang juga karena kami sudah lapar!" jelas Jack panjang lebar dengan wajah kaku dan tegangnya itu.


Sama halnya dengan yang lain, mereka memasang wajah masam sambil menatap Atha. Bibi Mola hanya terkekeh geli di belakang punggung Jack, dia bersembunyi disana sambil menahan tawanya melihat wajah terkejut Atha dengan kelakuan anak buah mereka.


" Cihh.... dasar, peraturan dari mana itu!? makan ya makan, kenapa dibuat ribet sih!!! sudah kalian cepat makan!!" omel gadis itu sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Wajahnya berkerut karena marah dan bibirnya terus mengoceh mengomeli mereka yang ada di depannya.


Kebahagiaan Atha adalah segalanya bagi mereka, gadis itu terlalu banyak mengalami hal menyakitkan, mereka hanya ingin Atha tau kalau dia tidak sendirian di dunia, Atha memiliki mereka, Bibi Mola, Jack, dan geng The Chamber!


Sementara itu di sisi lain kota itu, terdengar suara barang pecah yang dihancurkan ke dinding. Di belakang sebuah gedung tua yang sudah terbengkalai terlihat barang barang rongsokan yang diletakkan berserakan dimana-mana. Kumuh dan kotor, penuh dengan martial art yang dilukis oleh anak-anak berbakat tetapi salah jalur.


Tulisan - tulisan tak senonoh yang diisi oleh anak-anak sekolah pembangkang yang sedang beraksi bersama geng mereka.


"Hahh... ini yang paling menyenangkan hahhahahaha......" Nena si juara 1 umum kelas 11 Mipa1 duduk di atas tubuh seorang siswa bertubuh gemuk dengan kacamata bertengger di hidungnya, menjadi kursi pribadi Nena, gadis yang dikatakan cerdas itu.


Tetapi siapa sangka di balik kecantikan blasteran yang dimilikinya, dia memiliki sifat mengerikan yang jelas dilihat di depan mata, menjadikan orang lain seperti budak dan kerbau, menjarah bahkan menghina harkat orang lain karena kepintaran dan kedudukan orang tuanya.


"Heh kursi, kenapa kau bergetar hah!?kau kan kursi!? harusnya tetap jadi kursi jangan bergerak!!" kesal Nena saat tubuh pria gendut itu mulai gemetaran karena tak kuat menahan beban, selain tubuh Nena, dia juga harus menahan berat dari tas dan botol air Nena yang di taruh di kepalanya, jika sampai jatuh maka dia akan dihajar habis-habisan.


"gak..ku... kuat!!!" ucap pria itu dengan suara gemetar.


Nena mendengus kesal," Sialan!!!" pekiknya dengan wajah marah, dia berdiri dan mengambil tas serta botol minumnya," dasar babi sialan, babi gendut sialan mati kau bangsat!!!" pekik gadis itu sambil menendang perut pria gemuk itu sampai dia tersungkur ke atas tanah.


" Wohohoho.... Nena tahan dirimu, kau tidak takut imagemu hilang !?" ucap seorang pria bertubuh tinggi besar, kemejanya terbuka, tato di lengan kirinya terlihat jelas dan wajahnya cukup tua untuk seukuran anak kelas dua SMA.


Frans, preman SMA Pratama yang sangat ditakuti oleh para siswa bahkan guru. Ayahnya adalah Anggota kepolisian dan ibunya seorang perawat senior di salah satu rumah sakit ternama di negeri itu. Sering berlaku sesuka hati dan merundung anak-anak lain di sekolah itu.


" ahh... be..benarkah!?" ucap Nena dengan wajah khawatir, mereka semua tertawa geli melihat ekspresi gadis itu.


Nena mendekati Doni, pria gendut yang mereka jadikan bahan bullying itu.


"Ouhhhh maafkan aku babi gendut hahahahahah..... mampus kau, gendut gendut kayak babi hahahhaha....


Bukannya meminta maaf dengan tulus, Nena dengan sengaja mendorong kepala pria itu sampai membentur bantu dan berdarah.


Plakkk... Plakkk... Plakkk...


" Wahahahhaha mati kau... mati kau bajingan hahahahah...."


"Hahah si Nena sudah benar-benar gila, kau ajari dia untuk jadi orang gila co!?" celetuk Frans seraya menyesap rokoknya dan melirik Zico yang sedang merekam aksi Nena.


" Aku mengajarinya cara mencari kepuasan, " ucap Zico ambil tersenyum licik.


" Ngomong-ngomong..." Mike si pria culun berkacamata yang juga duduk di atas tubuh salah satu siswa sekolah itu tiba-tiba bicara.


Nena, Frans, Zico, dan empat teman mereka yang lain menoleh ke arah pria itu.


" Bagaimana menurut kalian dua anak baru itu!?" tanya Mike sambil menatap mereka.


.


.


.


like, vote dan komen