Pembalasan Psikopat

Pembalasan Psikopat
6


Karena sudah berkenalan, Zico mengakhiri tugasnya di kelas itu sebagai ketua OSIS yang bisa diandalkan dan menambah citra baiknya di depan para siswa.


"Kalau begitu selamat menikmati kehidupan sekolah kalian, Atha, King, kuharap kota bertemu di kelas yang tepat! kalian bebas pindah kapan pun!" ucap pria itu sebelum melangkahkan kakinya keluar dari ruangan kelas.


Ke tujuh siswa dalam kelas itu hanya merotasikan kedua bola mata mereka mendengar celotehan Zico yang tak ada habisnya. Pantas saja pria itu disebut sebagai si mulut ember, karena kata-katanya selalu bertumpahan dari bibirnya itu.


Atha tak menghiraukan perkataan Zico, dia menaruh tasnya di atas meja lalu tidur di atasnya sambil menatap ke arah kursi bunuh diri itu dengan tatapan dingin.


" Baiklah Zico, sampai jumpa lagi!" seru King seraya melambai pada Zico si mulut ember. King duduk di kursi di samping Jin-ji si ketua kelas berkacamata yang duduk di barisan pertama kursi kedua.


Zico mengangguk sambil tersenyum ramah, menunjukkan elektabilitasnya sebagai seorang ketua OSIS idaman para siswa di sekolah.


Para siswa menatap heran dengan kedua siswa baru yang tampaknya memiliki sifat misterius yang tak mudah ditebak. Mereka menatap kedua orang itu dengan tatapan penasaran, penasaran siapa mereka dan kasus mereka di sekolah lama sehingga mereka terjaring dan masuk ke dalam kelas pengacau itu.


Anak anak dari kelas 11 MIPA 1 berdiri menatap mereka dari balik jendela sambil berpangku tangan dan memberikan tatapan merendahkan pada kelas yang nilai mutu kelasnya nol, sejak semester baru perbaikan kelas dimulai 3 bulan yang lalu.


Sebelumnya kelas itu adalah saingan berat untuk menjadi kelas percontohan dari semua kelas secara umum tanpa melihat jurusan mereka, tetapi sekarang kelas itu meredup dengan semakin berkurangnya jumlah pengisi kelasnya.


Ketika ada siswa baru seperti saat ini, mereka semua akan datang mengawasi kelas itu, berjaga-jaga agar tidak ada yang membuat mereka was was.


"Tampaknya kelas kita akan aman, dan seangkatan ini akan aman karena kelas ini hanya diisi manusia tak berpendidikan, orang kampung dan gadis urakan kasar, " ucap sang juara 1 umum dari seluruh siswa kelas 11, dia sering disapa Nena.


"Ta..tapi me.. mereka kelihatan ba..baik!" ucap seorang pria gagap dengan kacamata tebal dan tubuh tinggi. Pria itu tampak seperti seorang kutu buku, terlihat cupu dan culun bahkan penampilan nya sama sekali tidak menarik. Dia memiliki tato bertuliskan "T C A" di tangannya kirinya tepat di pergelangan tangan bagian dalam.


"Kau jangan terlalu baik Mike, mereka itu orang-orang jahat, kau bisa dibully nanti, mungkin... AKAN BERAKHIR DI KURSI BUNUH DIRI!!!" teriak Nena si akhir kata-katanya seraya melirik ke arah kelas itu.


Jin-ji mengeraskan rahangnya, pria itu berdiri dan...


Brakkk....


"Pergi kalian bajingan, sebelum kubunuh kalian disini!!!" teriak Jin-ji sambil mengeluarkan cutter dari dalam kantongnya.


Semua siswa bergidik ngeri, jika Jin-ji sudah mengamuk maka dia akan terlihat seperti seorang monster.


Di saat yang sama, seorang pria bertato dengan lengan seragam sekolah yang digunting, rambutnya sangat pendek, tubuhnya kekar dan berotot berjalan dengan tatapan tajam dari antara para siswa yang menonton dari luar.


Brukk... Brukk... Brukk...


Beberapa orang dia tubruk karena menutupi jalannya, sambil menyesap soda yang dia genggam dia melewati mereka begitu saja.


Sebelum masuk ke dalam kelas, dia menatap tajam Nena, Mike dan Zico yang berdiri di dekat pintu serta anak-anak lain yang berada disana," Pergi atau kubakar kepala kalian seperti si botak itu!!!" ancam pria yang kerap disapa Peniel itu.


Glek....


