Pembalasan Psikopat

Pembalasan Psikopat
Kaca


Suasana kelas 11 IPS 3 benar-benar menarik perhatian seluruh warga sekolah itu. Pasalnya sejak jam pelajaran pertama dimulai, kelas itu tidak keluar dari dalam kelas bahkan sampai jam pelajaran terakhir tiba mereka belum juga keluar dari kelas. Yang keluar kelas hanya Jin ji , itu pun mengambil snack dan air untuk mereka .


Seluruh sekolah berkumpul di kelas mereka dan menatap mereka dari luar dengan wajah penasaran. Mereka terkejut dengan pembelajaran yang sedang berlangsung di kelas situ, siapa sangka mereka sangat bersemangat dalam belajar.. materi yang ketinggalan dijelaskan secara umum dan diberi poin penting bagi mereka.


Seluruh sekolah dibuat terguncang dengan perubahan drastis pada kelas itu. Mereka sangat terkejut dan tak percaya.


Ibu Olivia dengan penuh semangat menjelaskan poin-poin penting yang tak mereka pelajari selama tiga bulan setelah mereka naik kelas 11. Semua di jelaskan bertahap dan anak-anak mendengarkan sambil mencatatnya dengan baik. Bahkan suasana belajar mereka sangat seru, anak-anak berdiskusi dan saling melemparkan pertanyaan satu sama lain. Mereka bertanya dan menjawab, menyanggah dan memberikan alasan-alasan logis untuk semua jawaban yang mereka ucapkan. Penghuni kelas itu tidak ada yang bodoh, bahkan pola berpikir mereka jauh di atas anak-anak yang katanya siswa unggulan.


Anehnya pintu kelas itu kini terbuka dan anak-anak lain yang menonton mereka dari luar duduk di sana sambil mendengarkan debat di dalam kelas itu. Mereka sama-sama memperhatikan pengajaran Ibu Olivia dan mencatat semuanya dengan baik.


Karena kelas ini, mereka sampai lupa masuk ke kelas masing-masing saking serunya padahal jam pelajaran terakhir sudah dimulai sejak tadi.


“ King dan Atha bahkan sampai terlibat dalam perdebatan serius tentang bidang studi ekonomi yang membahas tentang pasar modal. Entah kenapa keduanya sangat bersemangat dan ahli dalam bidang ini. Seharusnya mereka tak mengulasnya sampai ke akar akarnya tetapi darah mereka mendidih saat jawaban masing-masing disanggah.


“Untuk mendapatkan klien yang besar maka kita butuh media yang bisa dipakai untuk menjaring klien, tidak boleh sembarang menggunakan media, harus diawasi oleh lembaga yang bisa dipercaya,” ucap Atha.


“ Kau benar tetapi akan lebih baik lagi jika media yang dipakai itu diciptakan sendiri , dengan cara menciptakan aplikasi atau web orang-orang akan lebih mudah melakukan akses masuk dan transaksi secara online.


“ transaksi online juga butuh tempat King, bangunan fisik itu diperlukan.” Tambah Atha.


“ Bangunan fisik tidak terlalu penting, kau tahu kan bahwa sekarang ini orang-orang sudah lebih banyak bekerja dari rumah, tak perlu menghabiskan banyak waktu untuk membuat bangunan fisik yang hanya menghabiskan banyak uang.


“ ohhh dasar si kolot ini, kau tahu tidak dengan adanya bangunan akan membuat orang-orang lebih yakin dengan bisnis yang dijalankan, jika tak ada bukti fisik yang bisa dilihat atau dikunjungi orang-orang akan berpikir kalau itu hanya sebuah investasi bodong” balas Atha dengan suara tegas.


“ Nggak perlu tha.. buat apa ada gedungnya tapi gak kerja dengan maksimal”


“ Perlu King, kalau ada gedung bisa dikunjungi,” balas Atha lagi.


Kedua orang itu terus berdebat sampai membuat seisi kelas tertawa cekikikan karena sejak tadi hanya mereka berdua yang berbicara.


