Pembalasan Psikopat

Pembalasan Psikopat
10


King, pria bar bar ini dengan sengaja mengikuti geng Zico hanya untuk mengetahui apakah mereka adalah salah satu dalang bully yang dialami adiknya. Dia penasaran, sekalipun sudah mendapatkan sebagian info tentang mereka, King masih belum yakin jika tidak dia pastikan dengan mata kepalanya sendiri.


Dengan nekat dia naik ke puncak gedung itu dengan memanjat, mengawasi mereka dari atas dan mendengar percakapan mereka yang jelas bisa terdengar karena suara mereka yang lantang.


King duduk sambil menghela nafas, menyisir rambutnya ke belakang sambil menatap langit. Dia mengeluarkan ponselnya, lalu senyuman tergambar di wajahnya," hehehe.... dapat..." kekeh pria itu sambil menatap video yang dia rekam barusan. Video bullying terhadap anak-anak kelas sepuluh dan sebelas yang dilakukan oleh Zico si ketua OSIS, bahkan siswa terpintar juga terlibat.


" Kita lihat sejauh mana orang-orang berengsek ini bertingkah, apa mereka akan tidur dengan nyenyak kalau sampai video ini bocor? hihihi.... akan menyenangkan, sama seperti cara mereka mengusik adikku!!" gumam King .


King, memang tinggal di Desa bersama kakek dan neneknya, tetapi dia memiliki identitas yang tak biasa. Dia dan adiknya tinggal terpisah, adiknya tinggal bersama Kedua orangtuanya di kota sedang King yang sangat manja pada kakek neneknya memilih tinggal di desa.


Pria itu masih menengadah ke atas langi, kelas yang dia masuki pagi tadi benar-benar misterius, info yang dia dapatkan hanya sebagian, itu pun belum menunjukkan inti permasalahan kelas itu.


Lalu pikirannya beralih pada gadis dengan tatapan dingin dan datar di kelas tadi. Rasa penasaran terhadap gadis itu semakin besar, lagi-lagi dia menyisir rambutnya dengan jari tangannya.


" Apa tujuannya ke sekolah ini? aku yakin dia punya maksud lain, kursi itu? apa dia punya hubungan dengan pemilik kursi itu? gadis misterius... hmmm... aku suka hahhaha...." gumamnya sambil tertawa.


Saat King bertempur dengan pikirannya sendiri, ponselnya tiba-tiba berdering.


King menatap ponsel itu dan melihat nama Ayahnya disana," Pak Bos?? " gumamnya sambil menaikkan satu alisnya.


" Yo... whatssup Pak Boss!!" seloroh King dengan julukannya pada sang Ayah.


" King ke rumah sakit sekarang, Cindy mengamuk, dia mencarimu, cepat nak, Mama tadi pingsan karena tak kuat melihat Cindy, cepat datang!!!" ucap ayah King yang kerap disapa dengan sebutan tuan Charles. Dari suaranya jelas dia terdengar khawatir.


" Kau tak bercanda kan Charles!??" celetuk King seraya menggaruk-garuk hidungnya.


" Anak kurang ajar, apa kau pikir Papa sempat bercanda sekarang hah!??? CEPAT KE RUMAH SAKIT!!!!" pekik pria itu Daris sebrang sama . King sampai menjauhkan ponselnya dari telinganya karena teriakan melengking super hebat dari Tuan Charles.


"Baik Charles, sabar sabar, trik nafas, nanti keriputmu tambah...." Celetuk King yang sedang melompat dari atas gedung menuju atap bagian bawah.


" DASAR ANAK KURANG...


Tut.. Tut....


King memutus panggilan telepon secara sepihak sebelum Charles the rapper kembali mengomelinya.


" Cerewet, dasar Charles cerewet!!!" gumam King yang entah sejak kapan sudah berada di atas sepeda motornya.


King melaju dengan kencang, dalam pikirannya saat dipenuhi dengan kondisi adiknya yang semakin hari semakin drop. Bukannya membaik, adiknya Cindy Bernadette malah semakin terpuruk, sudah sebulan penuh dia dirawat di rumah sakit dengan pengawasan dari psikiater, tetapi traumanya tampaknya masih belum bisa meninggalkan gadis malang yang jadi korban perundungan itu.


King melaju dengan kencang, menyalip semua kendaraan yang ada di depannya sampai membuat semua orang bersumpah serapah karena kelakuan anak Dajjal, preman kampung itu.


