Pembalasan Psikopat

Pembalasan Psikopat
ujian


Ujian umum pun tiba, kini semua siswa bersiap untuk mengikuti ujian umum yang dilaksanakan dan diikuti oleh seluruh siswa di sekolah itu. Soal yang disusun dirancang oleh tim yang dibentuk khusus oleh badan pengawas pendidikan dan juga pihak sekolah.


Seluruh siswa sudah bersiap di ruangan mereka masing-masing, bersiap untuk mengikuti ujian yang akan segera dilaksanakan. Sistem ujian dilakukan dengan cara memecah siswa dan menggabungkan mereka dengan kelas lain, masing-masing siswa akan mendapatkan soal ujian sesuai dengan apa yang sudah ditentukan oleh badan penyelenggara ujian hari ini.


Kelas unggulan tampak tenang, mereka dengan senyuman angkuh menganggap bahwa soal-soal ini akan sangat mudah untuk di tangani. Beberapa anak lain terlihat gugup karena ujian ini akan menentukan tingkat merek secara keseluruhan,


Tak ayal kelas 11 IPS 3 yang terpecah dan tersebar ke kelas berbeda juga terlihat gugup. Mereka sibuk mengingat semua materi yang sudah mereka pelajari bersama ibu Olivia. Tetapi kelas lain tampak begitu santai dan hanya menatap ke arah anggota kelas buangan dengan tatapan menyepelekan.


Menurut mereka sekali yang paling rendah selamanya mereka akan jadi yang paling rendah . tak beberapa lama ujian pun dilaksanakan. Semuanya berharap akan hasil terbaik dari apa yang telah mereka pelajari selama ini.


Atha menatap kertas ujiannya, King di kelas seberang juga demikian, Jin-ji, Beer, Diana dan yang lainnya terlihat gugup melihat kertas ujian tersebut. Akankah mereka bisa menjawab semua soal yang telah disiapkan.


Bel tanda ujian telah dinyalakan. Mulai dari jam pelajaran pertama sampai jam pelajaran terakhir yang mereka lakukan adalah menguji kemampuan mereka dengan semua jenis ujian yang diberikan oleh pihak sekolah bekerja sama dengan badan pengawas pendidikan yang ternyata di pimpin oleh bawahan Atha.


Kevin adalah salah satu lulusan terbaik dari The Chambers , masuk ke sekolah itu ketika dia dalam keadaan paling buruk, ayah dan ibunya baru bercerai dan dia hidup luntang lantang di jalanan. Kala itu perusahaan diurus oleh Jack, si kembar yang masih begitu muda juga ikut ambil bagian. Kevin masuk ke sekolah itu tas permintaan Kiel dan Atha yang menyukai Kevin dengan sifatnya yang lucu dan ramah.


Ujian dilaksanakan dengan baik, banyak siswa yang terkejut dengan tingkat kesulitan soal serta soal penuh jebakan yang diberikan di dalam lembar jawaban mereka. Semuanya sibuk mengerjakan apa pun yang bisa mereka selesaikan.


Beberapa jam berlalu.....


Peniel yang ditempatkan di kelas 11 IPS1 terlihat begitu santai mengayunkan pulpennya memberikan jawaban untuk setiap soal yang dia baca di lembar soalnya.


Tiba -tiba anak itu mengangkat tangannya,” Bu.. kalau sudah selesai semua ujiannya saya boleh ke kantin kan? Saya ngantuk plus lapar...” teriak nya dengan penuh semangat.


Seisi kelas melongo mendengar ucapan pria itu, tentu saja mereka heran , mereka saja baru membahas soal baru tetapi pria itu sudah berteriak soal kantin dan mengantuk.


“ Boleh, tetapi pastikan semaunya sudah di jawab, cihhh.. anak-anak buangan ini memang tak bisa diharapkan, mereka mana mungkin bisa menyaingi kelas unggulan,” gumam pengawas itu dan masih jelas di dengar oleh telinga Peniel yang entah sejak kapan sudah berdiri di depan pengawas sambil memegang kertas hasil ujiannya.