“ Astaga King, Atha kalian duduk jangan sampai naik ke atas meja hanya membicarakan itu, kalian duduk cepat , kita sudah terlalu dalam membahas pasar modal , kalian ini ada-ada saja, seperti sudah seorang profesional dalam bisnis saja,” ucap Ibu Olivia yang mulai pusing melihat anak-anak gila itu berdebat tentang pasar modal.


“Ehh maaf Bu, habisnya dia nyolot sih..” ucap Atha sambil duduk kembali di kursinya.


“ ihh kok gue yang nyolot Tha... dia bu.. dia ini yang gak bisa dibilangin,” balas King.


“ hei sudah sudah .. kita lanjutkan pelajaran berikutnya, sudah cukup kita mendengar tentang pasar modal. Kalian lihat wajah Peniel sudah pusing mendengarkan kalian bicara, Peniel kau kenapa ?” tanya Bu Olivia sambil menatap Penial yang tampak kacau di belakang sana.


Mereka semua tertawa mendengar ucapan nyeleneh dari Peniel.


“ Baiklah baik, nanti kita lanjut debat sekarang kit lanjut masuk ke pelajaran berikutnya , tapi sebelum itu..” Ibu Olivia menghentikan pembelajaran dan menatap ke arah luar kelas dimana anak-anak bahkan beberapa guru berkerumun disana memperhatikan pembelajaran mereka yang dirasa sangat menyenangkan.


“Apa yang kalian lakukan di sini? Apa kalian tidak belajar? Zico.. kau sedang apa..”ucap Ibu Olivia.


“ heh kalau ada lokasinya pasti akan banyak untungnya, kalau investasinya lebih banyak maka..


“ Co... Zico dimarahi Ibu Olivia , sadar woi...” bisik temannya.


“ Ehhh ya ampun,... kok kita malah disini?” Zico tersadar sebab dia pun terbawa dengan suasana belajar yang aktif di kelas 11 IPs 3.


“ Kembali ke kelas kalian, jangan berkumpul di sini, jam pelajaran terakhir akan segera berakhir, kalian mau sampai kapan disini?” senggak ibu Olivia.


Para siswa berwajah kecewa, mereka kembali ke kelas mereka masing-masing dan berdecak kesal.


Saat semuanya tampak kecewa ada beberapa orang yang menatap kelas itu dengan penuh dendam kesumat yang sudah membuncah di ujung kepala mereka masing-masing.


Pria berkacamata yang berpapasan dengan King dan Atha beberapa hari lalu, berdiri di seberang kelas itu sambil menatap mereka dengan tatapan yang tak biasa, dia menulis sesuatu di dalam kertas yang dia pegang,, tangannya dia kepalkan dengan erat dan rahangnya mengeras sempurna saat melihat kelas itu berubah drastis.


“ Beraninya... siapa yang berani melakukan ini. Apa guru sialan itu.... hehehhee.. kita lihat saja, besok mereka akan kembali ke suasana seperti biasa, sekali kelas buangan maka mereka akan tetap menjadi kelas buangan, tak akan kubiarkan mereka bangkit, kalau perlu mereka harus mati sepeti pria bajingan itu...” geramnya sambil menatap ke arah sana.


King melirik ke seberang gedung di mana tepat berhadapan dengan mereka kelas 11 MIPA 1 berada, matanya menangkap sosok pria berkacamata di seberang sana , seutas senyuman licik tergambar jelas di wajah King ,d ia menoleh dan menatap pria itu sambil menaikkan jari tengahnya, “ f*ck you j*rk...” pria itu melafalkan kata-kata itu sambil menatap pria kacamata itu dengan tatapan merendahkan yang tentu saja membuat orang yang dia tatap terkejut karena keberadaannya diketahui oleh King.


“ Dia.. dia melihatku tadi.. dia tahu aku....” pria itu syok.. dia terkejut dengan apa yang dilakukan oleh King.


King masih menatapnya dengan tatapan licik,” kau tidak akan lepas dari ini, bersenang senanglah dulu, setelah itu kita lihat siapa yang akan menang, ku tunggu kau menunjukkan dirimu...” batin King.


.


.


.


Like, vote dankomen