Beberapa menit kemudian dia tiba di rumah sakit dimana adiknya di rawat. Tanpa melepaskan helmnya, si pria bar bar nan rupawan ini berlari sekencang-kencangnya memasuki rumah sakit itu sampai membuat orang orang sontak menghindar agar tidak terkena benturan anak sekolah itu.


Pihak rumah sakit sudah kenal dengan siluet, itu mereka hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah King si penghuni rumah sakit pembuat onar.


King berlari sekencang-kencangnya lalu tiba di ruang VVIP dimana tuan Charles sudah menunggu dengan wajah khawatir, istrinya pingsan dan kini dirawat di ruangan lain.


" Charles bagaimana keadaan Cindy!??" celetuk King yang masih sempat bercanda di saat seperti ini.


Plakk....


" Iya ampun pa ampun maaf saya salah Pak Boss..." balas King sambil membuka Helmnya, tampaklah wajah tampannya yang rupawan disana.


" Huhhh.... jangan bercanda terus King, Papa sedang pusing!!" ucap Tuan Charles yang duduk sambil memijit pelipisnya. Tampak jelas kerutan itu di wajah sang ayah, hati anak mana yang tega melihat ayahnya terpuruk seperti itu.


King hanya bisa diam, dia menepuk bahu ayahnya," Biar King lihat dulu Pa," ucapnya dengan nada lembut. Dia bisa merasakan luka itu. Luka di dalam hati yang tak sembuh setelah sekian lama. Luka yang semakin dalam karena menghadapi kenyataan.


Setelah adiknya Cindy mengalami perubahan drastis, ibu King mengalami depresi berat, bahkan terkadang sulit diajak bicara. Sedangkan ayahnya mengalami depresi dan tekanan besar yang berpengaruh pada kesehatannya, hak ini membuat King khawatir tetapi tidak pernah dia tunjukkan kalau dia merasakan hal yang sama.


Hanya dia dan ayahnya yang bisa bertahan, mereka harus kuat agar bisa melindungi keluarga mereka sampai kasus ini benar-benar selesai dan pelakunya ditangkap oleh King.


King membuka pintu kamar pasien, dia memasukkan Kepalanya terlebih dahulu lalu menatap kesana-kemari seperti yang biasa dia lakukan.


" Ummm? my princess Cindy!?? where are you!!???" Nada suara King berubah seperti anak kecil, dia berjalan perlahan dengan wajah tersenyum memasuki ruangan itu sedangkan matanya terus mencari keberadaan adiknya.


" Princess Cindy!??" celetuk pria itu.


Di saat dia masuk, gadis berambut pendek seperti pria bahkan rambutnya lebih pendek dari rambut warna-warni milik King menatap pria itu dari sudut ruangan," kakak....." suara itu begitu pilu dan menyedihkan.


Sejenak King terdiam, wajahnya mengatakan kalau dia bersedih, namun cepat cepat dia buang pikiran itu dan mengubah raut wajahnya.


" Cindy!!!" seru pria itu sambil berbalik dan tersenyum dengan lembut menatap gadis yang duduk meringkuk sambil memeluk kakinya sendiri di sudut ruangan itu.


Gadis itu memakai pakaian pasien, matanya dan hidungnya persis seperti milik King.


" Kak...." gadis itu langsung berdiri dan berlari menghamburkan pelukannya pada King. Belum sempat king bertanya, dia menangis sesenggukan sambil mencengkram pakaian kakak laki-lakinya dengan kuat.


" Cin..." suara King tercekat, tangannya menggantung di udara, dia menyadari kalau adiknya sedang depresi.


Tangan itu kini membalas pelukan Cindy, menepuk punggungnya dan menenangkan adiknya dengan lembut.


" Husshh... kakak disini sayang, it's okay, jangan khawatir, kakak disini.....


Sementara itu di gedung rumah sakit yang sama, Atha tiba bersama Jack dan Bibi Mola dikawal oleh anggota gangster yang dia pimpin. Gadis itu memakai masker hitam, berjalan dengan cepat mengikuti tuntunan Jack.


Namun tiba-tiba, seorang wanita berlari ke arah mereka, perempuan dengan baju pasien berlari sambil menangis histeris dan... Brukk!!


Dia menabrak Atha sampai keduanya terjatuh di atas lantai.


" Nona muda!!!"


.


.


.


like, vote dan komen 🤗