Pembalasan Psikopat

Pembalasan Psikopat
23


Jack, Bibi Mola dan para anggota The Chamber dibuat terkejut dengan panggilan tiba tiba dari pihak rumah sakit dimana Atha sekarang sedang di rawat langsung oleh direktur rumah sakit, siapa lagi kalau bukan Adrian yang dipercayakan mengelola rumah sakit tersebut.


Jack dengan segala kerempongannya dan Bibi Mola dengan mulut cerewetnya berlari sekencang-kencangnya saat tiba di rumah sakit.


Karena hentakan kaki orang-orang ini, sekolah rumah sakit bergetar seolah sedang ada gempa bumi padahal hanya langkah kaki menderu tim The Chamber yang berlari dan langsung melakukan siaga di rumah sakit setelah mendengar nona mereka dirawat di sana.


" Adrian, dimana Nona muda!??" teriak Jack yang sudah tiba di lantai khusus yang disediakan untuk Atha dan tim The Chamber. pria tinggi dengan bahu bidang itu melangkahkan kakinya dengan langkah besar sambil mengeraskan rahangnya menyalahkan dirinya sendiri karena membiarkan nona mudanya pergi sendirian.


Adrian menepuk kepalanya melihat Jack yang datang dengan rombongan besar, entah sudah seheboh apa sekarang keadaan rumah sakit karena ulah pria itu.


" CK... dasar pembuat onar, ke apa membawa semua tim ke tempat ini!??" batin Adrian seraya menghela nafas berat.


" Adrian dimana Nona!??" pekik Jack.


bughhh...


Bukannya menjawab, Adrian malah melayangkan pukulan ke wajah Jack hingga membuat pria itu terkejut bahkan Bibi Mola dan tim di belakang mereka sampai menganga tak menyangka kalau Adrian akan melakukan hal itu.


" Kau bisa tenang tidak hah!!??" kesal Adrian.


" Kau pikir ini lokasi kerjamu? kau pikir sedang bertarung hmm? kalau datang ke tempat ini yang tenang, jangan bikin gaduh atau kau akan diarak ke tangan jalan, dasar pria bodoh!" kesal Adrian sambil membuka pintu ruangan Atha.


" CK.. sial, aku hanya panik, apa salah!??" kesal Jack.


" CK.. sudahi perdebatan kalian sebelum kuporong tangan kalian itu!!!" ketus Bibi Mola yang berjalan mendahului mereka dengan wajah masam.


Saat Bibi Mola masuk, pemandangan asing dia temui. Pemandangan tak biasa yang belum pernah dia lihat, nona mudanya duduk di tengah tengah ranjang, dikelilingi oleh sebelas orang bocah ingusan yang masih bau kencur, bersenandung pelan menyanyikan lagu kesukaan mendiang tuan muda mereka.


" no.. nona..." Suara Bibi Mola tercekat, kristal bening menggantung di ujung kelopak matanya saat melihat nona mudanya ternyata dikelilingi orang-orang hangat.


"Siapa pelakunya, biar kuha... hepmmkkk....


" Diamlah, atau ku buat kau pingsan!!" ketus Bibi Mola sambil menutup mulut Jack dengan tisu bekas menyeka keringatnya.


" uhuk... uhuk.. Mola...ini.. haccuhh... asin!!!" bisik Jack sambil menatap Bibi Mola dengan wajah kesal..


" Bekas keringat, buang saja kalau tak butuh!!" ucapnya dengan datar sambil menarik tangan Jack dari dalam ruangan itu.


" Bibi Mola, aku mau melihat nona muda!!!" ucap Jack saat dia ditarik paksa oleh wanita itu.


" Lihat, nona tersenyum walaupun sedikit, apa kau mau menganggu itu? lebih baik kita segera mencari tau apa yang tejadi dengan sekolah mendiang tuan muda Kiel, membantu Nona menemukan pelaku sebenarnya!!" bisik Bibi Mola sambil berjalan keluar dengan lambat agar tidak terlihat oleh para siswa.


" CK... terserah!!" ketus Jack.


Sementara itu di dalam ruangan itu, mereka semua tengah berbincang setelah Atha sadar. Tentu mereka sangat terkejut saat Adrian, direktur rumah sakit yang langsung turun menangani Atha, belum lagi ruangan yang mereka pakai sangat besar dan lebih baik jika disebut kamar hotel VVIP.