“ Kita lihat saja nanti ibu guru yang terhormat, saya sudah selesai,” ucap Peniel memberikan kertas ujiannya pada pengumpul jawaban dari badan pengawas yang akan langsung memeriksa jawaban siswa setelah dikumpulkan.


Semua anak yang berada di dalam ruangan itu hanya menertawakan Peniel tanpa tahu apa yang sudah terjadi pada kertas soal pria itu. Semuanya penuh dengan coretan dan metode menjawab ujian yang dia coret coret saat mengerjakan ujiannya tadi.


Peniel berjalan dengan santai keluar ruangan sambil menguap dan menggaruk garuk kepalanya.


Di dalam ruang ujian, pengawas mengambil kertas soal milik Peniel, dan betapa terkejutnya dia melihat kertas itu sudah dipenuhi dengan coretan rumus dan coretan teori-teori lainnya yang digunakan untuk menjawab soal.


“ Di... dia siapa? Kenapa aku baru tahu ada siswa segila itu di sekolah ini,ya ampun.. anak-anak kelas buangan orang seperti apa sebenarnya kalian??” suaranya sampai bergetar dan bahkan membuat siswa-siswa lain terdiam dan menatap kertas ujian mereka dengan tangan gemetaran. Tingkat kesulitan soal sangat tinggi dan untuk bisa menjawab sempurna akan butuh waktu lama.


Peniel berjalan sambil celingak-celinguk ke kiri dan kanan mencari keberadaan teman-temannya yang belum juga keluar dari dalam kelas.


“ hummm? Apa hanya aku yang baru keluar? Atau aku terlambat?” pikir Peniel sambil melihat ke kanan dan kiri.


“ Peniel kau sedang apa? Kenapa lama sekali keluarnya, kami sudah menunggumu di kantin. Ayo makan..” teriak Diana yang ternyata sudah selesai dengan ujiannya.


“ ehh jadi aku benar-benar terlambat.. arhhkk padahal aku sudah banyak latihan agar tak kalah dari kalian, dasar orang-orang sinting..” teriak Peniel.


Seisi sekolah gusar, bagaimana bisa semua anak buangan keluar dari dalam kelas dengan waktu yang sangat cepat bahkan sampai membuat pengawas yang berada di dalam kelas mereka tercengang.


Semuanya mengintip dari jendela kelas dan mencari dimana gerangan anak-anak yang diasingkan itu. Tak menyangka kalau kelas itu benar benar sudah selesai.


“ hei jangan mengintip, kalian tahu jelas kalau kelas buangan itu orang-orang bodoh, palingan mereka menjawabnya dengan asal, itu tidak akan ada artinya, sudah kembali ke tempat duduk kalian dan lakukan ujian kalian dengan baik, jangan sampai kalian tumbuh jadi anak tidak berguna seperti mereka..” hardik salah seorang guru yang sangat membenci kelas 11 IPS 3.


Sementara semua siswa menjalankan ujian mereka, Alvino dan komplotannya benar benar kebakaran jenggot karena mereka bahkan tak bisa menjawab soal dengan baik. Tingkat kesulitan yang benar benar tinggi sampai membuat wajah mereka keriting.


Alvino menatap nanar ke arah kursi milik King yang duduk tepat di depannya sebelum pria itu keluar setelah menyelesaikan semua pertanyaaan dalam waktu yang sangat singkat,” sialan... sekali anak buangan harus tetap jadi anak buangan..” geram pria itu.


Dia mengerjakan soalnya dengan asal, lalu berdiri dan memberikan kertas ujiannya pada pengumpul . Pria itu keluar dari dalam kelas dengan tatapan penuh amarah , sambil mengeraskan rahangannya dia berjalan menuju ke arah belakang sekolah.


Tatapannya jelas mengatakan kalau dia benar bena tak terima anak anak kelas buangan itu lebih unggul daripada para siswa yang jelas belajar lebih baik dariada mereka.


“ Bagaimana ini bisa terjadi? Mereka itu hanya anak anak bodoh.. kenapa mereka bisa melakuan itu arrrghhhhhh sialann... seharusnya mereka semua mati sama seperti si Kiel berengsek itu, merek harus mati...”geram Alvino .


.


.


.


Like, vote dan komen.