Pembalasan Psikopat

Pembalasan Psikopat
19


Jack Masuk ke dalam sekolah sambil memegang tangan Hana dengan erat. Hana ikut saja di belakang pria tinggi dengan bahu lebar itu. Jika dilihat tinggi badan Hana hanya sampai setinggi dada Jack, terlihat sangat kecil jika berdiri di samping pria itu.


Sementara itu Badan pengawas telah memeriksa semua yang berkaitan dengan pembelajaran di sekolah itu. Kepala sekolah dan para pendidik dibuat kesal karena cara kerja badan pengawas yang sngat menjengkelkan.


Seolah mereka sedang diiterogasi oleh polisi, para guru diperlakukan seperti seorang tawanan.


Setelah pemeriksaan selesai, Kevin, kepala Badan Pengawas berdiri di depan para siswa diikuti oleh para guru sambil memegang beberapa dokumen yang sudah mereka peroleh terkait sekolah itu.


Kevin menatap para siswa yang tak mempedulikan kedatangannya, mereka masih asyik bercanda dan menghina kelas buangan yang malah berbaris dengan rapi di sisi paling pinggir barisan itu. Tak ada anak – anak yang mau berdekatan dengan mereka karena status mereka di sekolah itu sangat rendah.


“ Apa begini cara kerja Anda mengurus siswa dasar kepala botak, mana yang buangan mana yang unggulan, cihh memalukan,” ejek Kevin seraya melirik paka Kepala sekolah yang pusing tujuh keliling melihat tingkah para siswa yang sama sekali tak memperhatikan mereka, bahkan ketua OSIS saja ikut ikutan mengejek dan mencemooh kelas 11 IPS 3.


“ ZICO apa yang kau lakukan, tertibakan siswa!!” pekik Kepala sekolah. Wajahnya memerah karena marah bahkan air liurnya sampai meloncat keluar dari dalam mulutnya karena terlalu kencang meneriaki Zico.


Para siswa terkejut, mereka semua tak menyadari kedatanganpara guru dan badan pengawas. Sontak smeuanya kembai ke barisan dengan arahan dari Zico. Siswa kelas 11 IPS 3 berhasil menarik perhatian Kevin, pria itu menatap anak anak yang berdiri dengan tatapan datar dan dingin , aura mereka jelas berbeda dengan aura kelas lain terutama dua siswa di kelas itu, Atha dan King memeiliki aura yang tidak biasa. Entah kenapa segurat senyuman tipis tergambar di wajah Kevin kala melihat salah satu dari mereka.


Sementara itu di barisan, “ Wahh kita berhasil, pria itu memperhatikan kelas kita,” bisik Jin-ji masih dengan posisi tegap berdiri di samping barisan sebagai pemimpin kelas.


“ Tapi Hana bagaimana?” tanya Bob.


“ Kita urus nanti,” balas Jin-ji dengan tenang.


Zico menatap tajam ke arah kelas itu, dia sangat kesal karena untuk pertama kali kepala sekolah meneriaki dirinya dan untuk pertama kali nilainya sebagai seorang ketua OSIS terluka apalagi ini di depan badan pengawas yang seharusnya bisa dia dekati untuk mengambil keuntungan dari mereka.


“ Sialan, aku teralihkan, kalau begini akan sulit mencari perhatian badan pengawas!” batin Zico.


Saat mereka berbaris, Pak Bima masuk dari sisi lain gedung dengan wajah pias, baru saja terkena pukulan keras dari Jack membuat rahangnya hampir saja lepas, dia mengumpat, menggerutu dan menatap kelas 11 IPS 3 dengan tatapan marah. Pria itu berjalan memasuki gedung sekolah, rasanya sangat sial saat dia tak mendapatkan Hana beberapa menit lalu.


“ kelas 11 IPS 3, cihhh sampah tak berguna,” umpat pria itu. Tatapan tajam dan merendahkan yang dia lemparkan ke kelas 11 IPS 3 ditangkap oleh Atha. Atha mengawasi perilaku pria itu melaui ekor matanya dan menatap setiap gerak gerik bahkan gerakan bibir pria itu.


“ Mengumpat kelas kami lagi? Apa kau perlu di beri tanda merah?” batin Atha.


Sementara itu kepala bidang Pengawas pendidikan mengumumkan bahwa beberapa guru akan melalui dalam masa percobaan untuk tiga minggu ke depan, semuanya adalah guru bermasalah yang menolak masuk ke kelas 11 IPS 3 baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja.


