
di ujung koridor yang sepi, King bertatapan dengan Atha. Dia menatap gadis itu dengan serius. Ada pertanyaan besar yang muncul di kepala pria itu.
" Kenapa kau mengusulkan hal seperti itu? Cindy tidak gila, seperti ucapan Papa dia hanya depresi, aku setuju dengan ucapannya tentang membawanya ke tempat aman, tapi kenapa kau sampai terpikir dengan hak itu?" tanya King.
"Kau mengucapkannya seolah kau pernah mengalaminya, bisa beri aku alasan agar Papa bisa kuyakinkan!?" pinta King. Tuan Charles memiliki sifat yang sangat sulit untuk dimenangkan. Dia harus diberi penjelasan detail tentang sebab dan akibat yang harus ditanggung.
Meskipun King merasa kalau kali ini dia akan bertindak tanpa persetujuan dari ayahnya. Dia hanya ingin tau jawaban Atha dan meyakinkan dirinya sendiri membawa adik dan ibunya ke kota lain.
Atha menatap pria itu," Kau benar benar ingin tau!?!" tanya Atha sambil menaikkan satu alisnya.
" Tentu saja, beri aku alasan yang logis!" ucap King.
Atha menatap pria itu, tanpa mereka sadari Jin-ji dan anak-anak lain masih berada disana dan ternyata tak sengaja melihat keduanya berbicara di ujung koridor. Mereka dengan sifat penasaran mencuri dengar dan memperhatikan percakapan mereka.
" Baiklah," ucap Atha. gadis itu menarik kaosnya ke atas dan menunjukkan perutnya yang terlihat berotot dengan bekas luka jahitan yang memanjang dari bagian panggulnya hingga ke dekat pusarnya.
King tentu saja terkejut saat Atha menarik kaosnya, apalagi teman-teman sekelasnya mereka yang mengintip di sudut sana sampai terjungkal karena Atha tiba tiba saja melakukan hal itu.
" Apa yang kau lakukan hei!!!" King memalingkan wajahnya tak ingin jadi pria tak sopan yang melihat perut seorang gadis.
" Jangan sok polos, lihat kesini biar kujelaskan!!!" ucap Atha dengan nada ketusnya itu.
King menoleh, dia menatap Atha," bukan wajahku tapi ini!' ucap gadis itu menunjuk bekas luka jahitan di perutnya.
"Bekas luka?? luka apa itu!?" King menyerngitkan keningnya.
" Ini bekas luka karena percobaan bunuh diri!" ucap Atha.
" Apa!!!" Sontak suara menggema terdengar di sepanjang koridor itu. Atha dan King sama terkejutnya mendengar suara teman teman sekelas mereka.
" Hei Apa yang kalian lakukan disana!!??" teriak King.
Gedubrak...
Anak anak itu terjatuh dengan wajah salah tingkah karena ulah mereka sendiri. Seharusnya mereka tetap diam disana tanpa membuat keributan.
" Ehmmm itu Heheh... hanya mendengar saja, kami tak lihat apa-apa!" ucap Jin Ji sambil cengengesan.
" Tha percobaan bagaimana!? kapan kau mau bunuh diri dan kenapa!??" Beer dengan mulut bawelnya malah sudah nangkring di elang Atha dan menatap perut gadis itu dengan tatapan penasaran.
" ini diapain sampai sepanjang ini!??" tanya Beer sambil menyentuh bekas luka itu.
Pletak...
" jangan dipegang!" Atha menepuk tangan Beer yang benar benar penasaran.
"Maaf mengganggu pembicaraan kalian, lanjutkan saja, kami mencari kalian untuk pamit pulang, adikmu sudah ketemu dan hari semakin gelap, " ucap Raiden.
" Baiklah, terima kasih atas bantuan kalian semua,"ucap King.
" Ayo Beer kita pulang, jangan membuat keributan disini!!!" celetuk Diana sambil menarik Beer dan menyeret gadis rambut merah itu keluar dari sana mengikuti yang lain.
" Arrkhhhh aku penasaran, katakan dulu itu diapain Tha!" teriak Beer yang diseret paksa oleh Diana.
" Dia cerewet ya," Atha menatap mereka sambil geleng-geleng kepala.
" Nanti membicarakan mereka, lanjutkan ucapan mu tadi!" ucap King.
" Katakan saja, tiga sudah kau mulai, " ucap King sambil bersandar pada dinding rumah sakit.
Atha menatap pria itu, dia menggigit bibir bawahnya dan mengepalkan kedua tangannya, sekilas dia terlihat panik dan berusaha meredam emosinya, beberapa saat kemudian dia tenang dan berhasil mengendalikan dirinya.
