
Hana berlari sekencang-kencangnya sambil menangis ketakutan.Dia berlari masuk ke dalam kelasnya dan mengambil tasnya sendiri.
Gadis itu terlihat pucat dan tangannya gemetar," Aku harus pergi dari sini... hiks hiks hiks.... ba...bagaimana ini, bagaimana kalau anak-anak jadi sa..sasarannya!!!" gumam Hana.
Brian dan Bob tiba di kelas, mereka mendapati Hana yang duduk meringsut di atas lantai sambil menangis sesenggukan memasukkan bukunya ke dalam tas.
" Han ada apa !?" Kedua pria itu mendekati Hana.
" Jangan mendekat!!!" pekik Hana sambil mengangkat tangannya.
" Please... hiks hiks hiks... jangan mendekat!!!" pinta gadis itu dengan air mata yang mengalir begitu deras.
" Han kamu kenapa? ini bukan kamu yang biasa, jangan bikin kita takut!!!" ucap Brian panik. Pasalnya kondisi Hana yang seperti ini mengingatkan mereka pada mendiang Kiel yang juga sempat berperilaku aneh seminggu sebelum kematiannya.
"Ng..nggak, a.. aku baik baik saja! aku mau pulang, awas!! aku mau pulang!!!" ucap gadis itu sambil terus menangis, dia berdiri dengan kaki gemetaran lalu melewati kedua pria itu begitu saja.
" Tapi Han!!" Bob memegang tangan Hana sambil menatapnya dengan tatapan khawatir.
" Lepaskan aku Bob!!" teriak Hana lagi, dia menatap pria itu dengan tegas.
" Han... ada apa, kamu bisa cerita, jangan begini!!!" ucap Brian yang tak ingin temannya hancur sendirian.
" Nggak, nggak ada yang bisa diceritakan, awas, tak usah pedulikan aku, urus saja urusan kalian!!?" kesal gadis itu sambil mencampakkan tangan Bob. Dia beranjak dari kelas dan pergi keluar sekolah sendirian sambil menangis sesenggukan.
Brian dan Bob terdiam dengan wajah pias, Perubahan perilaku pada Hana membuat mereka takut, bayang-bayang sifat Kiel yang juga berubah drastis masih jelas tergambar di kepala mereka.
"Bob, dia.. dia seperti Kiel, bagaimana ini aku.. aku takut!" ucap Brian yang menunduk dengan wajah sedih.
" Tenanglah, kita ke rumahnya nanti," ucap Bob sambil menepuk bahu pria itu.
Sementara itu Hana keluar dari sekolah, dia berjalan menuju parkiran mengambil mobilnya sendiri, saat akan keluar dari lingkungan sekolah dia berpapasan dengan seorang pria berkacamata yang terus menatapnya dengan tatapan aneh.
Hana berjalan sambil melirik ke kanan dan kiri, ada yang aneh dengan tatapan orang itu. Dia adalah salah satu guru di sekolah itu tetapi tak pernah masuk ke kelas mereka. Seorang guru IPA yang terkenal suka bereksperimen.
Hana terus berjalan, dia mengepalkan kedua tangannya, rasanya gugup, tatapan mata dan cara guru laki-laki yang tampak masih muda itu membuat Hana gugup dan merinding, seolah dia sedang berhadapan dengan seekor monster besar yang siap untuk menerkam dirinya.
Mereka melangkah dengan irama yang sama, saat Hana memperlambat langkahnya pria itu juga melakukan yang sama, saat Hana melihat ke bawah pria itu tetap menatap dirinya, orang aneh yang membuat Hana ketakutan dengan tingkahnya.
" Mau kemana!?" suara basnya yang besar dan gerakan jakunnya yang jelas membuat Hana terkejut sampai dia berhenti di tempat.
" Pulang!!! saya mau pulang!!!" jawabnya kasar sambil mengepalkan kedua tangannya lalu berlari dari sana menuju parkiran dengan wajah pucat ketakutan.
Tak disangka pria itu malah mengejarnya. Hana terkejut saat melihat guru IPA tersebut malah ikut berlari di belakangnya dan berusaha untuk meraih gadis itu.
" A..apa-apaan dia, kenapa mengikuti ku!!!" batin Hana, hampir dia berteriak ketakutan karena tingkah aneh guru IPA yang mengejar dirinya.
Pria itu terus mengejar Hana, semakin cepat dia berlari semakin kencang pula Hana berlari, gadis itu langsung membuka tas mengeluarkan kuncinya dengan gugup dan tangan gemetaran, tangannya membuka pintu dengan cepat dan masuk ke dalam mobil itu .
Brakk... Brakk... Brakkkk....
Kaca mobil Hana dipukul-pukul oleh pria itu, Hana berteriak ketakutan, tubuhnya gemetar dan dia menangis histeris. Tangannya meraih ponselnya, dia terlalu takut melajukan mobilnya belum lagi melihat tatapan menyeramkan dari pria yang menggila di dekat mobil nya itu.
