Pembalasan Psikopat

Pembalasan Psikopat
15


Seisi kelas terdiam dalam posisi mereka masing-masing. Jin-ji dan Bob serta Josua menghentikan aktivitas mereka, Atha, Hana dan Beer menatap sinis ke arah pria berkacamata dengan rambut yang mulai menipis di bagian depan itu. Alex, Brian dan King menatap dingin ke arah orang itu. Dia adalah wali kelas mereka, wali kelas yang bahkan hanya sekali menginjakkan kakinya di kelas itu sejak diberitahu tiga bulan lalu kalah dia menjadi wali kelas 11 IPS 3.


" Siapa dia?" bisik Atha pada Beer si gadis kepang berambut merah.


" Boneka, wali kelas 11 IPS 3, " jawab gadis itu dengan nada dingin dan tatapan datar kala melihat Pak Mario wali kelas mereka.


" Ahh.... " Atha menjawab sambil mengangguk mengerti.


Pak Mario menatap tajam seisi kelas itu, baru saja dia ditegur oleh kepala sekolah dan pihak pengawas terkait pembelajaran di kelas 11 IPS 3 yang tak bisa berjalan dengan normal, padahal kelas itu adalah tanggung jawabnya. Pria itu ditegur habis-habisan karena tak bisa mengatur siswa yang jumlahnya hanya sekian orang itu.


" Anak-anak sialan... " geram pria itu, wajahnya memerah, hidungnya kembang kempis seperti pantat ayam, tangannya mengepal, tahi lalat di ujung bibir sebelah kirinya bergerak naik turun karena dia terlalu marah dan geram akibat anak-anak itu.


" Sialan!!!"


" Kalian bukan anak-anak tapi kusebut saja kalian monster, monster sialan beraninya kalian bertingkah kurang ajar di depan pengawas sekolah, aku yang kena imbasnya berengsek!!!" pekik pria itu. Dia sangat marah sampai tak peduli lagi dengan kata katanya yang bisa saja menyakiti hati anak-anak di dalam kelas itu.


Jin-ji terdiam, dia mengepalkan kedua tangannya, masih jelas dalam ingatannya bagaimana kejamnya Pak Mario ketika mereka meminta kasus kematian Kiel diungkapkan ke publik.


" Kenapa kalian selalu saja bertingkah bajingan!?? kalau tidak mau sekolah jangan datang ke tempat ini, keluar saja dari sekolah ini, kalian menghancurkan seluruh sekolah dengan sikap kalian itu, apa kalian mau mati sama seperti si Kiel berengsek itu hah!!!" pekik pria itu.


Dia berjalan menuju kursi mendiang Kiel dan...


Brakk...Brakkk... Brakkk...


Kursi, meja dan segala pernak-pernik di atas meja itu dia hancurkan sampai berkeping-keping, benar benar marah dan mengamuk.


Dia mendapatkan teguran keras dari pihak pengawas, jika sampai dia tak membuat kelas itu berubah maka karirnya akan hancur.


" Yaaakkkkk....bajingan tua sialan, dasar orang sinting!!!!" pekik Alex yang tak terima kursi mendiang Kiel dihancurkan begitu saja.


" Beraninya kau menghancurkan meja Kiel!!!" pekik Bob yang juga tak bisa menahan amarahnya.


Melihat kemarahan mereka, Pak Mario tersenyum tipis, sangat tipis sampai tak ada yang menyadarinya kecuali dua manusia gila yang sudah terbiasa dengan Medan perang.


" Dia tersenyum!?" mata Atha dan King membulat sempurna, sontak keduanya menatap sekeliling lingkungan kelas mereka, King berdiri dan menatap meja guru, ponsel Pak Mario sengaja di buat berdiri, pintu kelas dibuka, ada yang aneh dengan sifat pria itu.


" Brian apa dia pernah masuk ke kelas ini!?" bisik King.


Brian menatap King," hanya sekali, saat kenaikan kelas dan dia dipilih menjadi wali kelas," bisik Brian.


" Tetapi saat itu dia tidak pernah seperti ini, setelah masuk dia tak pernah datang lagi selama tiga bulan, ini cukup mendadak, mungkin dia terkena teguran kepala sekolah, atau pihak yayasan atau mungkin badan pemerintah," balas Brian.


King terdiam, dia menatap seisi kelas, anak-anak lama kelas itu memasang wajah murka dan marah pada Pak Mario. Sedangkan Pak Mario terus menghancurkan kursi dan meja mendiang Kiel dengan tangannya sendiri, membuat anak anak murka.