" Dia kali, sebanyak dua kali aku..." Atha terdiam sejenak, dua menghela nafas berat," Sebanyak dua kali aku dilecehkan saat usiaku masih begitu muda, dan itu dilakukan setelah kematian orangtuaku, oleh pengawal kepercayaan keluarga kami sendiri, korban Pelecehan dan bully seperti aku dan Cindy beresiko untuk melakukan tidak bunuh diri bahkan menyakiti diri kami sendiri.
Atha menunjukkan luka di bagian dadanya,di leher dan pergelabgan tangannya. Jelas percobaan bunuh diri itu dilakukan bukan hanya sekali atau dua kali tetapi berkali-kali.
King syok mendengar ucapan Atha, dia tak menyangka gadis semuda itu telah melewati begitu banyak luka liku kehidupan.
"Kau... ba..bagaimana kau bertahan dari semua itu!? kau menceritakannya seolah itu bukan apa apa bagimu, seolah kau...
" Tiga tahun aku bermasalah dengan kejiwaanku bahkan saat SMP aku harus bolak balik umah sakit jiwa dan psikiater untuk pengobatan. Yang membuatku bertahan dan sembuh adalah kakakku Kiel, dia menjagaku dan membalas perbuatan bejat orang itu bahkan menghukum anak-anak yang membully ku kala itu, sangat sulit bertahan, trauma dan takut bertemu dengan orang lain, tapi semua kujalani karena kak Kiel..." Atha menatap langit, sambil mengingat perjuangan kakak laki lakinya untuk membuatnya kembali memiliki semangat untuk hidup.
" Tapi kini, satu satunya orang yang mengerti hatiku dan satu satunya keluarga ku telah tiada, entah bagaimana aku akan hidup nantinya," ucap Atha dengan nafas berat.
King tak menyangka kalau dia akan mendengar cerita kelam di masa lalu Atha. Melihat usianya yang seharusnya masih labil, King salut dengan perjuangan Atha dan dukungan besar dari mendiang Kiel terhadap adiknya.
King melirik dirinya sendiri, sudah sebesar apa perjuangannya melindungi Ibu dan adiknya. sudah sebesar apa pengorbanan pria itu untuk menjaga mereka, masih tak bisa dibandingkan dengan perjuangan Kiel membuat Atha kembali jadi gadis biasa yang normal dan melupakan rasa sakit yang dia alami sejak kecil.
" Kau hebat!" ucap King yang spontan menepuk kepala gadis itu.
" Kau gadis yang hebat, bisa bertahan meskipun sekitarmu memaksamu untuk hancur," ucap King dengan tatapan mata yang tak bisa diartikan. Dia melihat gadis itu, ada getaran di dalam hatinya saat melihat wajah cantik nan dingin itu hanya diam dan menatap langit.
" Lalu apa yang akan kau lakukan pada adikmu, jangan sampai dia mengalami gak menyakitkan itu, tidak semua orang kuat dan tak semua orang bisa menahan serangan itu, dia bisa gila kalau dibiarkan terus, aku yakin ayahmu bukan orang yang mudah dihadapi," ucap Atha sambil menatap King.
" Aku akan membawa dia dan ibuku ke kota A, disana lebih aman, hanya saja aku belum menemukan tempat, aku akan mencari sekolah yang bisa menjaga Cindy dengan baik disana," jelas King.
" Apa butuh bantuan? " tawar Atha dengan senang hati.
" Apa kau bisa? kau tau sekolah yang bagus disana?" tanya King.
Atha mengangguk," serahkan padaku, aku akan membantumu sebagai seorang teman, dan Hana... ya dia juga sebaiknya menjadi salah satu pertimbangan untuk dipindahkan, pelakunya pasti berkeliaran bebas di sekolah!" ucap Atha.
" Kita coba bicarakan dengan mereka, Hana mungkin jadi target berikutnya karena Cindy selamat!" ucap King. Atha mengangguk setuju.
" Aku penasaran," King menyentuh bekas luka di tangan Atha," Apa lukamu ini sakit!???" celetuk pria itu.
Takk...
" Jangan pegang pegang, ini Bekasnya, tidak sakit lagi, kau bodoh atau goblok sih!?" ketus Atha sambil menyentil kening King.
" Awhhh maksud ku, apa luka di hatimu masih sakit?? itu mungkin butuh waktu lama untuk sembuh," tanya King.
Atha terdiam, dia menatap pria itu, " entahlah," jawabnya singkat lalu pergi dar sana..
" Pantas tatapan matanya sangat dingin seolah tak punya ekspresi selain marah dan diam," gumam King.
.
.
.
like, vote dan komen