Hana menghubungi Bob, bendahara sekaligus teman dekatnya di kelas. Sambil menangis Hana mencari nomor Bob.
" Ayolah hiks... hiks hiks .. bagaimana ini!!!!" Suara gadis itu tercekat, Bob belum menerima panggilan darinya.
" Bob... angkat!!!" Hana menangis sesenggukan diiringi dengan semakin kuat pukulan di kaca mobilnya. Tak ada siapa siapa disana sehingga Hana tak bisa meminta bantuan.
" Bob... jawab tolong aku ..." gadis itu menangis lagi.
Tiba-tiba...
Bughhh....
Suara pukulan di luar mobil terdengar, wajah seseorang sepertinya baru saja dihajar oleh seseorang. Pukulan yang cukup kuat bahkan sampai terdengar ke telinga Hana.
Hana memberanikan diri untuk menoleh, dengan mata berkaca-kaca dia melirik kaca spion.
Dia mencoba melawan, namun dia kalah kuat sampai akhirnya dia memilih kabur dan berlari ke dalam sekolah.
" Sial!!" umpat pria itu. Dia menatap Guru IPA yang berlari ketakutan ke dalam sekolah, sesuatu terjatuh dari kantongnya.
Pria yang menghajarnya adalah Jack, orang kepercayaan Atha yang sudah baru tiba di sekolah dan melihat Guru IPA itu mengejar seorang siswa.
Jack mengambil benda persegi yang terbuat dari bahan plastik. dia menatap benda itu.
" Pengaman!??" mata Jack terbelalak, seorang guru membawa pengaman ke sekolah!? untuk apa!??
Jack menatap sekolah itu, dia tak habis pikir dengan guru yang tadi. Lalu apa tujuannya mengejar Hana?
Dia mendekati mobil Hana, mengetuk pintunya dengan pelan agar Hana tidak ketakutan.
Melihat Jack datang, meskipun takut Hana bersyukur pria yang pernah dia lihat mengantar Atha ke sekolah itu membantunya.
Hana membuka pintu, dia terlihat pucat dan syok. Sambil menangis gadis muda itu menatap Jack.
" Anda baik-baik saja nona?" tanya Jack dengan lembut.
Hana menggelengkan kepalanya sambil menangis sesenggukan, dia malah memeluk Jack dan menumpahkan air matanya disana.
Jack yang tak pernah sekalipun berada di posisi sedekat itu dengan perempuan tentu saja terkejut bahkan kedua tangannya sampai terangkat ke atas dengan wajah panik. Seorang anak sekolah memeluk om-om berjambang, apa yang akan orang pikirkan tentang pria itu nanti.
Namun Jack masih punya hati, gadis kecil itu sama seperti nona mudanya, dia membiarkan Hana memeluknya dengan eratselama beberapa saat.
" Nona ekhmm.... se.. sebaiknya anda lepas, orang-orang melihat kita, nanti saya dikira pedofil!!" ucap Jack dengan nada gugup, dia pria yang tidak tau menangani perempuan tetapi hebat masalah pertarungan.
" Ya ampun kenapa harus dipeluk sih?? kalau nona muda melihat habis aku diledek!!!' batin Jack seraya melirik ke kanan kiri. Orang-orang juga mulai memperhatikan mereka.
Hana melepaskan pelukannya, dia masih menangis," Maaf tu..tuan saya ketakutan tadi... " ucap Hana sambil menunduk dan menyeka air matanya dengan tangan.
" Apa anda mengenalnya?" tanya Jack.
Hana mengangguk,"dia Pak Bima, guru IPA di sekolah," jawab Hana sambil sesenggukan.
Tak tega melihat Hana menangis, Jack memberikan sapu tangannya.
" Seka air mata mu, tenanglah, kenapa Anda keluar di jam pelajaran?" " tanya Jack.
Hana menerima sapu tangan itu," Saya mau pulang, sekolah terlalu menakutkan," jawabnya singkat.
"Anda teman sekelas nona Atha bukan? dimana dia sekarang?" tanya Jack.
" saya teman sekelasnya tuan, tapi Atha tadi kena pukul," jelas Hana pelan.
" Apa!!!!" mata Jack membulat sempurna, taringnya keluar saat mendengar nona mudanya terkena pukulan.
" Sialan, siapa yang berani melakukan itu!!!!" geram Jack dengan wajah memerah.
" Tunjukkan pada saya orangnya!!" ucap Jack dengan menggebu-gebu, spontan dia menarik Hana masuk ke dalam sekolah itu.
" Ta..tapi sa..saya mau pulang " ucap Hana.
" Nanti saya Antar, tunjukkan dulu siapa yang pukul!!!" paksa Jack sambil menarik lengan Hana dan melangkah dengan cepat.
" Tu..tuan..... saya... ahh sudahlah...
.
.
.
like, vote dan komen 🤗