"Oh.. **** ini jebakan!" ucap Atha pelan sampai membuat Hana dan Beer menoleh pada gadis itu.


Mereka berdua menatap Atah dengan serius," apa maksudmu!?" tanya Beer.


" Lihat kamera ponselnya merekam ke arah kita saja ,dilihat dari anglenya akan tampak kalau kita menyerangnya dan dia sebagai korban, maka kita akan disalahkan atas penyerangan terhadap guru!!" ucap Atha.


" Pintu dibuka pertanda ada yang akan datang untuk memeriksa kelas ini, kita harus bertindak, semoga saja dugaanku benar, dia mungkin menjebak kita di depan pengawas sekolah untuk membubarkan kelas ini dan membuang isi kelas ini demi menutupi kasus kasus besar!!" ucap Atha.


Beer dan Hana terkejut, mereka tak berpikir sampai kesana, sedangkan King tengah beraksi bersama para pria.


" Cepat atur supaya terlihat berantakan!!, akan ku urus ponsel itu!!!" ucap King.


" Sebenarnya ada apa King!??" tanya Jin-ji panik.


"Je...jebakan!? untuk apa!??" tanya Bob dengan mata membulat sempurna.


" Untuk menghancurkan kelas ini!!apa kalian mau kelas ini bubar!? dan kematian pria itu tak terungkap selamanya!?" tanya King.


Mereka terdiam sejenak, namun otak mereka bekerja dengan cepat, sontak mereka mengikuti kata kata King dan membuat kelas itu berantakan sementara Pak Mario menghancurkan kursi Kiel.


" Anak berengsek, kalian pantas mati, kalian semua pantas mati, seharusnya kalian tidak di sekolah ini, kalian harusnya bunuh diri sama seperti pria sialan ini!!!" ucap pria itu yang berusaha memancing amarah seisi kelas dengan kata kata kasar.


" Heheheh... dengan begini kalian semua akan mengamuk dan menghajarku sama seperti dulu, buktinya akan ada dan pihak pengawas akan melihat kalian secara langsung! maka kalian akan dibuang dari sekolah ini, sekali sampah tetap lah sampah!" batin Pak Mario dengan segala rencana busuknya.


Tetapi mereka terlebih dahulu menyadari niat Pak Mario, sementara itu para gadis memulai akting mereka.


" Huwaaaaa...... Ampun Pak...Ampun hiks hiks hiks... Ampun!!!!" pekik Beer sambil menangis ketakutan, dia duduk meringsut ke atas lantai dengan air mata bercucuran.


" Arrrlkkkhhh ampun pak, sakit, jangan lakukan ini!!!" Hana ikut memekik, sedangkan Atha membangunkan Peniel dengan paksa.


" Bangun cepat, kelas darurat!!!" ucap Atha.


Grrrhhhh....


Bughhh...


Brukkk...


" Sialan, awas kau, aku mau tidur !!!" kesal Peniel yang tak sengaja malah memukul rahang Atha sampai sudut bibir gadis itu memar dan berdarah.


" Atha!!" Teman-teman sekelasnya terkejut melihat Ayah malah terkena serangan Peniel, melihat hal itu Hana dan Beer mengalihkan perhatian Pak Mario dengan memeluk kaki pria itu sambil menangis seolah sedang memohon ampun.


Jin-ji langsung berlari dan menolong Atha, Bob membangunkan Peniel, hanya dia yang bisa mengusik pria itu.


" Peniel, sadarlah, si botak itu menjebak kita lagi!! kau memukul orang yang salah!!" ucap Bob sambil menepuk keras punggung Peniel.


" Awas aku mau... Bb..Bob!?" Peniel tersadar dia terkejut melihat Bob di dekatnya bahkan lebih dari itu, dia terkejut melihat Atha yang dipapah oleh Jin-ji dengan wajah terluka.


" Cepat bangun!!" ucap Bob sambil menatap Peniel dengan tegas.


Peniel terdiam, dia menenggak salivanya, dia bangun dan melihat kelas berantakan sedang teman-temannya menangis dengan wajah babak belur.


" A..ada apa!?" tanya Peniel.


" Diam dan ikuti, " bisik Bob.


Di saat yang sama, Kepala sekolah dan badan pengawas pendidikan masuk ke kelas itu dengan wajah terkaget-kaget Kala melihat seisi kelas yang sangat hancur.


"APA APAAN INI!!!"


.


.


.


like, vote dan komen 🤗