Pembalasan Psikopat

Pembalasan Psikopat
16


Badan pengawas pendidikan adalah badan yang dalam periode tertentu akan turun ke sekolah-sekolah untuk melakukan pemeriksaan lapangan terhadap jalannya pembelajaran di sekolah itu. Jika biasanya kedatangan mereka diberitahu terlebih dahulu,tetapi untuk SMA Pratama, tak ada pemberitahuan sama sekali tentang kedatangan badan pengawas pendidikan.


Kedatangan mereka yang tiba-tiba membuat Kepala sekolah, pemilik yayasan bahkan para tenaga pendidik ketar ketir. Bukan karena memikirkan kebersihan sekolah tetapi memikirkan kelas 11 IPS 3. Kelas pengacau yang tak berubah sejak kejadian enam bulan lalu. Kejadian mengerikan yang menimpa sekolah itu serta beberapa kasus yang terjadi secara mendadak tetapi berusaha untuk mereka tutupi agar tidak terkuak ke publik.


Pak Mario tidak terkena teguran sama sekali, dia bahkan belum bertemu secara langsung dengan badan pengawas. Dia hanya melihat kedatangan mereka dan mengambil kesempatan ini untuk menjebak kelas itu, agar mereka di keluarkan dari sekolah.


Dia tidak memiliki progres sama sekali sejak dijadikan wali kelas 11 IPS 3. Semua karena kesalahannya yang pertama kali menolak kelas itu, dan mengatakan kata-kata tak enak pada mereka.


Di dalam kelas itu, Pak Mario, pria berusia sekitar 40-an itu malah terbawa amarah karena Beer dan Hana yang memeluk kedua kakinya.


Tangannya yang kasar memukul wajah keduanya sampai gadis-gadis itu terhuyung. Hana terkejut, dia gemetaran dengan wajah ketakutan saat pukulan itu mendarat di wajahnya..Kali ini tampaknya Hana bersungguh-sungguh, dia menangis histeris dan mengerang di dalam ruangan itu.


Sontak Jin-ji, Bob dan yang lainnya panik saat mendengar suara teriakan histeris dari Hana.


" Hana... tidak... dia memukulnya.. Hana.. astaga ini kacau!!!"ucap Jin-ji, dia terlihat panik begitu juga dengan yang lainnya.


" Ada apa!?" tanya Atha.


" Hana.. Punya trauma.. " jawab Jin-ji dengan Nada takut.


Beer langsung memeluk temannya, melihat Hana histeris membuat Beer juga ketakutan, gadis itu memiliki kehidupan yang berada di luar nalar orang biasa. Beer dengan cepat memeluk Hana dan menenangkan gadis itu. Hana hanya bisa menangis sambil menutup kedua telinganya dan merintih histeris disana.


" APA-APAAN INI!!!" Suara teriakan Kepala Badan pengawas terdengar menggelegar di dalam kelas itu. Sontak semua orang terkejut. Atha dan King menatap badan pengawas dan pihak sekolah yang datang ke kelas mereka, tatapan keduanya fokus pada kepala sekolah yang menatap mereka dengan frustasi. Bahkan guru yang ikut pun tampak syok melihat apa yang terjadi.


"Pak... I.. ini ti..tidak yang seperti a..anda lihat!!!" Pak Mario kalah waktu dan kalah cerdik, dia telah termakan jebakan kelas itu. Dia diserang oleh jebakan busuknya sendiri.


Pak Mario memasang wajah pias, ini tidak seperti yang dia harapkan, seharusnya tidak begini apalagi di depan badan pengawas pendidikan, hancur sudah karirnya dan pekerjaan nya sebagai seorang guru.


" Anak-anak sialan, monster tanpa masa depan beraninya kalian menipu kami, ini ulah kalian kan!? ini semua rencana kalian kan!!!" pekik Pak Mario marah.


Dia membentak mereka semua, kelas itu dipermalukan dan dihina sejadi-jadinya oleh wali kelas mereka sendiri.


Atha, Hana dan Beer menangis begitu juga dengan para pria, mereka menangis memohon ampun pada Pak Mario, memasang wajah menyedihkan dan sandiwara yang sangat apik.


" Hiks hiks hiks... ma..maaf pak... to... tolong jangan pukul kami lagi hiks hiks hiks...." Atha memulai tangisan nya, dia berdiri dan menatap kepala sekolah, badan pengawas dan para guru," Sa..saya salah, tapi jangan pukuli saya, saya baru masuk ke sekolah ini, tapi wali kelas... hiks hiks hiks... wali kelas malah.... Huwaa...." Atha menangis sesenggukan di depan mereka sambil mengusap wajahnya yang terluka.