“ Sialan, kenapa begini pak, seharunya kelas itu yang di disiplinkan kenapa kami para guru malah terkena imbas perbuatan mereka?” protes salah satu guru yang tak terima dengan kepurusan Kevin.


Kevin terkekeh,” apa kau sudah melakukan pekerjaanmu dnegan baik hah? Kau hanya datang ke sekolah ini duduk ongkang-ongkang kaki menatap para siswa dan memberikan tugas lalu tidak masuk selama seminggu, apa kau pikir sekolah ini milik ibumu ? perbaiku dulu caramu mengajar baru kau protes padaku,” kesal Kevin.


“ Tidak kompeten tetapi berani protes? Mau ku putus karirmu selamanya?” ancam Kevin.


“ Tapi kenapa pak? Kenapa kami masuk dalam masa percobaan? Anda tidak tahu apa-apa tentang sekolah ini tetapi Anda berbuat seenaknya dan memutuskan sesuka Anda, apa Anda pikir kelas itu kelas baik-baik? Mereka baru saja membunuh satu teman mereka dan masih berani mempertahankan kelas itu? Orang -orang bermasaah ini yang harusnya diusir “ imbuh salah seorang guru perempuan yang terkenal judes dan kejam.


“ Apa kau sendiri pernah masuk dan mengajar di kelas itu? Apa kau pernah memberi mereka peringatan atau mengawasi mereka atau setidaknya menyapa mereka di jalan sekaipun mereka anak buangan? “ tanay Kevin.


“ i... itu... sa.. saya...” wanita itu terdiam.


“ JAWAB YANG JELAS!!” teriak Kevin.


“ Ti... tidak pernah pak..” jawabnya dengan nada kikuk sambil menunduk.


“ Cuiihhh... mulutmu sendiri yang mengatakan, kita berada dalam posisi yang sama, saya juga belum kenal isi kelas itu bagaimana , saya tidak tahu seperti apa mereka tetapi saya tidak berhak menilai mereka hanya karena mereka dikucilkan satu sekolah, mereka punya hak untuk belajar, apa kalian pernah tanya alasan kenapa mereka bertahan di sekolah ini sekalipun kalian menjauhi mereka? Tidak kan? Dasar manusia munafik , jangan sebut diri kalian guru jika anak anak seperti mereka saja tak bisa kalian tangani!” ucap pria itu dengan tegas.


Siswa kelas 11 IPS 3 terdiam mendengar jawaban Kevin, bahkan Hana yang berdiri di pinggir lapangan di samping Jack tersentak kaget saat pertama kali mendengar ada seseorang yang membela kelas mereka.


Hana dan Beer menangis haru, bahkan anak laki-laki di kelas itu menunduk dan menahan agar air mata mereka tak tumpah, siswa yang dulunya duduk di kelas yang sama dengan mereka juga menunduk dan menangis. Masa SMA mereka dilewati dengan begitu berat.


“ Cihh... apa untungnya sih pak membela mereka, saya yakin mereka ini tak lebih dari sekedar orang-orang bodoh yang berkumpul dalam kelas horor itu,” ucap Tasya dengan sombongnya.


“ benar pak, hanya karena kelas ini kami tidak belajar, kalau kami tidak masuk universitas favorit kami hanya karena mereka apa bapak mau tanggung jawab?” teriak seorang lagi.


“ Sebaiknya usir saja mereka, kenapa tak ada yang berani mengusir pembuat onar ini?” teriak yang lain. Para siswa mulai menuntut dan berteriak membuat keributan di lapangan sekolah, mereka meminta kelas 11 IPS 3 dikeluarkan dari sekolah karena membuat kekacauan di sekolah itu.


“ DIAM!" teriak Kevin.


Seluruh siswa terhenyak, suasana hening menyelimuti seisi sekolah itu. Tak ada yang berbicara bahkan tak ada yang bergerak ketika mendengar teriakan dan amukan Kevin.


“ Tiga minggu lagi, bersamaan dengan masa percobaan para guru, ujian umum akan dilaksanakan, kita akan melihat apakah kelas buangan ini memang sampah seperti yang kalian ucapkan atau kalian yang jadi sampahnya..” tantang Kevin.


“ Ibu Olivia akann bertanggung jawab mengurus kelas itu, tidak ada penolakan,” ucap Kevin dengan tegas.


.


.


.


Like, vote dan komen