Semua orang menenggak saliva mereka, suasana tampak mengerikan dan terlihat menegangkan, mereka semua hanya terdiam dengan jantung berdetak bagai lari maraton.


Peniel masuk, lalu menutup pintu itu dan menurunkan tirai jendela, di saat yang bersamaan bel masuk jam pelajaran pertama terdengar, mereka semua berlari menuju kelas masing-masing setelah mendapat ancaman mengerikan dari salah satu siswa psikopat di kelas itu.


"Huhhff...mengurus semut semut liar itu saja kalian tak bisa, mana kemampuanmu Jin-ji? lagi lagi kelas ini jadi tontonan? mengesalkan, mengganggu saja, kalau perlu taruh paku payung didepan supaya mereka tidak lewat dari depan kelas neraka ini!" ketus pria itu sambil duduk di kursinya.


"Terserah, yang penting tikus tikus itu sudah pergi!!" ucap Jin-ji. Dia mengeluarkan bukunya, lalu membuka halaman buku yang harus dia pelajari saat ini.


Bob dan Hana saling menatap, begitu juga dengan Josua dan Brian, mereka merotasikan kedua bola mata mereka lalu merapatkan kursi mereka dan melanjutkan permainan mereka tadi.


Peniel terkekeh," Mainan apa lagi yang dikirim si botak itu, ahhhh seharusnya yang terbakar bukan tasnya, tapi kepala botaknya itu ... lain kali kuusulkan begitu," -pria itu tertawa geli melihat Atha dan King.


Jin-ji sendiri menatap King yang duduk di sampingnya," Bagaimana kau bisa ke tempat ini? bukannya seharusnya kau sudah kelas tiga King!?" celetuk Jin-ji seraya menatap heran pada King.


King mengangkat bahunya sambil memanyunkan bibirnya," Tinggal kelas,drop out dan berakhir di kelas ini, tak kusangka kita bertemu lagi setelah tiga tahun!" ucap King dengan nada semangat.


" Jin kau kenal kepala gulali ini!?"celetuk Alex dengan tatapan heran.


"Wahhh pantas saja tatapan mu tadi sangat berbeda!!" imbuh Brian seraya menenggak isi botol alkoholnya.


"heh turunkan minumanmu itu, ini di sekolah bodoh!!"bentak Jin-ji dengan wajah masam.


" Ehh ... tumben?"pikir Brian,karena ini kali pertama ia dilarang minum oleh Jin Ji.


"Kami teman satu SMP, sebenarnya kami dua angkatan di atas kalian, dia terlambat masuk SMP dan aku tinggal kelas dua kali, seharusnya kami sudah lulus tahun lalu, ini King teman lama!"ucapnya sambil menatap anak-anak seolah mengatakan mereka harus bersikap baik.


" Ahhh baiklah, tapi apa kami bisa yakin kau bukan anak didik si mulut ember!?" celetuk Josua.


" Kita lihat saja ke depannya," jawab king dengan santai.Jika semua orang sudah berbicara sejak tadi, maka Atha sama sekali tak berbaur dengan kelas itu di hari pertama mereka masuk sekolah.


"wuuuuuu.....cowok cool nih bos... pernah ke club gak!??mau gak dugem malam ini, sebagai perayaan!!" celetuk Beer seraya mengedipkan sebelah matanya.


"Gue sibuk!" jawabnya singkat.


Sikap King membuat yang lain merasa kalau King adalah anak nakal yang sengaja di kirim ke sekolah itu.


Sementara itu Hana menatap Atha yang sedang tidur di atas mejanya sambil menatap ke arah kursi bunuh diri.


Gadis itu penasaran, dia berdiri sambil menyeret kursinya ke arah Atha.


"Itu Kursi bunuh diri!" ucap Hana sambil duduk di depan Atha dan menatapnya dengan tatapan tajam saat melihat Atha yang terus menatap kursi itu.


Atha mengangkat kepalanya, dia melirik Hana," Maksudnya?" tanya gadis itu.


"Lo belum tau rumor kelas ini?" tanya Hana sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Rumor apa?" tanya gadis itu.


"Rumor...."Hana mendekati Atha," Pembunuhan teman sekelas sendiri!" bisiknya sambil tersenyum tipis.


Atha terdiam, dia mengeraskan rahangnya,menatap Hana dengan tatapan tajam sekilas, menahan sesuatu yang sedang meledak di dalam dirinya.


"Pembunuhan katamu!??? kalian yang membunuh kakakku!!!!"


.


.


.


like, vote dan komen 🤗