King mengambil perannya, melihat teman temannya yang tak bisa berbuat apa apa karena syok dengan kondisi Hana, Dia mengambil kendali dan menjalankan perannya.


King merangkul Atha sambil menangis," Maafkan kami Pak, tapi kami ingin belajar, dia.. dia hanya meminta Pak Mario mengajari kelas kami tapi dia malah dapat tamparan, say juga siswa baru tapi diperlakukan seperti ini..." tambah King yang membuat situasi semakin panas.


" Teman-teman kami, mereka terluka karena Pak Mario tiba-tiba datang dan menghancurkan meja, memukuli wajah kami dan menyebut kami Monster, " ucap King sambil menunduk.


" Ayo berlutut," bisik pria itu di telinga Atha.


Atha menurut, meski kesal dia mengikuti arahan King.


Mereka berlutut di depan pengurus sekolah dan Badan Pengawas. Melihat hal ini, Peniel, Bob, Jin-ji dan yang lainnya turut berlutut sambil menangis. Beer, Alex dan Josua serta Brian mendampingi Hana yang gemetaran.


" Sialan, itu bohong pak, saya tidak melakukan apa pun pada mereka, tadi semuanya baik-baik saja!!" teriak Pak Mario dengan wajah panik.


" Mereka!!" Pak Mario menunjuk seisi kelas.


"Saya... saya punya bukti!!" ucap Pak Mario dengan wajah serius, dia berjalan menuju meja guru, matanya mencari dimana gerangan ponselnya, padahal jelas dia meletakkan benda itu dalam posisi merekam.


" Mana buktinya!?" tanya Kepala badan pengawas.


" Sebentar biar saya cari dulu, tadi disini!!!" ucapnya panik.


Pak Mario mencari kesana kemari, namun ponsel itu sama sekali tidak ditemukan. Sementara itu king tersenyum sinis menatap pria yang sedang kebingungan mencari ponsel yang sudah hancur berantakan dan dia buang ke luar begitu saja.


" Sialan,anak anak kurang ajar dimana ponsel ku!!!" pekik pria itu.


"CK... CK.. CK... Kepala sekolah, sebaiknya kita bicarakan ini dengan serius, kenapa ada tenaga pendidik yang jelas jelas memukuli siswa nya sendiri!!!" Badan pengawas tampak marah.


" Ta..tapi pak kelas ini kelas buangan, mereka memang tidak layak untuk dibela, bisa saja kelas ini mengerang cerita!" ucap salah satu guru.


Pria dari badan pengawas menatap tajam guru laki-laki bertubuh tinggi itu, " Seorang tenaga pendidik tidak akan mengucapkan kata-kata itu jika dia memang berniat mendidik siswa, mereka adalah tantangan besar bagi kalian, jika satu kelas ini saja tak bisa kalian tangani, maka seisi sekolah akan hancur!!" ucapnya dengan tegas.


" Tapi pak mereka yang salah!!"


"Salah!? Salah matamu bangsat!!!" Pria bernama Kevin Alexander itu menggeram kesal mendengar ucapan para guru yang menyudutkan siswa.


" Seret guru itu, berikan surat pemecatan sekarang, jika tidak maka sekolah ini beresiko mendapatkan tindakan disiplin, bawa anak-anak yang terluka dan urus dengan benar, aku tak mau melihat seorang guru yang tak mempunyai dedikasi pada siswa tetap tinggal dan mengajar di sekolah ini, Evaluasi pengajar akan dilaksanakan!!!' ucap Kevin dengan tegas.


" Siap Pak!!" Tim dari badan pengawas bersiap dengan tugas mereka masing-masing.


" Si.. sial!!!"


" Pak.. BI..bisakah kita membicarakan hal ini!??" Pak Kepala sekolah tampak pusing dan bingung, jika sampai ada lagi yang salah maka bisa berakhir karinya sebagai kepala sekolah..


" Anda juga akan diperiksa!!" ucap Kevin dengan tegas. Dia beranjak keluar dari kelas itu dengan langkah tegas, ekor matanya melirik salah satu siswa di dalam kelas itu lalu menaikkan jari jempolnya sekilas.


King menatap kepergian mereka, matanya menangkap sosok bayangan yang mengintip dari balik pintu lalu pergi terburu-buru setelah menyaksikan hal itu.


" Siapa sebenarnya!?? siapa pelakunya!!" gumam King.


" Apa kau melihat tanda yang sama tadi!? gadis itu... target selanjutnya!!!" ucap Atha sambil berpaling menatap Hana.


King terkejut," aku tak melihatnya, apa dia punya!?" tanya King.


Atha mengangguk," punya tapi anehnya sudah lama," ucap Atha.


" Sebenarnya tanda siapa itu!? ada apa dengan kelas dan orang orang di sekolah ini!??"


.


.


.


like, vote dan komen