"Kami tidak melihatmu di pemakaman, makanya kami tidak tau," ucap Beer sambil menggenggam tangan Atha di sebelah kiri.


" Aku pingsan dan dirawat hari itu, aku tidak tau kalau teman-teman kakakku datang, " jelas gadis itu.


Mereka hanya mengangguk mendengar penjelasan Atha. Gadis itu menatap Hana yang terus saja diam, hanya dia yang tak bicara sejak tiba di rumah sakit, dia terus menggenggam tangan Bobby dan menunduk ke bawah.


" Hana, " panggil Atha, sontak mereka menoleh ke arah gadis itu.


" A..ada apa?" tanya Hana gugup.


" Kau baik-baik saja? bagaimana keadaanmu?" tanya Atha.


" Ba..baik..." jawabnya singkat.


" Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Atha. Hana mengangguk pelan, padahal sebelumnya dia tidak seperti itu, perubahannya sangat drastis dan membuat teman temannya khawatir.


"Tanda itu, kau dapat dari mana?" tanya Atha sambil menunjuk lingkaran dengan garis memanjang di lengan kiri bawah Hana.


Tentu mereka semua menatap ke arah Hana, tanda apa yang dimaksud oleh gadis itu.


Hana hanya diam, dia menyembunyikan lengannya dan tak membalas pertanyaan Atha. Hal ini malah membuat mereka bingung dan heran dengan sikap Hana. Gadis yang biasanya ribut sama seperti Beer itu tiba-tiba diam.


"Tanda apa?" tanya Jin-ji menyerngitkan keningnya.


" Lingkaran dengan garis memanjang," ucap Atha.


"Bob... pulang!!" Hana menarik tangan Bobby, tak berani menatap mereka, rasanya dadanya sesak dan dia tak suka hal itu. Seolah dia sedang ditekan dan diinterogasi.


"Maaf guys, Hana gak bisa gini terus, aku akan bawa dia pulang dulu, aku takut terjadi apa-apa dengannya," ucap Bobby sambil merangkul Hana dengan erat.


" Apa perlu kami temani?" tanya Brian.


" Kita saja Bob, please, bawa aku pulang," pinta Hana dengan suara pelan.


" Baiklah, biar aku saja," ucap Bobby.


Mereka berdua keluar dari dalam ruangan itu. Atha, King dan yang lainnya hanya menatap gadis itu dengan tatapan khawatir, pasalnya perubahan pada Hana sangat mendadak.


" Gue takut terjadi apa-apa dengan Hana, perubahan perilaku pada Kiel.membuat gue trauma," ujar Peniel.


" Perubahan perilaku? apa yang terjadi?" tanya Atha penasaran. Mereka terdiam sejenak, seharusnya mereka tidak membicarakan hal ini sekarang, apalagi kondisi Atha baru terguncang.


" Soal itu sebaiknya kita bicarakan nanti, tunggu Lo sehat Tha," ujar Jin-ji.


" Nggak, aku mau dengar sekarang, apa yang terjadi!?" tanya gadis itu dengan wajah serius.


"Sebelum Kiel meninggal, seminggu sebelum ditemukan dia pendiam dan menjauhi kami semua, saat kami tanya dia berteriak dan bergetar ketakutan seperti Hana ketika di sekolah tadi, " jelas Jin-ji.


" Selama waktu itu dia benar-benar diam, bahkan tak menyahut ketika dipanggil, bagi kami itu sangat aneh tetapi di hari dia meninggal, dia menitip pesan pada kami sambil tersenyum manis, dia ... dia mengatakan kalau dia akan pergi jauh, setelah tersenyum dan memeluk kami semua dia keluar dari sekolah, lalu keesokan harinya kami mendapatkan kabar tentang kematian Kiel," jelas Raiden.


Mereka semua menunduk, tentu mereka tak terima dengan kematian Kiel, dia pergi dengan senyuman dan sebuah pelukan hangat yang tak akan pernah mereka dapatkan lagi untuk selamanya.


" Kakak melakukan itu!??" pikir Atha.


Saat mereka tengah berbicara tiba-tiba ponsel King berdering, " Papa??" Pikir King saat melihat nama ayahnya disana.


" Gue keluar dulu, Pak Bos manggil," ucap King.


Pria itu mengangkat panggilan telepon dari ayahnya," King cepat ke ruangan adikmu, dia hilang!!!!"


.


.


.


like, vote dan komen